Bangsa Israel Memulai Perjalanan
Setelah tulah ke-10 terjadi, raja Mesir Dan rakyat Mesir mendesak bangsa Israel untuk segera meninggalkan Mesir. Mereka takut akan semakin banyak bencana dari Tuhan bila bangsa Israel terus ada di negeri mereka.
Sesuai perintah Musa, sebelum berangkat bangsa Israel meminta perhiasan emas, perak, dan pakaian dari orang-orang Mesir tetangga mereka.
Tuhan membuat rakyat Mesir mau memberikan segala sesuatu yang diminta oleh bangsa Israel dengan rela hati. Dengan cara demikian, bangsa Israel membawa keluar harta kekayaan orang Mesir.
Bangsa Israel keluar dari Mesir setelah 430 tahun lamanya tinggal di Mesir.
Jumlah laki-laki dewasa yang berangkat sekitar 600.000 orang, belum terhitung perempuan dan anak-anak. Ada juga orang-orang yang bukan keturunan Israel ikut serta. Dan ada juga kawanan hewan ternak yang sangat banyak.
Musa membawa juga tulang-tulang Yusuf, leluhur bangsa Israel, sesuai janji bangsa Israel dahulu pada Yusuf.
Dalam perjalanan bangsa Israel, Tuhan selalu bergerak di depan mereka untuk menuntun perjalanan mereka. Pada siang hari, Tuhan menuntun mereka dalam bentuk tiang awan, dan pada malam hari dalam bentuk tiang api yang menerangi mereka. Dengan begitu, mereka dapat melakukan perjalanan baik siang maupun malam dengan mengikuti tiang awan dan tiang api itu.
Tuhan tidak menuntun mereka melalui jalur utama yang melintasi negeri orang Filistin, sekalipun jalur utama itu lebih dekat untuk sampai ke Kanaan. Tuhan tidak ingin bangsa Israel menjadi takut dan ingin kembali ke Mesir kalau diserang musuh di jalur itu.
Jadi Tuhan membawa bangsa Israel melalui jalan memutar melintasi padang belantara menuju Laut Merah.
Perjalanan bangsa Israel dimulai dari Ramses di Mesir, lalu mereka ke Sukot. Setelah meninggalkan Sukot, mereka berkemah di Etam, di tepi padang belantara.
Kemudian TUHAN berkata kepada Musa, “Perintahkanlah umat Israel untuk kembali dan berkemah di tepi laut di Pi Hahirot, yang terletak di antara kota Migdol dan Laut Merah, berhadapan dengan Baal Zefon.
Nanti raja Mesir akan berubah pikiran Dan berusaha mengejar kalian. Saat itu Aku akan mengalahkan raja Mesir beserta seluruh pasukannya, dan semua orang akan melihat kemuliaan-Ku, Dan bahwa Akulah Tuhan.” Maka bangsa Israel berkemah di sana sesuai perintah Tuhan.
Bangsa Israel Menyeberangi Laut
Sewaktu raja Mesir diberitahu bahwa bangsa Israel sudah melarikan diri, raja dan para pejabatnya berubah pikiran lalu berkata, “Mengapa kita membiarkan bangsa Israel pergi?! Sekarang kita jadi kehilangan budak!”
Raja Mesir pun menyuruh supaya 600 kereta perang disiapkan, juga para tentara yang akan ikut bersamanya.
Seluruh pasukan Mesir, termasuk semua pasukan berkuda, kereta, dan pengendaranya, cepat-cepat mengejar umat Israel, dan mereka berhasil menyusul sampai perkemahan Israel di dekat Pi Hahirot, di depan Baal Zefon yang berada di tepi Laut Merah atau yang disebut juga Laut Teberau.
Ketika bangsa Israel melihat raja Mesir dan pasukannya mendekat, mereka sangat ketakutan dan berseru minta tolong kepada Tuhan.
Bangsa Israel juga marah kepada Musa. Kata mereka, “Kamu sudah membuat kami celaka dengan membawa kami keluar dari Mesir! Bukankah dulu kami pernah berkata, ‘Lebih baik hidup sebagai budak orang Mesir daripada mati di padang belantara!’”
Tetapi Musa menjawab mereka, “Jangan takut! Berdirilah teguh dan lihatlah yang akan Tuhan lakukan hari ini untuk menyelamatkan kita! Tuhan yang akan berperang bagi kita, dan kita tidak perlu melakukan apa-apa.”
Tuhan berkata kepada Musa, “Perintahkanlah bangsa Israel untuk berjalan maju! Angkatlah tongkatmu dan arahkanlah ke atas laut. Laut itu akan terbelah agar umat Israel bisa berjalan menyeberanginya di atas tanah kering. Pasukan Mesir akan mengejar bangsa Israel ke tengah laut, dan Aku akan mengalahkan raja Mesir beserta seluruh pasukannya, supaya orang Mesir dan bangsa Israel melihat kemuliaan-Ku.”
Kemudian malaikat dan tiang awan yang sebelumnya berjalan di depan bangsa Israel berpindah ke belakang mereka, memisahkan perkemahan bangsa Israel dan pasukan Mesir. Menjelang malam, tiang itu membawa kegelapan di sisi pasukan Mesir, tapi tetap menerangi bangsa Israel. Dengan demikian, pasukan Mesir tidak dapat mendekati bangsa Israel sepanjang malam itu.
Lalu Musa mengarahkan tongkatnya ke atas laut. Maka Tuhan membuat angin timur bertiup sangat kencang sepanjang malam sehingga air laut terbelah dua dan dasar laut menjadi kering. Bangsa Israel berjalan di atas tanah yang kering menyeberangi laut, sementara sisi kiri dan kanan mereka dipagari oleh dinding air.
Tetapi seluruh pasukan Mesir, mengejar bangsa Israel hingga ke tengah laut. Menjelang matahari terbit, Tuhan yang berada di dalam tiang api dan awan, membuat pasukan Mesir menjadi kacau. Tuhan membuat roda-roda kereta tentara Mesir macet sehingga mereka susah maju. Pasukan Mesir panik Dan berkata, “Mari kita lari dari sini! Tuhan bangsa Israel sedang berperang melawan kita!”
Tuhan berkata kepada Musa, “Arahkanlah tongkatmu ke atas laut, supaya air laut berbalik dan menutupi semua pasukan Mesir.”
Maka menjelang pagi sesudah semua bangsa Israel menyeberang, Musa mengarahkan tongkatnya ke atas laut, dan air laut menyatu kembali seperti semula. Pasukan Mesir berusaha melarikan diri, tetapi Tuhan menenggelamkan mereka di tengah laut. Air laut tiba-tiba berbalik dan menutupi semua pasukan berkuda, pengendara kereta, bahkan semua pasukan raja Mesir yang mengejar umat Israel ke tengah laut. Tidak ada seorang pun yang selamat.
Pada hari itu, Tuhan menyelamatkan bangsa Israel dari pasukan Mesir, dan orang Israel melihat tentara-tentara Mesir yang sudah mati terdampar di pantai.
Ketika bangsa Israel melihat betapa besarnya kuasa Tuhan, mereka jadi takut kepada Tuhan dan kepada Musa.
Musa dan bangsa Israel menyanyikan puji-pujian kepada Tuhan. Miryam kakak Musa juga memimpin perempuan bangsa Israel menyanyi dan menari dengan rebana, untuk memuji kebesaran Tuhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar