Sabtu, 24 Januari 2026

[22] Bangsa Israel Belajar Beribadah Kepada Allah (Keluaran 18-31, Ulangan 5)

Yitro mengunjungi Musa

Pada waktu Musa masih berurusan dengan raja Mesir untuk membebaskan bangsa Israel, Musa menyuruh orang mengantar Zipora, istri Musa, juga Gersom dan Eliezer, kedua anak Musa, untuk kembali tinggal pada Yitro, ayah Zipora, seorang imam di Midian. 

Setelah beberapa waktu lamanya, Yitro mendengar kabar bagaimana Allah Israel membawa keluar bangsa Israel dari Mesir.

Maka saat bangsa Israel berkemah di dekat kaki gunung Sinai, datanglah Yitro kepada Musa mengantarkan istri dan kedua anak Musa.

Musa menyambut kedatangan Yitro, ayah mertuanya, dan mereka bercakap-cakap di dalam kemah Musa.

Yitro senang mendengar cerita Musa tentang perbuatan Allah, dan dia memuji kehebatan Allah Israel. Bahkan Yitro juga mempersembahkan korban pada Allah Israel.

Keesokan harinya, Yitro mengamati Musa yang menerima orang-orang Israel yang mengadukan masalah dan minta perkara mereka diadili. Hal itu dilakukan Musa dari pagi sampai sore. 

Yitro pun berkata pada Musa, "Cara ini tidak baik. Kamu dan bangsa Israel akan terlalu lelah.

Dengarkan nasihatku: Jadilah perantara antara Allah dengan bangsa Israel dan ajarilah mereka semua perintah Allah.

Tetapi pilihlah orang-orang yang cakap, takut akan Allah, jujur, dan baik. Tempatkanlah mereka sebagai pemimpin. Serahkan pada mereka masalah-masalah biasa. Masalah yang berat barulah dibawa kepadamu. Ini akan meringankan pekerjaanmu."

Musa mengikuti nasihat mertuanya itu. Maka Musa memilih orang-orang yang cakap dari seluruh Israel, lalu mengangkat mereka menjadi pemimpin atas bangsa itu, yakni pemimpin-pemimpin kelompok.

Merekalah yang kemudian mengadili perkara-perkara bangsa Israel, hanya perkara-perkara sulit yang mereka bawa kepada Musa.

Sesudah itu, Yitro, mertua Musa pulang kembali ke negerinya.

Tuhan Menampakkan Diri di Gunung Sinai

Pada bulan ketiga, bangsa Israel akhirnya tiba di Gunung Sinai, dan mereka berkemah di kaki gunung itu.

Musa menyampaikan pesan Tuhan pada bangsa Israel, "Kalian sudah melihat bagaimana aku membawa kalian keluar dari Mesir. Seluruh bumi adalah milik-Ku, tapi jika kalian taat Dan berpegang pada Firman-Ku maka kalian akan menjadi milik-Ku yang paling berharga di antara semua bangsa, yaitu kerajaan imam, dan bangsa yang kudus."

Mendengar itu, bangsa Israel menjawab, "Segala yang difirmankan Tuhan akan kami lakukan" dan Musa menyampaikan jawaban itu kepada Tuhan.

Lalu Tuhan berfirman bahwa dua hari lagi Tuhan akan menampakkan diri di gunung Sinai. Bangsa Israel harus menguduskan diri mulai hari ini dan besok. Musa juga harus memasang batas supaya tidak ada yang melewati batas dan menyentuh gunung itu. Tuhan akan berbicara pada Musa di depan orang Israel supaya mereka percaya pada Musa.

Ketika tiba hari kedatangan Tuhan, di gunung Sinai ada guruh dan kilat yang dahsyat serta awan tebal dan bunyi sangkakala yang kencang. Bangsa Israel gemetar ketakutan.

Musa membawa bangsa Israel keluar perkemahan menjumpai Tuhan Allah di kaki gunung Sinai.

Seluruh gunung Sinai ditutupi oleh asap, karena Tuhan turun ke atasnya dalam bentuk api. Sementara bunyi sangkakala bertambah nyaring, Musa berseru kepada Allah, dan Allah menjawabnya dengan suara gemuruh.

Lalu Tuhan turun ke puncak gunung Sinai dan memanggil Musa untuk naik ke sana. Di atas gunung Tuhan berkata, “Turunlah dan ajak Harun naik bersamamu, tapi peringatkan umat Israel supaya mereka tidak melewati pembatas, supaya mereka tidak mati.”

Musa turun dan menyampaikan peringatan itu pada bangsa Israel, lalu kembali naik untuk menerima perintah dan peraturan yang akan diberikan Tuhan kepada bangsa Israel.




Sabtu, 06 Desember 2025

[21] Bangsa Israel di Padang Gurun (Keluaran 15-17)

Bangsa Israel di Mara dan Elim

Setelah Menyeberangi Laut Teberau, Musa memimpin bangsa Israel menuju padang gurun Syur. Bangsa Israel berjalan selama tiga hari di padang gurun itu tanpa menemukan air. 

Akhirnya di suatu tempat, mereka menemukan air, tetapi air di sana tidak bisa diminum karena rasanya pahit. Itulah sebabnya tempat itu dinamai ‘Mara’, yang artinya ‘pahit’.

Maka bangsa Israel mengeluh kepada Musa dan berkata, “Apa yang akan kita minum?!”

Musa berseru kepada TUHAN, dan TUHAN menunjukkan kepada Musa sebatang kayu. 

Musa melemparkan kayu itu ke air, lalu air itu berubah menjadi air tawar sehingga dapat diminum.

Di tempat itu, Tuhan memberikan ketetapan yaitu: jika bangsa Israel taat pada Tuhan dengan sungguh-sungguh, Tuhan tidak akan membuat bangsa Israel tertimpa penyakit yang diberikan Tuhan kepada orang Mesir.

Sesudah itu, bangsa Israel melanjutkan perjalanan dan tiba mereka di Elim. Di Elim terdapat dua belas mata air dan tujuh puluh pohon kurma. 

Bangsa Israel pun berkemah di dekat mata air itu.

TUHAN Menyediakan Manna dan Burung Puyuh

Kemudian bangsa Israel meninggalkan Elim. Satu bulan sejak keluar dari Mesir, tibalah bangsa Israel di padang gurun Sin yang terletak di antara Elim dan gunung Sinai.

Di padang gurun itu, bangsa Israel merasa kelaparan sehingga mereka mengeluh pada Musa dan Harun. Kata mereka, “Lebih baik waktu itu kami mati di Mesir daripada mati kelaparan di padang gurun! Di Mesir kami masih bisa makan roti dan daging!”

Maka Tuhan berkata kepada Musa, “Aku akan memberi kalian makanan dari surga.”

Lalu Musa dan Harun memanggil seluruh bangsa Israel untuk datang pada Tuhan, kata mereka, “Nanti saat matahari terbenam, kamu akan tahu bahwa Tuhanlah yang sudah membawa kita keluar dari Mesir. Dan besok pagi, kamu akan melihat kemuliaan Tuhan.”

Tiba-tiba dari arah padang gurun tampaklah kepada bangsa Israel kemuliaan Tuhan di dalam awan.

Tuhan berbicara kepada Musa, “Katakanlah kepada bangsa Israel, ‘Sewaktu matahari terbenam, kamu semua akan makan daging, dan pada waktu pagi kamu akan kenyang makan roti. Dengan demikian, kamu akan tahu bahwa Akulah Tuhan, Allahmu.’”

Sore itu juga, burung puyuh berdatangan begitu banyaknya sehingga bangsa Israel kenyang makan daging burung puyuh.

Pada pagi harinya, tampaklah di permukaan tanah sesuatu yang tipis dan halus mirip tetesan embun beku.

Melihat itu, bangsa Israel bertanya, “Apa ini?”

Kata Musa, “Inilah makanan yang Tuhan berikan kepada kita. Tuhan memerintahkan agar kalian masing-masing mengumpulkan sebanyak yang dibutuhkan, yaitu 1 gomer (3,6 liter) untuk setiap anggota keluarga setiap hari. Tidak boleh ada yang menyimpan makanan ini sampai besok. Kecuali pada hari keenam, makanan ini akan bisa dimakan sampai besoknya yaitu hari Sabat.”

Setiap hari, bangsa Israel mengumpulkan makanan itu. Meskipun ada yang mengambil banyak dan ada yang sedikit, ketika diukur dengan gomer makanan itu selalu cukup.

Namun, beberapa di antara mereka tidak taat kepada Musa. Mereka menyisakan sebagian makanan itu sampai pagi besoknya. Ternyata sisa makanan itu menjadi berulat dan berbau busuk. Musa pun memarahi orang-orang yang tidak taat.

Pada hari yang keenam, bangsa Israel mengumpulkan makanan itu dua kali lipat lebih banyak daripada kebutuhan mereka satu hari.
Para pemimpin lalu datang kepada Musa untuk melaporkannya.

Jawab Musa, “Inilah perintah Tuhan: Besok adalah hari Sabat, hari yang dikhususkan sebagai hari untuk beristirahat untuk menghormati Tuhan. Masaklah sebanyak yang kamu inginkan, makanlah sebagian pada hari ini, dan simpanlah sebagian lainnya yang untuk dimakan besok. Pada hari Sabat makanan itu tidak akan kamu temukan di padang.”

Maka mereka menyimpan sisa makanan itu sesuai perintah Musa. Keesokan harinya, pada hari Sabat, makanan yang mereka simpan itu tidak busuk dan tidak berulat dan bisa dimakan.

Beberapa orang keluar untuk mengumpulkan makanan itu di hari Sabat, tetapi tidak menemukannya. Tuhan marah pada orang-orang itu, dan sejak hari itu bangsa Israel tidak bekerja pada hari Sabat.

Bangsa Israel menamai makanan itu manna. Bentuknya seperti biji ketumbar, kecil, warnanya putih, dan rasanya seperti kue madu.

Musa menyampaikan perintah Tuhan untuk menyimpan 1 gomer manna dalam kendi untuk menjadi peringatan kepada bangsa Israel turun temurun, dan Harun melakukan hal yang diperintahkan itu.

Sejak saat itu, bangsa Israel makan manna selama empat puluh tahun sampai mereka tiba di Kanaan.

Bangsa Israel di Masa dan Meriba

Kemudian bangsa Israel melanjutkan perjalanan dari padang gurun Sin, lalu berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain sesuai dengan perintah Tuhan. Bangsa Israel tiba di Rafidim dan berkemah di sana, tetapi di tempat itu tidak ada air untuk diminum.

Maka bangsa Israel menuntut Musa dengan berkata, “Berikan kami air minum!” Jawab Musa, “Mengapa kalian menuntut aku dan mencobai Tuhan?!”

Bangsa Israel yang kehausan terus mengeluh kepada Musa dan berkata, “Apakah engkau membawa kami keluar dari Mesir supaya kami, anak-anak kami, dan ternak kami mati kehausan?!”

Lalu Musa berseru kepada TUHAN, “Apa yang harus aku lakukan untuk menghadapi orang-orang ini? Sebentar lagi mereka akan melempari aku dengan batu!”

Kata Tuhan kepada Musa, “Berjalanlah mendahului umat itu dan ajaklah bersamamu beberapa tua-tua Israel. Bawalah juga tongkat yang kamu pakai untuk memukul sungai Nil.

Aku akan berdiri di depanmu di sana, di atas sebuah batu di gunung Sinai. Pukullah batu itu, dan air akan keluar dari dalamnya sehingga bangsa Israel bisa minum.” Maka Musa melakukan hal itu di depan mata para tua-tua Israel.

Musa menamai tempat itu Masa dan Meriba, karena di sana umat Israel bersungut-sungut dan mencobai TUHAN dengan bertanya, “Apakah Tuhan bersama dengan kita atau tidak?”

Bangsa Israel Berperang dengan Bangsa Amalek

Ketika bangsa Israel masih di Rafidim, bangsa Amalek datang menyerang bangsa Israel.

Lalu Musa berkata kepada Yosua, “Pilihlah beberapa orang dari bangsa kita dan keluarlah berperang melawan bangsa Amalek. Besok aku akan berdiri di puncak bukit dengan membawa tongkatku.”

Yosua pun melakukan perintah Musa. Yosua memimpin prajurit pilihan bangsa Israel berperang melawan bangsa Amalek. Sementara itu, Musa, Harun, dan Hur naik ke puncak bukit.

Ketika Musa mengangkat tongkat Allah dengan kedua tangannya, bangsa Israel di peperangan menjadi lebih kuat daripada bangsa Amalek. Tetapi ketika Musa menurunkan tangannya, bangsa Amalek jadi lebih kuat daripada bangsa Israel.

Setelah beberapa waktu, lama-lama tangan Musa menjadi lelah karena terus terangkat memegang tongkat. Melihat Musa yang sudah tidak kuat, maka Harun dan Hur mengambil sebuah batu untuk Musa duduk. Harun dan Hur pun menopang kedua tangan Musa, sehingga tangan Musa bisa tetap terangkat sampai matahari terbenam.

Dengan demikian, Yosua mengalahkan bangsa Amalek dalam perang itu.

Lalu TUHAN berkata kepada Musa, “Tuliskanlah pesan ini dalam sebuah kitab supaya tetap diingat, dan bacakanlah kepada Yosua: Tuhan akan memusnahkan bangsa Amalek dari muka bumi sampai mereka tidak diingat lagi.”

Kemudian Musa mendirikan sebuah mezbah dan menamainya “Tuhan, panji kemenanganku.”

Jumat, 21 November 2025

[20] Bangsa Israel Keluar dari Mesir (Keluaran 12-15)

Bangsa Israel Memulai Perjalanan

Setelah tulah ke-10 terjadi, raja Mesir Dan rakyat Mesir mendesak bangsa Israel untuk segera meninggalkan Mesir. Mereka takut akan semakin banyak bencana dari Tuhan bila bangsa Israel terus ada di negeri mereka.

Sesuai perintah Musa, sebelum berangkat bangsa Israel meminta perhiasan emas, perak, dan pakaian dari orang-orang Mesir tetangga mereka.

Tuhan membuat rakyat Mesir mau memberikan segala sesuatu yang diminta oleh bangsa Israel dengan rela hati. Dengan cara demikian, bangsa Israel membawa keluar harta kekayaan orang Mesir.

Bangsa Israel keluar dari Mesir setelah 430 tahun lamanya tinggal di Mesir.

Jumlah laki-laki dewasa yang berangkat sekitar 600.000 orang, belum terhitung perempuan dan anak-anak. Ada juga orang-orang yang bukan keturunan Israel ikut serta. Dan ada juga kawanan hewan ternak yang sangat banyak.

Musa membawa juga tulang-tulang Yusuf, leluhur bangsa Israel, sesuai janji bangsa Israel dahulu pada Yusuf.

Dalam perjalanan bangsa Israel, Tuhan selalu bergerak di depan mereka untuk menuntun perjalanan mereka. Pada siang hari, Tuhan menuntun mereka dalam bentuk tiang awan, dan pada malam hari dalam bentuk tiang api yang menerangi mereka. Dengan begitu, mereka dapat melakukan perjalanan baik siang maupun malam dengan mengikuti tiang awan dan tiang api itu.

Tuhan tidak menuntun mereka melalui jalur utama yang melintasi negeri orang Filistin, sekalipun jalur utama itu lebih dekat untuk sampai ke Kanaan. Tuhan tidak ingin bangsa Israel menjadi takut dan ingin kembali ke Mesir kalau diserang musuh di jalur itu.

Jadi Tuhan membawa bangsa Israel melalui jalan memutar melintasi padang belantara menuju Laut Merah.

Perjalanan bangsa Israel dimulai dari Ramses di Mesir, lalu mereka ke Sukot. Setelah meninggalkan Sukot, mereka berkemah di Etam, di tepi padang belantara. 

Kemudian TUHAN berkata kepada Musa, “Perintahkanlah umat Israel untuk kembali dan berkemah di tepi laut di Pi Hahirot, yang terletak di antara kota Migdol dan Laut Merah, berhadapan dengan Baal Zefon.

Nanti raja Mesir akan berubah pikiran Dan berusaha mengejar kalian. Saat itu Aku akan mengalahkan raja Mesir beserta seluruh pasukannya, dan semua orang akan melihat kemuliaan-Ku, Dan bahwa Akulah Tuhan.” Maka bangsa Israel berkemah di sana sesuai perintah Tuhan.


Bangsa Israel Menyeberangi Laut

Sewaktu raja Mesir diberitahu bahwa bangsa Israel sudah melarikan diri, raja dan para pejabatnya berubah pikiran lalu berkata, “Mengapa kita membiarkan bangsa Israel pergi?! Sekarang kita jadi kehilangan budak!” 

Raja Mesir pun menyuruh supaya 600 kereta perang disiapkan, juga para tentara yang akan ikut bersamanya.

Seluruh pasukan Mesir, termasuk semua pasukan berkuda, kereta, dan pengendaranya, cepat-cepat mengejar umat Israel, dan mereka berhasil menyusul sampai perkemahan Israel di dekat Pi Hahirot, di depan Baal Zefon yang berada di tepi Laut Merah atau yang disebut juga Laut Teberau.

Ketika bangsa Israel melihat raja Mesir dan pasukannya mendekat, mereka sangat ketakutan dan berseru minta tolong kepada Tuhan.

Bangsa Israel juga marah kepada Musa. Kata mereka, “Kamu sudah membuat kami celaka dengan membawa kami keluar dari Mesir! Bukankah dulu kami pernah berkata, ‘Lebih baik hidup sebagai budak orang Mesir daripada mati di padang belantara!’”

Tetapi Musa menjawab mereka, “Jangan takut! Berdirilah teguh dan lihatlah yang akan Tuhan lakukan hari ini untuk menyelamatkan kita! Tuhan yang akan berperang bagi kita, dan kita tidak perlu melakukan apa-apa.”

Tuhan berkata kepada Musa, “Perintahkanlah bangsa Israel untuk berjalan maju! Angkatlah tongkatmu dan arahkanlah ke atas laut. Laut itu akan terbelah agar umat Israel bisa berjalan menyeberanginya di atas tanah kering. Pasukan Mesir akan mengejar bangsa Israel ke tengah laut, dan Aku akan mengalahkan raja Mesir beserta seluruh pasukannya, supaya orang Mesir dan bangsa Israel melihat kemuliaan-Ku.”

Kemudian malaikat dan tiang awan yang sebelumnya berjalan di depan bangsa Israel berpindah ke belakang mereka, memisahkan perkemahan bangsa Israel dan pasukan Mesir. Menjelang malam, tiang itu membawa kegelapan di sisi pasukan Mesir, tapi tetap menerangi bangsa Israel. Dengan demikian, pasukan Mesir tidak dapat mendekati bangsa Israel sepanjang malam itu.

Lalu Musa mengarahkan tongkatnya ke atas laut. Maka Tuhan membuat angin timur bertiup sangat kencang sepanjang malam sehingga air laut terbelah dua dan dasar laut menjadi kering. Bangsa Israel berjalan di atas tanah yang kering menyeberangi laut, sementara sisi kiri dan kanan mereka dipagari oleh dinding air. 

Tetapi seluruh pasukan Mesir, mengejar bangsa Israel hingga ke tengah laut. Menjelang matahari terbit, Tuhan yang berada di dalam tiang api dan awan, membuat pasukan Mesir menjadi kacau. Tuhan membuat roda-roda kereta tentara Mesir macet sehingga mereka susah maju. Pasukan Mesir panik Dan berkata, “Mari kita lari dari sini! Tuhan bangsa Israel sedang berperang melawan kita!”

Tuhan berkata kepada Musa, “Arahkanlah tongkatmu ke atas laut, supaya air laut berbalik dan menutupi semua pasukan Mesir.” 

Maka menjelang pagi sesudah semua bangsa Israel menyeberang, Musa mengarahkan tongkatnya ke atas laut, dan air laut menyatu kembali seperti semula. Pasukan Mesir berusaha melarikan diri, tetapi Tuhan menenggelamkan mereka di tengah laut. Air laut tiba-tiba berbalik dan menutupi semua pasukan berkuda, pengendara kereta, bahkan semua pasukan raja Mesir yang mengejar umat Israel ke tengah laut. Tidak ada seorang pun yang selamat.

Pada hari itu, Tuhan menyelamatkan bangsa Israel dari pasukan Mesir, dan orang Israel melihat tentara-tentara Mesir yang sudah mati terdampar di pantai.

Ketika bangsa Israel melihat betapa besarnya kuasa Tuhan, mereka jadi takut kepada Tuhan dan kepada Musa.

Musa dan bangsa Israel menyanyikan puji-pujian kepada Tuhan. Miryam kakak Musa juga memimpin perempuan bangsa Israel menyanyi dan menari dengan rebana, untuk memuji kebesaran Tuhan.

Sabtu, 15 November 2025

[20] Bangsa Israel Keluar dari Tanah Mesir (Keluaran 13-15)

Bangsa Israel Keluar dari Mesir

Setelah tulah kesepuluh terjadi, rakyat Mesir mendesak umat Israel untuk segera meninggalkan negeri itu. 

Sesuai perintah Musa sebelumnya, bangsa Israel meminta perhiasan emas, perak, dan pakaian dari orang Mesir tetangga mereka. Tuhan membuat rakyat Mesir bermurah hati terhadap umat Israel, dan mereka memberikan harta benda mereka, apapun yang diminta oleh orang Israel. 

Hari itu, setelah 430 tahun bangsa Israel tinggal di Mesir, akhirnya mereka meninggalkan negeri itu.

Jumlah laki-laki dewasa sekitar 600.000 orang, belum termasuk perempuan dan anak-anak.

Sejumlah besar orang yang bukan keturunan Israel juga ikut serta. Dan ada kawanan ternak yang sangat banyak.

Musa membawa tulang-tulang Yusuf bersamanya, karena Yusuf sudah meminta umat Israel berjanji, “Allah pasti akan datang menolong kalian. Pada waktu itu, kalian harus membawa tulangku keluar dari Mesir.”

Kemudian umat Israel berjalan dari Rameses ke Sukot. 

Tuhan selalu bergerak di depan bangsa Israel untuk menuntun perjalanan mereka. Pada siang hari, Tuhan menuntun mereka dalam bentuk tiang awan, dan pada malam hari dalam bentuk tiang api yang menerangi mereka. Dengan begitu, mereka dapat melakukan perjalanan baik siang maupun malam dengan mengikuti tiang awan dan tiang api itu.

Tuhan tidak menuntun mereka melalui jalan utama yang melintasi negeri orang Filistin, sekalipun jaraknya lebih dekat. Allah berkata, “Seandainya mereka pergi melalui jalan itu dan diserang musuh, bisa-bisa mereka berubah pikiran dan kembali ke Mesir.”

Jadi, Tuhan membawa mereka melalui jalan yang lebih jauh dengan melintasi padang belantara menuju Laut Merah. Umat Israel keluar dari Mesir dalam keadaan siap berperang.

Setelah meninggalkan Sukot, mereka berkemah di Etam, di tepi padang belantara.

Sabtu, 04 Oktober 2025

[19] Sepuluh Tulah (Keluaran 7-13)

Part 1
Firaun Tetap Berkeras Hati

Meskipun Firaun sudah menolak permintaan izin bangsa Israel untuk pergi dari Mesir, Tuhan tetap mengutus Musa dan Harun kepada Firaun, Raja Mesir. 

Allah berkata, "Katakan kepada raja Mesir untuk membiarkan umat Israel keluar dari negerinya.

Tetapi raja Mesir tetap tidak akan mendengarkanmu. 

Maka Aku akan menjatuhkan hukuman berat kepada bangsa Mesir, dan sesudah itu Aku akan membawa umat-Ku keluar dari Mesir." 

Lalu Musa dan Harun pergi lagi menghadap Firaun. Sebelumnya, Tuhan sudah berpesan pada Musa dan Harun untuk mengadakan mujizat di hadapan Firaun. 

Musa dan Harun pun menghadap Firaun dan melakukan sesuai dengan yang diperintahkan TUHAN. Harun melemparkan tongkatnya di hadapan Firaun dan para pejabatnya, lalu tongkat itu berubah menjadi ular.

Tetapi raja Mesir memanggil orang-orang pintar serta para ahli sihir untuk menghadap, dan mereka juga bisa membuat tongkat berubah menjadi ular. 

Namun tiba-tiba, ular dari tongkat Harun menelan semua ular para ahli sihir yang dipanggil Firaun. 

Meski sudah melihat mujizat itu, Firaun tetap mengeraskan hatinya. Ia tidak mengizinkan bangsa Israel pergi dari Mesir, dan hal ini sesuai dengan apa sudah dikatakan TUHAN pada Musa.

Part 2
Tulah ke-1: Air Menjadi Darah

Kemudian TUHAN menyuruh Musa kembali kepada Firaun, raja Mesir, karena Tuhan akan mulai mendatangkan tulah kepada negeri Mesir. Tulah adalah bencana yang terjadi karena ketidaktaatan, yaitu karena Firaun masih tidak mau mengizinkan bangsa Israel pergi sesuai perintah Tuhan. 

Musa dan Harun datang besok paginya ketika waktu biasanya Firaun sedang di tepi sungai Nil. 

Musa berkata, “TUHAN sudah mengutus aku untuk menyampaikan kepadamu, agar bangsa Israel dibiarkan pergi beribadah pada Tuhan. Tapi kamu tidak mau mendengarkan. Jadi lihatlah! Aku akan memukul permukaan air sungai Nil dengan tongkat, dan airnya akan berubah menjadi darah.”

Di depan mata raja Mesir dan para pejabatnya, Harun mengangkat tongkatnya dan memukul air sungai Nil, maka semua air itu berubah menjadi darah. Maka matilah ikan-ikan di sungai Nil sehingga airnya berbau busuk dan orang Mesir tidak dapat meminumnya.

Di seluruh Mesir ada darah, termasuk di aliran air, kolam-kolam, dan tempat-tempat menyimpan air dari kayu dan batu. 

Namun, para ahli sihir Mesir dengan keahlian mereka juga bisa mengubah air menjadi darah. 

Karena itu raja Mesir tetap mengeraskan hatinya dan tidak mau mendengarkan Musa dan Harun, seperti yang sudah dikatakan TUHAN.

Raja pulang ke istananya tanpa menghiraukan bencana yang sudah terjadi.

Sementara itu, seluruh rakyat Mesir menggali-gali lubang di sepanjang sungai Nil untuk mencari air yang bisa diminum, karena mereka tidak dapat meminum air sungai itu.

Part 3
Tulah ke-2: Katak

Tujuh hari berlalu setelah Tuhan mengubah air di sungai Nil menjadi darah. Kemudian Tuhan menyuruh Musa kembali menghadap Firaun, raja Mesir.

Karena raja Mesir masih menolak membiarkan bangsa Israel pergi, Tuhan menyuruh Musa menyampaikan kepada Harun untuk mengulurkan tongkatnya ke atas sungai-sungai, aliran air, dan kolam, sehingga katak yang sangat banyak jumlahnya bermunculan memenuhi seluruh negeri Mesir.

Harun melakukan apa yang diperintahkan Tuhan, sehingga katak-katak bermunculan dan memenuhi seluruh negeri Mesir.

Tetapi, para ahli sihir Mesir juga bisa melakukan hal yang sama dengan keahlian mereka.

Maka raja Mesir memanggil Musa dan Harun dan berkata, “Mintalah kepada Tuhanmu itu untuk menghilangkan katak-katak ini, maka kalian akan aku izinkan pergi.”

Musa berjanji bahwa ia akan berdoa agar esok harinya, katak-katak itu sudah akan menyingkir dari Mesir.
Musa berdoa pada Tuhan, dan Tuhan mendengarkan doa Musa. Semua katak yang ada di Mesir pun mati.

Tulah ke-3: Nyamuk

Ketika raja Mesir melihat negeri mereka sudah bebas dari katak, ia kembali mengeraskan hati dan menolak membiarkan bangsa Israel pergi.

Tuhan memberi perintah pada Harun melalui Musa, “Angkatlah tongkatmu dan pukulkan ke tanah, maka debu akan berubah menjadi nyamuk yang memenuhi seluruh negeri Mesir.”

Maka Harun mengulurkan tongkat yang ada di tangannya dan memukulkannya ke tanah yang berdebu, maka semua debu di seluruh Mesir berubah menjadi nyamuk lalu menghinggapi semua orang dan binatang.

Para ahli sihir Mesir berusaha dengan seluruh kemampuan mereka untuk melakukan hal yang sama, tetapi mereka tidak dapat membuat nyamuk dari debu.

Para ahli sihir itu berkata kepada raja, “Ini pasti perbuatan Allahnya Musa dan Harun!” 

Namun, seperti yang sudah TUHAN katakan sebelumnya, raja tetap bersikeras dan tidak mau membebaskan bangsa Israel.

Part 4
Tulah ke-4: Lalat

Maka Tuhan menyuruh lagi Musa menghadap Firaun, raja Mesir pagi-pagi ketika raja sedang turun ke sungai.

Karena raja Mesir tetap tidak mau membiarkan bangsa Israel pergi, Tuhan mengirimkan kerumunan lalat ke semua tempat di negeri Mesir. Semua rumah bahkan permukaan tanah di Mesir dipenuhi dengan lalat. Hanya satu tempat yang tidak ada lalat yaitu tanah Gosyen tempat tinggal bangsa Israel.

Maka raja Mesir memanggil Musa dan Harun lalu berkata, “Kalian boleh mempersembahkan korban bagi Allah kalian, tetapi di sini, di Mesir saja.”

Jawab Musa, “Tidak bisa, karena memberikan persembahan korban bagi Allah kami dipandang menjijikkan di mata orang Mesir. Apabila orang Mesir melihatnya, mereka pasti akan melempari kami dengan batu. Karena itu kami harus  pergi ke padang gurun sejauh tiga hari perjalanan untuk melakukannya.”

Raja pun menjawab, “Kalau begitu kalian boleh pergi ke padang gurun, tetapi jangan pergi terlalu jauh.”

Lalu Musa berkata, “Baik. Sekarang aku akan berdoa kepada TUHAN agar besok kerumunan lalat ini menghilang.”

Tuhan mendengarkan doa Musa dan menghilangkan kerumunan lalat dari negeri Mesir.

Tulah ke-5: Penyakit Sampar pada Hewan Ternak

Setelah negeri Mesir bebas dari lalat, raja Mesir kembali mengeraskan hatinya dan tidak memperbolehkan bangsa Israel pergi.

Tuhan kembali menyuruh Musa untuk menyampaikan pada raja Mesir, bahwa karena ia tidak membiarkan bangsa Israel pergi, Tuhan akan mendatangkan penyakit sampar pada ternak orang Mesir. 

Keesokan harinya, TUHAN menepati perkataan-Nya itu. Semua ternak milik orang Mesir mati, tetapi ternak orang Israel tidak ada yang mati. 

Meskipun begitu, Raja Mesir tetap tidak membiarkan bangsa Israel pergi. 

Tulah ke-6: Penyakit Barah

Lalu TUHAN berkata kepada Musa dan Harun, “Lemparkan abu ke udara di hadapan raja Mesir. Abu yang menyebar akan menyebabkan penyakit barah, yaitu bisul-bisul bernanah pada manusia dan hewan di seluruh Mesir.

Musa dan Harun melakukan perintah Tuhan, maka semua orang dan binatang di Mesir menderita bisul-bisul bernanah di kulit mereka, bahkan ahli sihir Mesir tidak sanggup berdiri di hadapan Musa karena penyakit itu. 

Meskipun begitu, raja Mesir tetap tidak mengizinkan bangsa Israel pergi dari negerinya. 

Part 5
Tulah ke-7: Hujan Es

Musa kembali menghadap Firaun, Raja Mesir, sesuai perintah Tuhan. Musa berkata, “Karena engkau masih sombong dan tidak membiarkan umat Tuhan pergi, besok Tuhan akan menurunkan hujan es yang sangat dahsyat.  Karena itu, orang dan hewan ternak kalian harus berlindung supaya tidak mati tertimpa hujan es dari langit!’”

Mendengar itu, ada orang Mesir yang takut pada perkataan Tuhan dan bersiap untuk berlindung, tapi ada juga yang tidak peduli.

Maka Tuhan menyuruh Musa mengarahkan tangannya ke langit, dan Tuhan menurunkan hujan es di seluruh tanah Mesir disertai petir yang menyambar-nyambar ke tanah. Hanya di Gosyen, tempat tinggal umat Israel, yang tidak terkena hujan es.

Lalu raja memanggil Musa dan Harun dan berkata, “Aku mengaku bersalah. Berdoalah supaya hujan es ini berhenti, dan bangsa kalian boleh pergi.

Musa pergi dari tempat raja Mesir lalu ia mengangkat tangan kepada Tuhan, sehingga petir dan hujan es itu berhenti.

Tulah ke-8: Belalang

Melihat hujan es berhenti, raja Mesir kembali melarang umat Israel pergi.

Tuhan menyuruh Musa dan Harun lagi pada raja Mesir dan berkata bahwa Tuhan akan mendatangkan belalang ke seluruh negeri Mesir karena raja Mesir yang tidak mau tunduk pada perintah Tuhan. 

Mendengar itu, para pejabat Mesir mulai membujuk raja untuk membiarkan bangsa Israel pergi agar negeri Mesir tidak semakin hancur. 

Raja Mesir pun bertanya pada Musa dan Harun, “Siapa saja yang akan pergi?”

Jawab Musa, “Kami akan pergi membawa semua orang dan semua hewan ternak kami.”

Tetapi kata raja Mesir, “Tidak bisa! Hanya para laki-laki yang boleh pergi!” 

Setelah itu Musa dan Harun diusir dari hadapan raja.

Karena raja Mesir menolak, maka Musa mengulurkan tongkatnya ke atas tanah Mesir. Datanglah angin timur bertiup dan membawa belalang yang sangat banyak.

Belalang-belalang menutupi seluruh permukaan tanah negeri Mesir, dan memakan habis semua tanaman dan buah-buahan pada pohon-pohon yang masih tersisa dari hujan es.

Melihat hal itu, raja Mesir segera memanggil Musa dan Harun dan meminta Musa menghilangkan belalang itu. Musa pergi dan berdoa sehingga angin barat bertiup membawa pergi semua belalang dari Mesir.

Tulah ke-9: Gelap Gulita

Tapi setelah itu, lagi-lagi Raja Mesir melarang umat Israel pergi dari Mesir.

Lalu Tuhan menyuruh Musa mengangkat tangannya ke langit.

Maka gelap gulita menyelimuti seluruh Mesir selama tiga hari.

Rakyat Mesir tidak dapat melihat satu sama lain dan tidak dapat pergi kemana-mana selama tiga hari. Tetapi di Gosyen, daerah umat Israel tinggal, tidak terjadi kegelapan seperti itu.

Raja Mesir memanggil Musa dan berkata, “Pergilah beribadah pada Tuhanmu. Perempuan-perempuan dan anak-anak kalian boleh ikut, tetapi semua hewan ternak kalian harus ditinggalkan di sini.”

Jawab Musa, “Engkau harus membiarkan kami membawa hewan ternak, karena hewan itu diperlukan sebagai korban bakaran kepada Tuhan.”

Raja pun menjadi marah dan berkata kepada Musa, “Pergi! Aku tidak mau bertemu denganmu lagi!”

Jawab Musa, “Baiklah! Memang kita tidak akan bertemu lagi!”

Part 6

Tulah ke-10: Kematian Anak Sulung

Tuhan kembali berbicara kepada Musa, “Masih ada satu tulah lagi yang akan Aku datangkan pada negeri Mesir. Sesudah itu, raja Mesir akan membiarkan kalian pergi.”

Kemudian Musa menghadap raja Mesir dan berkata, “Tengah malam nanti, Tuhan akan mengelilingi seluruh negeri Mesir. Maka setiap anak sulung, yaitu anak pertama di tiap keluarga, di negeri Mesir akan mati, baik manusia maupun hewan. Semua orang Mesir akan menangis dengan keras. Tetapi bangsa Israel akan tetap aman.

Maka kalian sendiri yang nanti memohon kepadaku, supaya aku membawa bangsa Israel pergi dari Mesir.” Setelah berkata begitu, dengan sangat marah Musa meninggalkan raja.

Tetapi raja Mesir tidak mempedulikan peringatan Musa, sesuai perkataan Tuhan sebelumnya.

Melalui Musa, Tuhan juga menyampaikan ketetapan tentang perayaan Paskah, yang harus disiapkan ketika bangsa Israel keluar dari Mesir:

Tiap keluarga orang Israel harus menyembelih anak kambing atau anak domba, lalu darahnya dioleskan pada kedua tiang pintu dan ambang atas pintu rumah mereka.

Lalu daging kambing atau domba itu harus dipanggang dan dimakan dengan roti tidak beragi dan sayur pahit, sebagai makanan perjamuan Paskah.

Pada malam itu, bangsa Israel harus sudah siap dengan pakaian untuk pergi jauh dan memakan jamuan Paskah itu dengan buru-buru.

Maka Tuhan akan berkeliling ke seluruh Mesir dan membuat semua anak sulung mati.

Tetapi rumah yang pintunya diolesi darah domba akan dilewati dan anak sulungnya akan selamat.

Bangsa Israel melakukan tepat seperti perintah Tuhan yang dikatakan Musa.

Maka benar saja, pada tengah malam Tuhan membuat semua anak sulung di Mesir mati, baik manusia maupun hewan ternak. Di setiap rumah ada suara tangisan yang keras karena kehilangan anak sulung. Tetapi di rumah orang Israel yang sudah ditandai dengan darah domba, tidak ada yang mati.

Malam itu juga, akhirnya raja Mesir mengizinkan bangsa Israel pergi. Ia memanggil Musa dan Harun lalu berkata, “Pergi! Bawalah semua orang dan hewan ternak bangsa Israel untuk menyembah Tuhan kalian, seperti yang kalian minta!”

Untuk memperingati hari kebebasan bangsa Israel dari Mesir, Tuhan Allah menetapkan bahwa bangsa Israel harus memperingati hari raya Paskah dengan mengulang perjamuan makan yang sama dan mengadakan acara ibadah setiap tahunnya, sampai pada anak cucu mereka.

Tuhan juga menetapkan: setiap anak sulung baik manusia maupun hewan, harus diserahkan kepada Tuhan. Hewan ternak harus dipersembahkan sebagai korban, tetapi manusia harus diganti dengan tebusan yang dipersembahkan pada Tuhan.

Sabtu, 23 Agustus 2025

[18] Musa Diutus Oleh Allah (Keluaran 1-6)

Bangsa Israel Ditindas di Mesir

Bangsa Israel adalah keturunan dari Yakub. Keluarga Yakub pindah ke Mesir karena diajak oleh Yusuf, anak Yakub. Yusuf adalah penguasa Mesir yang sudah berjasa menyelamatkan Mesir dari bencana kelaparan. 

Bangsa Israel beranak cucu dan jumlah mereka bertambah banyak, sehingga mereka sangat kuat dan tersebar di seluruh Mesir.

Beberapa generasi setelah Yusuf dan anak-anak Yakub meninggal, seorang raja baru yang tidak tahu apa-apa tentang jasa-jasa Yusuf mulai berkuasa atas seluruh Mesir.

Raja itu merasa takut bangsa Israel yang bertambah banyak akan mengalahkan bangsa Mesir. Maka ia memerintahkan agar bangsa Israel ditindas dengan kerja paksa.

Para mandor dan kepala budak ditempatkan untuk mengawasi bangsa Israel membangun kota Pitom dan kota Rameses, yang akan dijadikan sebagai pusat penyimpanan hasil panen dan harta benda raja Mesir. 

Namun, semakin ditindas, jumlah bangsa Israel malah semakin bertambah dan semakin menyebar ke seluruh negeri itu. Hal itu membuat bangsa Mesir semakin takut kepada mereka. 

Orang Mesir membuat hidup orang Israel semakin menderita: mereka dipaksa membuat batu bata, bekerja di ladang, dan melakukan segala macam pekerjaan yang sangat berat.

Raja Mesir juga sudah berusaha agar bayi laki-laki bangsa Israel yang baru lahir tidak dibiarkan hidup oleh para bidan, tetapi tidak berhasil. Oleh sebab itu, raja Mesir mengeluarkan perintah yang sangat kejam kepada seluruh rakyatnya. Ia berkata, “Setiap anak laki-laki yang lahir dari orang Israel harus dibuang ke sungai Nil, tetapi bayi perempuan boleh dibiarkan hidup.”


Bayi Musa Diselamatkan

Raja Mesir ketakutan melihat bangsa Israel yang semakin berkembang di Mesir. Karena meskipun sudah disiksa, jumlah mereka terus bertambah banyak. 

Oleh sebab itu, raja Mesir mengeluarkan perintah yang sangat kejam kepada seluruh rakyatnya. Ia berkata, “Setiap anak laki-laki yang lahir dari orang Israel harus dibuang ke sungai Nil, tetapi bayi perempuan boleh dibiarkan hidup.”

Ada suami istri Israel dari suku Lewi bernama Amram dan Yokhebed.

Pada waktu raja Mesir sudah memberikan perintah tadi, Yokhebed melahirkan bayi laki-laki. Karena bayinya tampan, Yokhebed ibunya menyembunyikan bayi itu selama tiga bulan. 

Ketika bayinya semakin besar, ia tidak bisa disembunyikan lebih lama lagi. 

Yokhebed mengambil sebuah keranjang, lalu melapisinya dengan ter dan getah tanaman supaya bisa terapung. Kemudian dia membaringkan bayinya di dalam keranjang itu dan menyembunyikannya di antara alang-alang air yang tinggi di tepi sungai Nil. Miryam, kakak perempuan bayi itu, mengawasi adik bayinya dari kejauhan.

Lalu datanglah putri raja untuk mandi di sungai Nil, sementara para pelayan perempuannya berjalan-jalan di tepian sungai. 

Putri raja melihat keranjang tadi di antara alang-alang air yang tinggi. Dia menyuruh salah satu pelayannya untuk mengambil keranjang itu. Ketika Putri raja membukanya, dia melihat bayi itu sedang menangis. Putri raja merasa kasihan terhadapnya dan berkata, “Pastilah ini bayi orang Israel.”

Kakak bayi itu yang sudah mengawasi dari jauh langsung mendekati putri raja dan bertanya, “Bolehkah saya mencarikan perempuan Israel yang dapat membantu Putri menyusui dan mengasuh bayi ini?”

Jawab putri raja, “Baiklah.” Maka kakak bayi itu pergi dan memanggil Yokhebed, ibu mereka.

Putri raja berkata kepada ibu itu, “Tolong bawa bayi ini, rawat dan susui dia. Aku akan membayar kamu untuk itu.” Jadi sang ibu membawa bayinya, lalu merawat dan menyusui dia.

Ketika masa menyusui anak itu selesai, ibunya membawa dia kembali kepada putri raja. Lalu putri raja mengangkat anak itu menjadi anaknya sendiri dan menamai dia Musa, karena katanya, “Aku sudah mengangkatnya dari air.”


Musa Melarikan Diri ke Midian

Musa adalah seorang anak bangsa Israel yang sudah diangkat menjadi anak putri Raja Mesir.

Pada suatu hari, ketika Musa sudah dewasa, dia pergi keluar dan melihat bangsa Israel yang sedang dianiaya dengan kerja paksa.

Tiba-tiba Musa melihat seorang Mesir sedang memukuli seorang Israel, saudara sebangsanya.

Diam-diam, Musa menyerang orang Mesir itu sehingga meninggal, lalu Musa menyembunyikan hal itu.

Keesokan harinya, Musa keluar lagi dan ketika ia menegur seorang Israel, orang Israel itu balas menegur Musa karena tahu bahwa Musa pernah membuat seorang Mesir mati.

Musa menjadi takut karena ia tahu bahwa semua orang sudah tahu perbuatannya. Bahkan raja Mesir mengeluarkan perintah untuk menangkap Musa.

Oleh karena itu, Musa segera melarikan diri ke Midian.

Di Midian, ada seorang imam bernama Rehuel yang punya tujuh anak perempuan. Waktu Musa sedang duduk dekat sumur, ketujuh anak perempuan Rehuel datang menimba air untuk hewan ternak mereka. Tiba-tiba beberapa gembala datang dan mengusir anak-anak Rehuel, tetapi Musa menolong mereka.

Anak-anak perempuan Rehuel menceritakan tentang Musa pada Rehuel, lalu Rehuel mengajak Musa untuk tinggal bersama mereka. Lalu Musa menikah dengan Zipora, salah satu anak perempuan Rehuel. Musa dan Zipora memiliki anak yang diberi nama Gersom, karena Musa berkata, "Aku telah menjadi pendatang di negeri asing."

Musa dipanggil oleh Allah

Meskipun Mesir sudah digantikan raja yang baru, bangsa Israel masih tetap ditindas sebagai budak oleh bangsa Mesir. Menghadapi penderitaan yang berat, bangsa Israel pun berseru kepada Allah.

Allah memulai rencana-Nya menolong bangsa Israel dengan memanggil Musa. Hari itu, Musa sedang menggembalakan kambing domba milik mertuanya sampai ke gunung Sinai, yang juga disebut ‘gunung Allah’.

Tiba-tiba Musa melihat ada nyala api di tengah-tengah semak.

Musa merasa heran, “Mengapa ada api tapi semak itu tidak terbakar?”

Ketika Musa mendekati semak itu, Allah berkata, “Musa, Musa!” 

Musa menjawab, “Ya, ini aku!”

Allah berkata, “Jangan mendekat! Lepaskan alas kakimu, karena tanah yang kamu injak itu suci.

Akulah Allah yang disembah oleh ayahmu, dan yang disembah oleh nenek moyangmu Abraham, Ishak, dan Yakub.” 

Musa menyembunyikan wajahnya karena takut melihat Allah.

Kata Allah kepada Musa, “Aku sudah melihat kesengsaraan umat-Ku di Mesir. Karena itu, Aku akan memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir menuju ke tanah yang baik, yaitu tanah Kanaan.

Sekarang, Aku mengutus kamu menghadap raja Mesir untuk membawa bangsa Israel keluar dari Mesir.”

Tetapi jawab Musa kepada Allah, “Tuhan, Aku ini bukan siapa-siapa! Bagaimana mungkin aku bisa melakukan itu?”

Jawab Allah, “Jangan takut, Aku akan menyertaimu. Setelah kamu membawa umat-Ku keluar dari Mesir, kalian akan menyembah-Ku di gunung ini.”

Musa menjawab, “Kalau bangsa Israel bertanya: siapa nama Allah yang mengutus aku, aku harus menjawab apa?”

Kata Allah kepada Musa, “Aku adalah Aku. Katakan pada bangsa Israel bahwa TUHAN, Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub, Allah nenek moyang bangsa Israel, yang sudah mengutus kamu.”

Allah menyuruh Musa, “Pergilah kepada Firaun Raja Mesir dan mintalah izin agar bangsa Israel pergi ke padang gurun tiga hari perjalanan jauhnya untuk mempersembahkan korban pada Allah. Tetapi Raja Mesir tidak akan membiarkan kalian begitu saja. Aku akan memakai kuasa-Ku untuk melakukan perbuatan ajaib, sesudah itu dia akan membiarkan kalian pergi.”

Allah Meneguhkan Panggilan Musa

Di gunung Sinai, Allah menampakkan diri kepada Musa sebagai nyala api di semak. Allah memanggil Musa untuk membawa bangsa Israel keluar dari Mesir dan menuju tanah Kanaan.

Tetapi Musa masih ragu menerima panggilan Allah. Musa berkata, “Bagaimana kalau umat Israel tidak percaya kepadaku?”

Kata Allah kepada Musa, “Apa yang ada di tanganmu?” Jawab Musa, “Tongkat.”

Lalu Allah berkata, “Lemparkanlah tongkat itu ke tanah.” Maka Musa melemparkan tongkatnya ke tanah, dan seketika tongkat itu berubah menjadi seekor ular. Musa pun lari menjauh.

Allah berkata kepada Musa, “Ulurkanlah tanganmu dan peganglah ekornya.” Musa mengulurkan tangannya dan menangkap ekor ular itu, lalu ular itu berubah kembali menjadi tongkat.

Allah berkata lagi kepada Musa, “Masukkanlah tanganmu ke dalam jubahmu.” Maka Musa memasukkan tangannya ke dalam jubahnya, dan ketika dia mengeluarkan tangannya, tampaklah tangannya terkena penyakit kusta.

Lalu Allah berkata lagi, “Masukkan kembali tanganmu ke dalam jubahmu.” Maka Musa pun memasukkan lagi tangannya ke dalam jubahnya, dan ketika dia mengeluarkan tangannya, tampaklah tangannya sudah pulih seperti semula.

Allah berkata, “Lakukanlah itu di depan bangsa Israel maka mereka akan percaya. Apabila mereka tidak mempercayai dua mujizat itu juga, ambillah air dari sungai Nil dan tumpahkanlah ke tanah. Air itu akan berubah menjadi darah.”

Tetapi Musa berkata, “Ya Allah, sejak dulu sampai sekarang aku ini tidak pandai berbicara.”

Kemudian Allah berkata, “Bukankah Aku yang menciptakan mulut dan membuat manusia bisa bicara? Pergilah sekarang! Aku akan menyertaimu ketika kamu berbicara.”

Tetapi Musa menjawab, “Ya Allah, mohon utuslah orang lain saja.”

Maka Allah menjadi marah kepada Musa dan berkata, “Harun kakakmu, adalah orang yang pandai berbicara. Kamu akan menyampaikan apa yang harus dia katakan, dan dia akan berbicara untukmu. Aku akan menolong kalian berdua. Harun sedang dalam perjalanan untuk menemuimu. Bawalah tongkatmu ini untuk melakukan mujizat.”

Maka Musa berpamitan kepada mertuanya, Rehuel yang disebut juga Yitro, untuk kembali ke Mesir. Musa berangkat membawa istri dan anak-anaknya di atas keledai. Musa juga membawa tongkatnya sesuai perintah Allah.

Allah juga berkata kepada Harun untuk pergi menemui Musa. Harun pergi menemui Musa di gunung Allah, lalu dia memeluk adiknya itu. Musa memberitahu Harun tentang segala perintah Allah kepada mereka.

Sesampainya di Mesir, Musa dan Harun mengumpulkan semua tua-tua umat Israel. Harun menyampaikan segala perkataan TUHAN, dan Musa melakukan mujizat-mujizat. Para tua-tua bangsa Israel pun percaya, dan mereka bersyukur kepada Allah.

Musa dan Harun menghadap raja Mesir

Ketika Musa berumur 80 tahun dan Harun berumur 83 tahun, mereka menghadap Firaun, raja Mesir untuk berbicara kepadanya. 

Kata Musa dan Harun, “TUHAN Allah Israel memberi perintah, ‘Biarkanlah umat-Ku pergi, agar mereka dapat mengadakan perayaan bagi-Ku di padang gurun.’

Sesuai perintah Tuhan itu, izinkanlah kami pergi ke padang gurun, tiga hari perjalanan jauhnya, untuk mempersembahkan korban bagi Tuhan Allah kami.”

Tetapi raja Mesir menjawab, “Siapakah ‘Tuhan’ itu sehingga aku harus mematuhi perintahnya? Aku tidak mengenal Dia, dan aku juga tidak membiarkan orang Israel pergi!

Bangsa Israel adalah budak, jumlah mereka sudah sangat banyak. Kalian tidak boleh membawa mereka pergi dan membuat mereka berhenti bekerja!”

Setelah itu Raja Mesir sengaja membuat penderitaan bangsa Israel tambah berat. 

Ia berkata kepada para mandor yang mengawasi pembangunan, “Para mandor, mulai sekarang, kalian tidak boleh memberikan jerami untuk membuat batu bata lagi kepada budak-budak itu. 

Budak-budak harus mencari jerami sendiri, tetapi jumlah batu bata yang mereka buat tidak boleh berkurang!

Para budak itu pemalas! Jadi, paksalah mereka bekerja lebih keras lagi!”

Semua mandor itu taat pada raja Mesir dan berkata kepada umat Israel, “Raja sudah menetapkan bahwa jerami untuk pembuatan batu bata tidak akan disediakan. Pergilah mencari jerami sendiri, tetapi kalian harus tetap menghasilkan batu bata sebanyak sebelumnya, tidak boleh berkurang sedikit pun!”

Jadi, bangsa Israel terpaksa menyebar untuk mencari jerami juga ke seluruh negeri Mesir, sehingga pekerjaan mereka bertambah lambat. 

Melihat itu, para mandor Mesir malah menekan dan memukuli mandor-mandor Israel, yang merupakan perwakilan pekerja Israel yang diberi tanggung jawab untuk mengawasi pekerjaan bangsanya.

Melihat bangsanya tidak mungkin memenuhi tuntutan raja Mesir, para mandor Israel menghadap raja Mesir dan memohon keringanan. 

Namun raja menjawab para mandor Israel, “Kalian memang pemalas! Karena itu kalian minta izin pergi mempersembahkan korban pada Tuhan kalian supaya kalian tidak bekerja!

Pergi dan kembalilah bekerja! Jerami tetap tidak akan disediakan untuk kalian!”

Sesudah pertemuan dengan raja Mesir, mandor-mandor Israel itu menemui Musa dan Harun yang sedang menunggu mereka keluar.

Kata mereka, “Gara-gara kalian, kami semakin dibenci oleh raja dan para pejabatnya, dan kami akan mati!”

Maka Musa kembali menghadap TUHAN dan berkata, “Ya Allah, mengapa Engkau menambah masalah kepada umat-Mu? Untuk apa Engkau mengutus aku?

Sejak aku menghadap raja, dia malah semakin keras menindas umat-Mu, dan Engkau tidak melakukan apa pun untuk menolong mereka!”

Lalu TUHAN berkata kepada Musa, “Sekarang kamu akan melihat apa yang akan Aku lakukan terhadap raja Mesir. Aku akan memaksanya untuk membiarkan umat-Ku pergi, dengan tangan yang kuat.

Akulah TUHAN. Aku sudah berjanji kepada Abraham, Ishak, dan Yakub untuk melepaskan keturunan mereka dari Mesir dan memberikan kepada keturunan mereka negeri Kanaan.”

Musa menyampaikan semua pesan itu kepada bangsa Israel, tetapi mereka tidak mau percaya, karena tertekan oleh perbudakan yang kejam. 

Kemudian TUHAN berkata kepada Musa, “Pergilah menghadap raja Mesir dan katakan kepadanya bahwa dia harus membiarkan umat Israel pergi dari negerinya.”

Musa menjawab, “Umat Israel saja tidak mendengarkan aku, apalagi raja Mesir!”

Meski demikian, TUHAN tetap mengutus Musa dan Harun kepada bangsa Israel dan kepada raja Mesir dengan perintah untuk memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir.


Sabtu, 26 Juli 2025

[17] Keluarga Israel Pindah ke Mesir (Kejadian 46-50, Keluaran 1)

Yakub dan Seluruh Keluarganya Berangkat ke Mesir

Maka Yakub memulai perjalanan dari rumahnya di Hebron, tanah Kanaan, ke Mesir. Ia membawa semua keluarga dan harta yang dia miliki. Semua anak dan cucu Yakub yang ikut bersamanya ke Mesir berjumlah 66 orang, belum termasuk menantu-menantunya yang perempuan.

Ketika Yakub sampai di Bersyeba, dia mempersembahkan korban kepada Allah. Di situ Allah berbicara kepada Yakub. 

Allah berkata, “Jangan takut untuk pergi ke Mesir. Di sana Aku akan membuat keturunanmu menjadi bangsa yang besar. Suatu hari nanti Aku juga akan membawa keturunanmu kembali ke Kanaan. Dan ketika kamu meninggal, Yusuf anakmu akan ada bersamamu.”

Dari Bersyeba Yakub melanjutkan perjalanan lagi menuju Mesir. Maka rombongan Yakub sampai di Mesir, di tanah Gosyen. Mengetahui ayahnya sudah sampai, Yusuf pergi dengan keretanya untuk menyambut Yakub ayahnya. Ketika Yusuf bertemu dengan Yakub, ayahnya, Yusuf memeluk Yakub dan menangis. Yakub berkata, “Sekarang aku bisa mati dengan tenang karena sudah melihat bahwa ternyata kamu masih hidup!”

Sesudah itu, Yusuf menyampaikan kepada Yakub dan keluarganya, “Sebentar lagi kalian akan menghadap Firaun raja Mesir. Kalau raja bertanya, ‘Apa pekerjaan kalian,’ kalian harus menjawab, ‘Kami menggembalakan hewan ternak.’ Dengan begitu, kalian akan diperbolehkan untuk tinggal di tanah Gosyen.”

Lalu Yusuf pergi menghadap raja Mesir dan melaporkan bahwa keluarganya sudah sampai di Gosyen. Firaun menyambut baik Yakub dan juga keluarganya. Ia juga mengizinkan Yakub dan keluarganya menggembalakan ternak di Gosyen.

Yusuf juga mengajak ayahnya menghadap raja, dan Yakub memberkati raja. Raja bertanya kepada Yakub, “Berapakah umurmu?”

Jawab Yakub, “Hambamu ini sudah menjalani hidup selama seratus tiga puluh tahun.”

Sebelum pamit, Yakub mengucapkan berkat perpisahan kepada raja.

Maka sejak saat itu Yakub, saudara-saudara Yusuf, dan keluarga besar mereka mulai menetap di tanah Gosyen di Mesir. Yusuf memberikan bahan makanan yang cukup untuk kebutuhan mereka. 

Yakub, ditambah dengan keturunannya yang bersama-sama berangkat ke Mesir, dan ditambah juga dengan Yusuf dan kedua anaknya yang sudah lebih dulu di Mesir, semuanya ada 70 orang. 


Yusuf Menghadapi Bencana Kelaparan di Mesir

Bencana kelaparan semakin memburuk. Di mana-mana tidak ada makanan, sehingga seluruh penduduk Mesir dan Kanaan menderita karena kelaparan.

Orang-orang Mesir dan Kanaan membeli bahan makanan dari Yusuf, dan uangnya menjadi pemasukan raja Mesir. Lama-lama semua uang milik warga Mesir dan Kanaan pun habis dipakai membeli makanan.

Orang-orang Mesir pun mendatangi Yusuf dan berkata, “Tuan, berilah kami makanan. Uang kami sudah habis. Apakah kami harus mati kelaparan?”

Yusuf menjawab, “Kalau kalian sudah tidak punya uang lagi, berikanlah hewan ternak kalian sebagai pembayaran.”

Maka rakyat membawa hewan ternak kepada Yusuf untuk ditukar dengan bahan makanan. Ada yang membawa kuda, keledai, sapi, kambing, ataupun domba. 

Pada tahun berikutnya, rakyat kembali menghadap Yusuf dan berkata, “Tuan, sekarang uang kami sudah habis, dan semua hewan ternak kami juga sudah habis dan menjadi milik Tuan. Hanya tanah kami yang bisa kami jual untuk membeli makanan. Biarlah tanah kami menjadi milik raja, tetapi tolong berikan kami juga benih untuk ditanam.”

Maka Yusuf membeli semua tanah milik rakyat Mesir. Semua ladang pun menjadi milik raja Mesir. Lalu seluruh rakyat dijadikan budak yang dipekerjakan di ladang-ladang itu. Yusuf berkata kepada rakyatnya, “Sekarang ladang kalian adalah milik raja, dan kalian adalah budak yang bekerja untuk raja. Kalian harus menanam benih-benih yang aku berikan. Pada waktu panen nanti, dua puluh persen hasil panen harus diberikan kepada raja. Yang delapan puluh persen menjadi bahan makanan untuk kalian dan menjadi benih untuk ditanam lagi.”

Rakyat merasa sangat tertolong atas tindakan Yusuf dan berkata, “Tuan, terima kasih sudah menyelamatkan nyawa kami!”


Yakub Memberikan Pesan Terakhir dan Meninggal Dunia

Keluarga Israel yang menetap di wilayah Gosyen hidup dengan baik.

Yakub tinggal di Mesir selama tujuh belas tahun, sampai umurnya mencapai 147 tahun.

Yakub tahu bahwa sudah dekat waktunya ia akan meninggal. 

Beberapa waktu kemudian, seseorang mengabarkan pada Yusuf, “Tuan, keadaan ayahmu semakin memburuk.” 

Maka Yusuf mengajak kedua anaknya, Manasye dan Efraim, untuk mengunjungi Yakub.

Ketika Yusuf sudah datang, Yakub bangkit untuk duduk di tempat tidurnya karena ia ingin memberkati anak-anak Yusuf. Yusuf mengatur posisi kedua anaknya seperti kebiasaan pada waktu itu: anak sulungnya Manasye dekat tangan kanan Yakub dan anak bungsunya Efraim dekat tangan kiri Yakub.

Namun, Yakub malah mengulurkan tangan kanannya ke kepala Efraim anak bungsu Yusuf, dan mengulurkan tangan kirinya kepada Manasye anak sulung Yusuf, lalu mulai memberkati mereka. 

Yusuf mengira Yakub tidak sengaja memberkati dengan tangan yang terbalik karena matanya sudah rabun.

Ketika Yusuf mau membalikkan lagi tangan Yakub, Yakub berkata, “Manasye kakaknya memang akan menjadi bangsa yang besar. Tetapi adiknya, Efraim akan menjadi bangsa yang lebih hebat.”

Yakub memanggil juga anak-anaknya untuk berkumpul lalu menyampaikan pesan, yaitu nubuat apa yang akan terjadi pada mereka di masa yang akan datang. Yakub juga memberkati mereka dengan berkat yang sesuai bagi mereka masing-masing.

Sesudah menyampaikan pesan-pesan terakhirnya, Yakub berbaring dan meninggal dunia.

Yusuf sangat sedih, ia menangis dan memeluk ayahnya. Yusuf memberi perintah agar tubuh Yakub diawetkan dengan rempah-rempah. 

Masa berkabung atas kematian Yakub adalah selama tujuh puluh hari. Setelah masa berkabung selesai, Yusuf meminta izin kepada raja untuk pergi menguburkan Yakub di Kanaan.

Yusuf pergi menguburkan Yakub, beserta semua pejabat kerajaan dan pasukan dari Mesir dan juga semua anggota keluarga besar Yakub.

Sesuai permintaan Yakub ketika ia masih hidup, tubuh Yakub dikuburkan di gua yang ada di Makpela, dekat Hebron di Kanaan, yaitu kuburan keluarga Abraham, Ishak, dan Yakub.


Bangsa Israel Berkembang di Negeri Mesir

Sesudah menguburkan Yakub, Yusuf beserta saudara-saudaranya dan seluruh rombongan itu kembali ke Mesir.

Karena Yakub sudah tidak ada, kakak-kakak Yusuf berpikir, “Bagaimana kalau Yusuf masih menyimpan dendam atas semua perbuatan jahat yang dulu kita lakukan kepadanya?” 

Maka kakak-kakak Yusuf sepakat untuk mengirim permohonan maaf kepada Yusuf. Maka menangislah Yusuf ketika menerima pesan itu. Saudara-saudaranya Yusuf juga datang langsung dan bersujud di hadapan Yusuf sambil berkata, “Kami ini adalah hambamu.”

Jawab Yusuf kepada saudara-saudaranya, “Jangan takut! Aku tidak berhak untuk menghakimi kalian karena aku bukan Allah. Dulu, kalian memang merencanakan hal yang jahat terhadapku. Tetapi sesungguhnya Allah memiliki rencana yang baik dalam kejadian itu, supaya banyak orang dapat diselamatkan, seperti yang sudah terjadi. Tidak ada yang perlu kalian takuti. Aku akan mencukupi kebutuhan kalian dan anak-anak kalian.” Demikianlah Yusuf menghibur  dan menenangkan hati saudara-saudaranya.

Awalnya, keluarga Yakub atau Israel yang ada di Mesir hanya ada tujuh puluh orang. Setelah lewat masa kelaparan, Yusuf, saudara-saudaranya, bersama keluarga besar mereka tetap tinggal di Mesir. Mereka beranak cucu bahkan Yusuf sempat melihat cucu dan cicitnya.

Ketika sudah dekat waktunya Yusuf akan meninggal, Yusuf berkata kepada saudara-saudaranya, “Sebentar lagi aku akan mati, tetapi Allah akan menyertai kalian dan Allah akan memimpin kalian keluar dari Mesir untuk kembali ke tanah yang sudah dijanjikan-Nya kepada Abraham, Ishak, dan Yakub. Jadi, ketika kalian keluar dari Mesir untuk kembali ke Kanaan, kalian harus membawa tulang-tulangku untuk dikuburkan di Kanaan.” 

Yusuf meninggal pada usia 110 tahun. Lalu jenazahnya diawetkan dan disimpan di Mesir dalam peti.

Setelah Yusuf, saudara-saudaranya, serta semua orang dari generasi mereka meninggal, keturunan Israel tetap hidup di tanah Gosyen selama ratusan tahun. Mereka terus beranak cucu dan jumlah mereka bertambah banyak. Mereka menjadi sebuah bangsa yang kuat dan tersebar di seluruh Mesir.

Jumat, 27 Juni 2025

[16] Yusuf Mengampuni Saudara-Saudaranya (Kejadian 42-45)

Kakak-kakak Yusuf Membeli Gandum ke Mesir

Setelah masa 7 tahun kelimpahan, tibalah masa 7 tahun kelaparan.

Ketika Yakub mendengar ada persediaan gandum di Mesir, dia menyuruh anak-anaknya membeli gandum di Mesir.

Tetapi Yakub tidak mengizinkan Benyamin, adik Yusuf, untuk ikut karena Yakub takut terjadi apa-apa pada Benyamin.

Maka kesepuluh anak Yakub berangkat bersama para pembeli gandum lainnya dari Kanaan ke Mesir.

Pada waktu itu, Yusuf adalah pejabat tertinggi di Mesir dan dialah yang berkuasa untuk menjual gandum kepada semua orang. Ketika Yusuf melihat kakak-kakaknya, Yusuf mengenali mereka. Tetapi kakak-kakak Yusuf tidak mengenali Yusuf karena penampilan Yusuf sudah berubah.

Kakak-kakak Yusuf datang dan bersujud untuk menghormati Yusuf. Tetapi Yusuf sengaja pura-pura tidak kenal pada mereka. 

Yusuf berkata, “Dari mana kalian?!” 

Kakak-kakak Yusuf menjawab, “Kami datang dari Kanaan hendak membeli gandum.”

Saat itu, Yusuf teringat pada mimpinya dulu tentang mereka. Lalu Yusuf berkata, “Kalian ini mata-mata musuh yang menyusup ke sini!”

Jawab kakak-kakak Yusuf, “Tidak, Tuan! Kami datang hanya untuk membeli bahan makanan!”

Karena Yusuf tetap menuduh mereka, kakak-kakak Yusuf menjelaskan asal usul mereka, “Kami ini kakak beradik dari satu ayah, semuanya ada dua belas laki-laki. Satu orang sudah tidak ada lagi, dan adik bungsu kami masih ada bersama ayah kami.”

Yusuf pun berkata, “Kalau perkataan kalian memang benar, kalian harus menjemput adik kalian yang bungsu dan membawanya ke sini."

Lalu Yusuf memasukkan kakak-kakaknya ke dalam penjara. Setelah tiga hari, Yusuf berkata kepada mereka, “Salah satu dari kalian tetap ditahan. Tetapi yang lainnya boleh pulang membawa gandum untuk keluarga kalian. Setelah itu, bawalah adik bungsu kalian kepadaku. Kalau cerita kalian benar, kalian tidak akan dihukum mati.” 

Kakak-kakak Yusuf pun setuju. Mereka berkata satu sama lain, “Sekarang Tuhan menghukum kita, kita mengalami semua ini karena kesalahan kita pada adik kita Yusuf.”

Kakak-kakak Yusuf tidak tahu bahwa Yusuf mengerti bahasa percakapan mereka. Mendengar semuanya itu, Yusuf memisahkan diri dan menangis. 

Yusuf memerintahkan agar satu orang yang ditahan di Mesir adalah Simeon. 

Karung-karung milik kakak-kakak Yusuf pun diisi gandum. Diam-diam Yusuf juga menyuruh pekerjanya agar memasukkan uang pembayaran gandum kembali ke dalam karung-karung mereka. Karung-karung itu dinaikkan ke atas punggung keledai-keledai yang dibawa kakak-kakak Yusuf, dan mereka pulang kembali ke Kanaan.

Setelah mereka sampai di rumah, kakak-kakak Yusuf menemukan semua uang pembayaran gandum ternyata sudah dikembalikan di dalam karung-karung mereka. Yakub dan kakak-kakak Yusuf pun menjadi takut dan gelisah.

Kakak-kakak Yusuf juga menceritakan kepada Yakub semua yang sudah terjadi. Mereka menjelaskan bahwa mereka dicurigai sebagai mata-mata musuh dan Simeon ditahan. Mereka harus membawa Benyamin ke Mesir agar Simeon dibebaskan.

Lalu berkatalah Yakub, “Apa kalian mau aku kehilangan semua anakku?! Yusuf sudah mati, Simeon tidak kembali, dan sekarang kalian akan mengambil Benyamin dariku!”

Ruben menjawab, “Aku akan bertanggung jawab penuh atas Benyamin. Kalau terjadi apa-apa pada Benyamin,  Ayah boleh menghukum kedua anak laki-lakiku!”

Tetapi saat itu Yakub tetap tidak mau mengizinkan Benyamin pergi.


Kakak-kakak Yusuf Kembali Lagi ke Mesir

Bencana kelaparan semakin parah di negeri Kanaan. Maka lama-lama persediaan makanan Yakub dan keluarganya habis juga. Yakub kembali menyuruh anak-anaknya pergi ke Mesir membeli bahan makanan.

Tetapi Yehuda berkata, “Kalau Ayah mengizinkan Benyamin ikut, kami akan segera berangkat untuk membeli gandum.”

Kata Yakub, “Mengapa kalian memberitahu penguasa Mesir itu bahwa kalian masih punya adik?”

Jawab mereka, “Orang itu menanyai kami mengenai siapa kami sebenarnya. Kami tidak menyangka kalau dia akan menyuruh kami membawa Benyamin!”

Yehuda pun berkata, “Izinkanlah Benyamin. Jika Benyamin tidak pulang dengan selamat, biar aku yang menanggung kesalahan seumur hidupku. Kalau kita tidak pergi, kita semua akan mati kelaparan.”

Akhirnya Yakub mengizinkan mereka, “Kalau begitu bawalah hadiah terbaik untuk penguasa Mesir itu. Bawalah juga uang dua kali lipat pengganti uang yang kemarin tertinggal di karung kalian. Semoga Allah membuat penguasa Mesir itu berbelas kasihan pada kalian.”

Maka mereka berangkat bersama Benyamin ke Mesir. Setibanya di sana, mereka datang menghadap Yusuf.

Ketika Yusuf melihat Benyamin mereka, dia segera menyuruh kepala pengurus rumahnya, “Bawalah orang-orang ini ke rumahku. Siang ini mereka akan makan bersamaku.”

Tetapi kakak-kakaknya ketakutan saat dibawa ke rumah Yusuf. Mereka mengira mereka berbuat salah dan meminta maaf atas uang pembayaran gandum yang sebelumnya tertinggal. 

Tetapi kepala pengurus rumah itu menenangkan saudara-saudara Yusuf, ia juga membebaskan Simeon dan melayani saudara-saudara Yusuf dengan baik. 

Ketika Yusuf pulang, kakak-kakak Yusuf menyerahkan hadiah yang mereka bawa lalu bersujud untuk menghormati Yusuf.

Ketika Yusuf melihat Benyamin, dia berkata, “Inikah adik yang pernah kalian ceritakan?”

Yusuf berkata pada Benyamin, “Semoga Allah memberkatimu.”

Tetapi Yusuf tidak dapat menahan perasaan sayang dan rindu kepada adiknya. Jadi dia cepat-cepat masuk ke kamarnya dan menangis.

Sesudah mencuci muka, Yusuf pun keluar dan menyuruh agar makan siang dihidangkan.

Para pelayan Yusuf sudah menyediakan meja makan untuk Yusuf, untuk orang-orang Mesir, juga meja untuk saudara-saudara Yusuf. Tempat duduk saudara-saudara Yusuf sudah diatur menurut urutan kelahiran, mulai dari yang tertua sampai yang termuda, sehingga saudara-saudara Yusuf heran bagaimana caranya orang Mesir tahu urutan kelahiran keluarga mereka.

Lalu makanan dari meja Yusuf disajikan kepada saudara-saudara Yusuf. Tetapi Benyamin mendapat lima kali lebih banyak. Yusuf dan saudara-saudaranya bersukaria bersama menikmati makan dan minum.


Yusuf Mengungkap Siapa Dirinya kepada Saudara-saudaranya

Sesudah makan, Yusuf menyuruh pengurus rumahnya untuk mengisi karung saudara-saudaranya dengan gandum, juga mengembalikan uang pembayaran ke dalam karung.

Khusus untuk karung milik Benyamin, Yusuf menyuruh dimasukkan juga cawan perak milik Yusuf. 

Keesokan harinya, waktu masih subuh, saudara-saudara Yusuf berangkat dengan keledai mereka.

Tetapi baru saja mereka keluar dari kota itu, Yusuf berkata kepada kepala pengurus rumahnya untuk mengejar saudara-saudaranya, dan menuduh mereka mencuri cawan peraknya.

Kepala pengurus rumah itu pun mengejar mereka, lalu berkata sesuai perintah Yusuf, “Tuan kami sudah sangat baik kepada kalian, tetapi kalian malah mencuri cawan peraknya!”

Tetapi jawab saudara-saudara Yusuf kepadanya, “Hamba-hambamu ini tidak mungkin melakukan hal jahat seperti itu! Bila Tuan menemukan benda itu di dalam salah satu karung kami, biarlah pemilik karung itu dihukum mati dan kami yang lain dijadikan budak Tuan.”

Kepala pengurus rumah Yusuf berkata, “Baiklah, tetapi pemilik karung yang berisi cawan itu saja yang harus dihukum dijadikan budak, sedangkan yang lainnya boleh pergi.”

Mereka segera menurunkan karung-karungnya dari keledai masing-masing dan membukanya. Ternyata cawan perak itu ditemukan di dalam karung milik Benyamin.

Maka saudara-saudara Yusuf kembali lagi menghadap Yusuf. Mereka sangat ketakutan.

Berkatalah Yusuf kepada mereka, “Apa-apaan perbuatanmu itu!”

Lalu Yehuda menjawab, “Tuan, biarlah kami semua menjadi budak Tuan.”

Jawab Yusuf, “Tidak! Orang yang di dalam karungnya ditemukan cawan perak milikku, hanya dia yang akan menjadi budakku.”

Karena tahu Benyamin akan dijadikan budak, Yehuda mendekat dan berkata kepada Yusuf, “Tuan, mohon izinkan saya berbicara. Kami memiliki ayah yang sudah tua. Dalam masa tuanya, dia mendapat dua anak. Yang satu sudah meninggal, dan sekarang tinggal yang bungsu. Itu sebabnya ayah kami sangat menyayangi adik bungsu kami. Sebelum ke sini, aku sudah berjanji kalau terjadi apa-apa pada adik kami, aku yang akan menanggung kesalahan itu. Karena itu, biar aku saja yang menggantikan adikku sebagai budak, dan izinkanlah adikku pulang.”

Yusuf tidak mampu lagi menahan perasaannya, maka disuruhnya semua pelayannya untuk keluar ruangan. 

Lalu Yusuf berkata pada saudara-saudaranya, “Ini aku, Yusuf! Benarkah bapa masih hidup?” 

Tetapi saudara-saudaranya hanya bisa diam karena terkejut dan takut.

Berkatalah Yusuf kepada saudara-saudaranya, “Aku Yusuf, saudara kalian, yang kalian jual kepada para pedagang yang waktu itu sedang menuju Mesir. Sesungguhnya Allah yang sudah mengatur agar aku sampai di sini, untuk dapat menyelamatkan banyak orang.”


Keluarga Yusuf Diundang ke Mesir

Sesudah Yusuf mengungkapkan siapa dirinya, Yusuf berkata lagi, “Bencana kelaparan sudah dua tahun dan masih akan berlangsung lima tahun lagi. Segeralah katakan pada ayah supaya membawa seluruh keluarga kita datang ke Mesir, untuk tinggal di daerah Gosyen. Aku akan mencukupi semua kebutuhan keluarga kita.”

Lalu Yusuf dan adiknya Benyamin saling berpelukan dan keduanya menangis. Yusuf juga mencium dan memeluk kakak-kakaknya sambil menangis. Sesudah itu, Yusuf bercakap-cakap dengan saudara-saudaranya.

Berita tentang kedatangan saudara-saudara Yusuf terdengar sampai ke istana. Raja Firaun dan semua pejabatnya turut senang. Bahkan raja sendiri menyuruh Yusuf untuk mengajak seluruh keluarga Yusuf pindah ke Mesir, dan akan diberikan tanah yang terbaik. 

Sesuai perintah raja, anak-anak Yakub pun pulang ke Kanaan. Yusuf membawakan beberapa kereta untuk menjemput ayahnya dan keluarganya, juga banyak hadiah dan bahan makanan untuk bekal perjalanan Yakub sampai Mesir. Yusuf juga memberikan pakaian kepada semua semua saudaranya. 

Setibanya di rumah mereka, saudara-saudara Yusuf bercerita pada Yakub, “Yusuf masih hidup! Dia sudah menjadi penguasa atas seluruh Mesir!” Mendengar berita itu, Yakub terkejut dan tidak langsung percaya.

Tetapi ketika saudara-saudara Yusuf menyampaikan pesan Yusuf dan melihat kereta-kereta yang dikirim Yusuf untuk menjemputnya, Yakub kembali bersemangat. Ia berkata, “Anakku Yusuf masih hidup! Aku ingin bertemu dengannya sebelum aku mati.”

Rabu, 05 Februari 2025

[15] Yusuf Menjadi Penguasa Mesir (Kejadian 40-41)

Yusuf Mengartikan Mimpi Juru Minum dan Juru Roti

Setelah beberapa waktu Yusuf di dalam penjara, ada dua pelayan Firaun, raja Mesir yang berbuat kesalahan. Raja Firaun marah dan memasukkan mereka ke dalam penjara di rumah kepala pengawal raja, tempat Yusuf ditahan. Dua orang itu adalah juru minuman dan juru roti Raja Firaun.

Kepala pengawal raja menempatkan Yusuf bersama-sama dengan juru minuman dan juru roti untuk melayani mereka.

Pada suatu malam, juru minuman dan juru roti itu masing-masing bermimpi. 

Ketika Yusuf datang kepada mereka keesokan paginya, mereka kelihatan sedang bersusah hati.

Lalu Yusuf bertanya pada juru roti dan juru minuman: "Mengapa Saudara-saudara begitu cemas hari ini?"

Jawab mereka: "Tadi malam kami mimpi, dan tidak ada yang tahu artinya." 

Kata Yusuf, "Hanya Allah yang memungkinkan orang menerangkan arti mimpi. Coba ceritakan mimpimu itu."

Juru minuman yang pertama bercerita. Ia berkata: "Dalam mimpi itu aku melihat ada pohon anggur di depanku. Pohon itu bercabang tiga. Baru saja cabang-cabangnya mulai bertunas, segera bunga-bunganya berkembang, lalu buahnya menjadi matang. Pada waktu itu aku sedang memegang gelas minuman Firaun, jadi aku mengambil buah anggur itu dan aku peras ke dalam gelas raja, lalu kuhidangkan kepada raja."

Yusuf pun berkata: "Inilah arti mimpi itu: Tiga cabang artinya tiga hari. Dalam tiga hari ini raja akan membebaskan engkau, ia akan mengampuni engkau dan mengembalikan engkau kepada jabatanmu yang dahulu. Engkau akan menghidangkan gelas minuman kepada raja seperti dahulu."

Lalu Yusuf menitipkan pesan juga karena ia tahu juru minuman akan segera keluar dari penjara. Yusuf berkata: "Tetapi ingatlah kepadaku apabila keadaanmu sudah baik. Tolong sampaikan persoalan saya kepada raja, supaya saya dibebaskan dari penjara ini. Sebab, sebetulnya dulu saya diculik dari negeri orang Ibrani dan di sini pun, di Mesir ini, tidak pernah saya melakukan sesuatu kejahatan sampai harus dimasukkan ke dalam penjara."

Setelah juru roti mendengar bahwa arti mimpi juru minuman itu baik, maka dia pun menceritakan mimpinya pada Yusuf. 

Juru roti itu berkata: "Saya bermimpi juga, saya menjunjung tiga buah keranjang roti di atas kepala. Dalam keranjang terdapat macam-macam roti untuk raja, tetapi burung-burung datang memakan roti-roti itu."

Jawab Yusuf: "Inilah arti mimpi itu: Tiga keranjang itu artinya tiga hari. Dalam tiga hari ini raja akan menghukum engkau dengan hukuman mati, engkau akan tergantung tinggi dan tubuhmu akan dimakan burung-burung."

Tiga hari setelah Yusuf mengartikan mimpi juru minuman dan juru roti, diperingati hari ulang tahun Firaun, raja Mesir. Raja mengadakan pesta besar bagi semua pegawainya.

Maka raja memerintahkan supaya juru minuman dan juru roti dikeluarkan dari penjara dan dibawa ke hadapan semua pegawai istana.

Juru minuman dikembalikan raja kepada jabatan yang dahulu. Tetapi juru roti dihukum mati oleh raja.

Semuanya itu terjadi sesuai dengan apa yang dikatakan Yusuf ketika mengartikan mimpi juru minuman dan juru roti.

Tetapi sayangnya, sekalipun juru minuman sudah bebas dari penjara dan kembali melayani raja, ia tidak ingat lagi kepada Yusuf. Ia sama sekali lupa padanya dan tidak ingat bahwa Yusuf pernah meminta tolong untuk menjelaskan pada raja bahwa Yusuf tidak bersalah.

Yusuf Mengartikan Mimpi Firaun, Raja Mesir

Dua tahun setelah Yusuf mengartikan mimpi juru minuman, ternyata Firaun, raja Mesir juga bermimpi.

Karena mimpinya sangat aneh dan ia tidak mengerti artinya pagi harinya raja merasa gelisah.

Karena itu raja memerintahkan untuk memanggil semua tukang sihir dan orang berilmu di Mesir. Raja pun menceritakan mimpinya kepada mereka, tetapi tidak seorang pun dapat mengartikan mimpi itu.

Tiba-tiba juru minuman mengingat peristiwa ketika ia bermimpi dan diartikan oleh Yusuf dua tahun yang lalu.

Juru minuman lalu berkata kepada raja, "Hari ini hamba harus mengaku kesalahan hamba. Dahulu Baginda raja marah kepada juru roti dan kepada hamba, lalu kami dimasukkan ke dalam penjara, di rumah kepala pengawal istana. 

Pada suatu malam kami berdua bermimpi dan tidak mengerti artinya. Tapi ada seorang pemuda Ibrani dikurung di sana dengan kami. Dia pelayan kepala pengawal istana itu. Kami menceritakan mimpi kami kepadanya, lalu ia bisa memberitahu arti mimpi itu.

Ternyata semuanya tepat terjadi seperti dikatakan pemuda itu, yaitu: Baginda raja mengembalikan hamba kepada jabatan hamba semula, tetapi menghukum mati juru roti itu."

Maka raja menyuruh memanggil Yusuf, dan dengan segera ia dikeluarkan dari penjara. Setelah Yusuf bercukur dan berganti pakaian, ia menghadap raja.

Raja berkata kepada Yusuf: "Aku telah bermimpi, dan tak seorang pun dapat mengartikan mimpiku. Ada yang mengabarkan kepadaku bahwa engkau dapat menerangkan mimpi."

Yusuf menjawab, "Bukan hamba, melainkan Allah yang akan memberikan penjelasan terhadap mimpi itu."

Lalu raja mulai menceritakan mimpinya. Awalnya, ia sedang berdiri di tepi Sungai Nil.

Raja melihat tujuh ekor sapi yang gemuk-gemuk dan baik rupanya, keluar dari sungai itu lalu mulai makan rumput di tepi sungai Nil. Kemudian, tujuh sapi yang lain muncul juga, tetapi sapi-sapi yang muncul kemudian ini sangat kurus dan buruk rupa.

Sapi-sapi yang kurus itu berdiri di samping sapi-sapi yang gemuk, di tepi sungai Nil. Tiba-tiba, sapi-sapi yang kurus memakan sapi-sapi yang gemuk. 

Setelah itu raja bangun dari tidurnya. Kemudian ketika ia tidur lagi, ternyata ia bermimpi lagi. 

Dalam mimpinya raja melihat tujuh bulir gandum yang berisi dan baik rupanya tumbuh pada satu tangkai. Kemudian tumbuh juga tujuh bulir gandum yang lain, yang kurus kering dan layu oleh angin gurun.

Tiba-tiba bulir-bulir gandum yang kurus itu menelan ketujuh bulir yang berisi tadi. 

Setelah itu raja terbangun lagi dan sadar bahwa ia telah bermimpi.

Raja berkata pada Yusuf: "Telah kuceritakan kedua mimpiku itu kepada para tukang sihir, tetapi tak seorang pun dapat menerangkan artinya."

Lalu kata Yusuf kepada raja, "Kedua mimpi itu sama artinya; Allah telah memberitahukan kepada Tuanku apa yang akan dilakukannya. Tujuh sapi yang gemuk itu ialah tujuh tahun, dan tujuh bulir gandum yang berisi itu ialah tujuh tahun juga; keduanya sama artinya. 

Tujuh sapi yang kurus, yang muncul kemudian, serta tujuh bulir gandum yang kurus dan kurus kering itu ialah masa kelaparan selama tujuh tahun.

Sebagaimana telah hamba katakan kepada Tuanku, Allah telah memperlihatkan kepada Tuanku apa yang akan dilakukannya. Nanti akan datang tujuh tahun masa penuh kemakmuran dan kelimpahan makanan di seluruh negeri Mesir. Tetapi setelah itu akan datang tujuh tahun kelaparan, sampai-sampai masa kelimpahan yang terjadi sebelumnya itu akan dilupakan sama sekali, karena masa kelaparan itu akan sangat dahsyat sehingga negeri ini menjadi tandus.

Mimpi Tuanku terjadi dua kali, itu berarti bahwa hal itu telah ditetapkan oleh Allah dan bahwa Allah akan melaksanakannya dengan segera. 

Karena itu, sebaiknya Tuanku memilih seorang yang cerdas dan bijaksana dan memberinya kuasa untuk mengatur negeri ini. Tuanku harus pula mengangkat pegawai-pegawai lainnya, dan memberi mereka kuasa untuk memungut seperlima dari semua panen gandum selama tujuh tahun masa kelimpahan itu. Gandum-gandum dari masa kelimpahan itu harus disimpan di kota-kota sebagai persediaan makanan. Sehingga ketika ada tujuh tahun masa kelaparan yang datang di Mesir, masih ada gandum dari persediaan yang sudah disimpan sebelumnya. Dengan demikian rakyat Mesir tidak akan mati kelaparan."

Yusuf Diangkat Menjadi Penguasa Mesir

Mendengar penjelasan tentang arti mimpi raja dan solusi yang disarankan Yusuf, raja dan para pegawainya menyetujui rencana Yusuf itu.

Lalu raja berkata kepada para pegawainya: "Tidak mungkin kita mendapatkan orang lain yang lebih cocok melakukan rencana itu daripada Yusuf, sebab ia dipimpin oleh Roh Allah."

Maka raja berkata kepada Yusuf, "Allah telah memberitahukan semua ini kepadamu, jadi jelaslah bahwa engkau lebih cerdas dan bijaksana dari siapa pun juga. Engkau akan kuangkat menjadi penguasa, dan seluruh rakyatku harus mentaati perintahmu. Hanya aku sajalah yang lebih berkuasa daripadamu di negeri ini."

Setelah itu raja membuka cincin yang berukiran materai kerajaan, lalu memakaikannya ke jari Yusuf sambil berkata: "Dengan ini engkau kuangkat menjadi penguasa atas seluruh Mesir." 

Kemudian dikenakan raja pada Yusuf sebuah jubah linen yang halus, dan dikalungkan raja pada leher Yusuf sebuah kalung emas.

Lalu raja juga memberikan kepada Yusuf kereta kerajaan yang kedua untuk kendaraan Yusuf, juga pengawal kehormatan raja berjalan di depan kereta itu sambil berseru-seru, "Beri hormat!"

Raja berkata kepada Yusuf: "Akulah raja, dan aku mengumumkan bahwa tanpa izinmu tidak seorang pun di seluruh Mesir boleh melakukan apa-apa."

Raja juga memberikan sebuah nama Mesir kepada Yusuf, yaitu Zafnat-Paaneah. Raja juga memberikan seorang istri kepada Yusuf yang bernama Asnat. Asnat adalah anak dari Potifera, yaitu seorang imam di kota On. 

Yusuf berumur tiga puluh tahun ketika ia mulai bekerja untuk raja Mesir. Maka berangkatlah Yusuf dari istana raja dan pergi mengelilingi seluruh negeri. 

Dalam masa tujuh tahun kemakmuran, tanah menghasilkan panen yang berlimpah-limpah. 

Gandum itu dikumpulkan oleh Yusuf lalu disimpannya di kota-kota. Dalam setiap kota ia menyimpan gandum hasil ladang-ladang di sekitar kota itu. 

Gandum yang dikumpulkannya itu begitu banyak sehingga Yusuf berhenti menghitungnya, karena memang tidak terhitung karena terlalu banyak.

Sebelum tiba masa kelaparan, Asnat istri Yusuf melahirkan dua anak laki-laki.

Ketika anak pertamanya lahir, Yusuf berkata: "Allah telah membuat aku lupa kepada segala penderitaanku dan kepada keluarga ayahku." Karena itu Yusuf menamai anaknya yang pertama "Manasye".

Ketika anak keduanya lahir, Yusuf berkata: "Allah telah memberikan anak-anak kepadaku dalam masa kesukaranku." Karena itu lalu Yusuf menamai anaknya yang kedua itu "Efraim".

Tanpa terasa, tujuh tahun masa kelimpahan di negeri Mesir telah berakhir. Maka datanglah tujuh tahun masa kelaparan, tepat seperti yang telah dikatakan Yusuf. Di seluruh dunia terjadi kelaparan, tetapi hanya di Mesir ada persediaan makanan.

Ketika rakyat Mesir mulai menderita kelaparan, mereka meminta makanan kepada raja. Lalu raja menyuruh mereka pergi kepada Yusuf dan melakukan segala apa yang akan diperintahkan Yusuf kepada mereka.

Ketika kelaparan itu menjadi makin hebat dan menyebar di seluruh negeri, Yusuf membuka semua gudang dan menjual gandum kepada orang Mesir. Selain dari Mesir, ternyata dari seluruh dunia juga orang-orang datang ke Mesir untuk membeli gandum dari Yusuf, karena kelaparan itu sungguh dahsyat terjadi di mana-mana.

Selasa, 28 Januari 2025

[14] Yusuf Dijual ke Mesir (Kejadian 37-39)

Yusuf Dibenci Saudara-saudaranya

Saat ini Yakub, atau nama lainnya Israel, sudah tinggal di tanah Kanaan. Ia memiliki 12 orang anak laki-laki. 

Yusuf adalah anak laki-laki Yakub yang kesebelas. Ketika Yusuf berumur 17 tahun, ia biasa menggembalakan kambing domba bersama saudara-saudaranya. Tetapi Yusuf sering mengadukan kesalahan saudara-saudaranya kepada ayahnya.

Yusuf menjadi anak kesayangan Yakub karena Yusuf lahir pada masa tua Yakub. Maka Yakub menyuruh membuatkan jubah maha indah untuk Yusuf. 

Melihat Yakub yang lebih mengasihi Yusuf, saudara-saudara Yusuf mulai membenci Yusuf.

Suatu hari, Yusuf bermimpi dan ia menceritakan mimpinya kepada saudara-saudaranya. Dalam mimpi Yusuf, mereka semua sedang mengikat gandum di ladang, tapi berkas gandum Yusuf berdiri tegak sementara berkas gandum saudara-saudaranya sujud menyembah berkas gandum Yusuf. 

Mimpi Yusuf itu membuat saudara-saudaranya makin marah dan benci pada Yusuf. Saudara-saudara Yusuf menganggap mimpi Yusuf bermakna Yusuf ingin berkuasa atas mereka, dan mereka tidak menerima hal itu. 

Lalu Yusuf bermimpi lagi bahwa matahari, bulan, dan sebelas bintang sujud menyembahnya. 
 
Mendengar mimpi Yusuf, Yakub sampai menegur Yusuf dan berkata, "Masakan aku, ibumu, dan saudara-saudaramu sujud menyembah kepadamu?" 

Juga saudara-saudara Yusuf semakin iri dan marah kepada Yusuf. 

Yusuf Dijual oleh Saudara-saudaranya

Suatu waktu, Yusuf disuruh ayahnya Yakub untuk melihat keadaan saudara-saudaranya yang sedang menggembalakan domba di dekat Sikhem. Ketika sudah sampai di Sikhem, Yusuf mendapat kabar bahwa saudara-saudaranya ternyata sudah pergi ke Dotan. Maka Yusuf menyusul ke Dotan. 

Ketika saudara-saudaranya melihat Yusuf datang dari jauh, mereka langsung membuat rencana untuk mencelakai Yusuf. Awalnya mereka mau membunuh Yusuf, tapi Ruben kakak Yusuf melarang Yusuf untuk dibunuh karena nantinya Ruben bermaksud akan melepaskan Yusuf. Akhirnya mereka sepakat untuk melempar Yusuf ke dalam sumur.

Ketika Yusuf sampai pada mereka, saudara-saudara Yusuf langsung melepas jubah maha indah Yusuf lalu melemparkan Yusuf ke dalam sebuah sumur kosong. 

Ketika saudara-saudara Yusuf sedang makan, lewatlah rombongan pedagang, yaitu saudagar-saudagar Midian, orang Ismael, yang sedang membawa barang-barang dagangan menuju ke Mesir.

Yehuda, kakak Yusuf, mengusulkan agar Yusuf dijual saja kepada pedagang itu dan saudara-saudara Yusuf yang lain pun setuju. Maka Yusuf dijual seharga 20 syikal perak dan dibawa oleh pedagang itu ke Mesir. 

Ketika Ruben kembali ke sumur itu untuk menolong Yusuf, ia melihat Yusuf sudah tidak ada. Maka Ruben mengoyakkan bajunya karena sedih. Ruben mendatangi saudara-saudaranya dan berkata: "Yusuf sudah tidak ada, apa yang harus kulakukan?" 

Lalu saudara-saudara Yusuf membuat seolah Yusuf sudah mati karena diserang binatang buas. Mereka mencelupkan jubah Yusuf ke darah kambing lalu menyuruh orang mengantar jubah itu kepada Yakub. 

Yakub melihat jubah yang berdarah itu dan mengira itu adalah darah Yusuf yang sudah diserang binatang buas dan mati. Yakub berkata: "Ini jubah Yusuf anakku; pasti binatang buas telah memakan Yusuf."

Yakub sangat sedih, ia menangis dan berkabung berhari-hari lamanya. 

Sementara itu, Yusuf dibawa oleh pedagang Midian ke Mesir dan dijual kepada Potifar, seorang pegawai istana Firaun, yaitu kepala pengawal raja.

Yusuf di Rumah Potifar

Di Mesir, Yusuf bekerja di rumah Potifar, pegawai istana Firaun, yaitu kepala pengawal raja, yang sudah membeli Yusuf dari pedagang orang Ismael itu. 

Tuhan menyertai Yusuf sehingga Yusuf selalu berhasil dalam pekerjaannya. 

Melihat pekerjaan Yusuf yang selalu berhasil, Potifar memberikan kepercayaan lebih lagi kepada Yusuf. 

Yusuf diberikan kuasa atas rumah dan segala usaha milik Potifar. Sejak Yusuf mengurus rumah dan semua usaha milik Potifar, Tuhan memberkati Potifar sehingga rumah dan usaha milik Potifar semakin berkembang. 

Potifar sangat percaya pada Yusuf yang mengerjakan segala sesuatu, sampai Potifar tidak mengatur apapun selain makanannya sendiri. 

Selain sukses dalam bekerja, Yusuf juga baik sikapnya dan juga elok parasnya. Akibatnya istri Potifar jatuh hati pada Yusuf. 

Istri Potifar pun menggoda Yusuf tapi Yusuf menolaknya karena ia tidak mau mengkhianati kepercayaan Potifar dan tidak mau berdosa pada Allah. 

Tapi istri Potifar terus membujuk Yusuf dari hari ke hari. Sampai suatu ketika, ketika tidak ada orang di rumah, istri Potifar menggoda Yusuf dengan menarik baju Yusuf. Tapi Yusuf langsung lari meninggalkan bajunya di tangan istri Potifar. Istri Potifar pun kesal dan memanggil semua orang lalu berkata untuk memfitnah Yusuf, "Lihat, orang Ibrani ini mau mendekati aku untuk berbuat tidak pantas kepadaku."

Ketika Potifar pulang, istri Potifar mengadukan Yusuf dan memfitnah bahwa Yusuf ingin berbuat tidak pantas, sambil menunjukkan baju Yusuf sebagai bukti. 

Mendengar pengaduan istrinya, Potifar sangat marah dan ia memasukkan Yusuf ke penjara tempat para tahanan raja. 

Tetapi di penjara Tuhan tetap menyertai Yusuf dan membuat Yusuf selalu berhasil juga dalam pekerjaannya. Kepala penjara jadi sangat menyayangi Yusuf. Kepala penjara mempercayakan semua tahanan dan semua pekerjaan di penjara itu kepada Yusuf, hingga ia tidak perlu lagi mencampuri pekerjaan Yusuf. 

Sabtu, 07 Desember 2024

#268 Paulus di Roma (Kisah Para Rasul 28)

Sesudah tiga bulan Paulus di Pulau Malta, rombongan Paulus berangkat lagi dengan sebuah kapal dari Aleksandria yang selama musim dingin berada di pulau Malta.

Lalu kapal singgah di kota Sirakusa (di pulau Sisilia) dan tinggal di sana selama tiga hari.

Dari situ kapal berlayar ke seberang dan tiba di kota Regium (di ujung provinsi Italia). Besoknya, angin dari selatan bertiup, sehingga kapal bisa berlayar ke utara dan sampai ke kota Putioli pada hari berikutnya.

Di kota Putioli Paulus bertemu dengan beberapa orang saudara seiman. Mereka meminta Paulus dan teman-temannya menginap di rumah mereka selama tujuh hari. Kemudian Paulus dan teman-temannya melanjutkan perjalanan dan tiba di Roma.

Saudara-saudara seiman di kota Roma sudah mendengar berita bahwa Paulus dalam perjalanan ke kota itu. Mereka datang sampai ke Forum Apius dan Tres Taberne untuk menjemput Paulus. Ketika Paulus melihat jemaat Roma itu, dia bersyukur kepada Allah dan hatinya dikuatkan.

Sesudah Paulus tiba di Roma, pertama-tama perwira Yulius menyerahkan para tahanan kepada komandan di markas. Kemudian keluarlah keputusan yang memberi izin kepada Paulus untuk tinggal sendiri, dengan selalu dijaga oleh seorang tentara.

Tiga hari kemudian, Paulus mengundang para pemimpin orang Yahudi yang ada di Roma untuk menemui dia dan menjelaskan kedatangannya. Sesudah mereka berkumpul, dia berkata kepada mereka, “Saudara-saudara, walaupun aku tidak berbuat sesuatu yang melawan hukum dan adat Yahudi, orang Yahudi di Yerusalem menangkap aku dan menyerahkan aku ke tangan para penguasa Romawi.

Pejabat-pejabat kerajaan Romawi tidak menemukan kesalahan padaku. Tetapi karena orang Yahudi tidak mau aku dibebaskan, aku terpaksa memohon supaya perkara ini diajukan kepada raja tertinggi Romawi.

Aku ingin berbicara dengan kalian, karena sebenarnya, aku dirantai seperti ini justru karena keyakinan akan semua janji Allah kepada nenek moyang kita orang Yahudi.”

Lalu orang-orang Yahudi di Roma menjawab, “Kami belum menerima surat dari provinsi Yudea tentang kamu. Juga belum ada orang Yahudi dari sana yang datang membawa berita atau menceritakan hal buruk tentang kamu.

Tetapi kami ingin mendengar langsung darimu tentang keyakinanmu itu. Karena kami tahu bahwa di mana-mana, orang berbicara menentang aliranmu itu.”

Lalu mereka menentukan waktu untuk bertemu lagi dengan Paulus. Dan pada hari yang ditetapkan itu, lebih banyak orang Yahudi yang datang berkumpul di rumah tempat Paulus menginap. Dari pagi sampai malam Paulus menjelaskan dan bersaksi kepada mereka tentang kerajaan Allah. Paulus juga berusaha meyakinkan mereka untuk percaya kepada Yesus dengan menggunakan ayat-ayat dari hukum Taurat dan tulisan para nabi.

Ada dari antara orang-orang Yahudi itu yang menjadi percaya karena penjelasan Paulus. Tetapi ada juga yang tidak percaya.

Paulus pun berkata, “Memang tepat sekali apa yang dikatakan oleh Roh Kudus melalui Nabi Yesaya kepada nenek moyang kita! TUHAN berkata bahwa bangsa ini sudah menjadi keras kepala.

Jadi, karena kalian orang Yahudi tidak mau mendengarkan berita keselamatan dari Allah, maka kalian harus tahu bahwa sekarang Allah sudah mengirim berita itu kepada bangsa-bangsa yang bukan Yahudi, dan mereka pun mau menerimanya.”

Sesudah Paulus berkata demikian, orang-orang Yahudi itu pun bubar sambil berdebat karena terjadi perbedaan pendapat di antara mereka.

Setelah itu, selama dua tahun penuh, Paulus tinggal di rumah yang dia sewa sendiri. Paulus menerima semua orang yang datang untuk mengunjunginya dan mengajar tentang Yesus Kristus dan Kerajaan Allah. Paulus juga memberi semangat dan pengajaran dengan surat untuk gereja-gereja di Kolose, Efesus, dan Filipi.

Pada zaman itu, Roma adalah kota pusat pemerintahan dan perdagangan dunia, sehingga banyak orang berkumpul di sana. Walau dalam tahanan, Paulus tetap memberitakan tentang kerajaan Allah dan Tuhan Kristus Yesus dengan penuh keberanian dan tanpa halangan dari siapa pun, dan dari situ Injil bisa tersebar ke seluruh dunia. 

Minggu, 24 November 2024

#267 Paulus di Pulau Malta (Kisah Para Rasul 28)

Sebelumnya kapal yang dinaiki oleh Paulus dan para tahanan Kaisar kandas di sebuah pulau dalam perjalanan menuju Roma. Tetapi meskipun kapal hancur, semua penumpang dapat menyelamatkan diri. 

Sesudah semua penumpang kapal berhasil sampai di daratan, mereka baru tahu dari penduduk setempat bahwa pulau itu bernama Malta.

Penduduk pulau Malta menerima dan menolong penumpang kapal dengan sangat baik. Para penduduk menyalakan api unggun agar penumpang kapal bisa menghangatkan badan, karena hujan masih turun dan cuaca amat dingin.

Ketika Paulus mengumpulkan ranting-ranting kayu dan menaruhnya ke atas api, seekor ular beracun yang bersembunyi di dalam kayu itu keluar karena panasnya api, lalu menggigit tangan Paulus. Gigitannya menancap kuat sampai ular itu tidak terlepas dari tangan Paulus.

Melihat kejadian itu, para penduduk pulau Malta berkata satu sama lain, “Pasti orang ini adalah pembunuh, karena walaupun dia sudah selamat dari bahaya di laut, ternyata Dewi Keadilan tidak membiarkan dia hidup.”

Namun Paulus mengibaskan tangannya sehingga ular itu terlepas dan jatuh ke dalam api. Paulus tidak merasa sakit apa-apa.

Penduduk pulau Malta menyangka bahwa tangan Paulus akan menjadi bengkak, atau tiba-tiba Paulus akan ambruk dan mati seketika itu juga. Tetapi sesudah cukup lama menunggu, ternyata tidak terjadi apa pun kepada Paulus. 

Maka penduduk pulau Malta berubah pikiran dan berkata, “Wah, orang ini pasti dewa!”

Tidak jauh dari tempat api unggun itu terdapat tanah milik gubernur pulau Malta, namanya Publius. 

Publius mengundang Paulus dan teman-temannya untuk menginap di rumahnya. Paulus dan teman-temannya tinggal di rumah Publius tiga hari lamanya, dan selama itu Publius bersikap sangat baik kepada Paulus dan teman-temannya. 

Pada waktu itu, ayah dari Publius sedang terbaring sakit karena demam dan diare. Paulus menjenguk ayah Publius ke kamarnya, dan ketika Paulus berdoa sambil meletakkan kedua tangannya ke atas ayah dari Publius, bapak itu langsung sembuh.

Sesudah peristiwa itu, semua orang sakit yang lain di pulau Malta berdatangan kepada Paulus, dan semuanya disembuhkan.

Karena keajaiban tersebut, penduduk Pulau Malta sangat menghormati Paulus, dan ketika tiba waktunya Paulus melanjutkan perjalanan, penduduk Pulau Malta menyediakan semua kebutuhan Paulus.

Jumat, 22 November 2024

#266 Paulus Selamat dari Kecelakaan Kapal (Kisah Para Rasul 27)

Sebelumnya, Paulus dan tahanan lainnya yang dibawa oleh pasukan Kaisar menumpang sebuah kapal untuk menuju Roma. Ternyata perjalanan mereka terhambat karena angin dan cuaca yang buruk. 

Ketika angin sempat bertiup pelan dari arah selatan, para anak buah kapal menyangka mereka sudah bisa berlayar lagi sesuai rencana. Karena itu, mereka mulai berlayar lagi menyusuri pantai selatan pulau Kreta.

Namun tidak lama kemudian, angin topan yang terkenal sebagai ‘Angin Timur Laut’ bertiup dari arah pulau itu.

Kapal pun terjebak di tengah angin topan dan tidak bisa dikendalikan. Jadi para anak buah kapal membiarkan kapal terbawa oleh angin.

Para anak buah kapal terus berusaha mengamankan kapal. Mereka menaikkan sekoci ke atas kapal dan memperkuat kapal dengan tali. Layar dan jangkar juga diturunkan agar kapal tidak mudah terbawa angin, karena takut kapal kandas di perairan dangkal Sirtis. 

Tetapi angin topan dan gelombang masih sangat kencang menghantam kapal, sehingga para anak buah kapal membuang muatan dan peralatan ke laut supaya kapal lebih ringan.

Berhari-hari lamanya para penumpang kapal tidak melihat matahari atau bintang. Angin topan terus saja bertiup kencang, sampai akhirnya penumpang kapal tidak punya harapan lagi untuk bisa selamat.

Apalagi, selama berhari-hari itu penumpang kapal juga tidak makan.

Kemudian Paulus berdiri dan berkata: “Saudara-saudara, seandainya dulu kalian mengikuti saranku supaya tidak berlayar dari pulau Kreta, kita tidak akan mengalami bencana dan kerugian seperti ini.

Tetapi sekarang, janganlah putus asa. Karena tidak ada satu pun di antara kita yang akan mati. Hanya kapal ini saja yang hancur nanti.

Tadi malam, aku didatangi oleh malaikat utusan Allah yang berkata: 'Paulus, jangan takut. Kamu pasti akan menghadap Kaisar. Dan Allah berjanji bahwa semua orang yang berlayar denganmu akan selamat.' "

Sampai malam keempat belas, kapal masih diombang-ambingkan angin topan di tengah Laut Adria. Lalu pada tengah malam para anak buah kapal bisa merasakan bahwa kapal sedang mendekati suatu daratan. Mereka memeriksa kedalaman laut dengan  menjatuhkan batu bertali, dan benar saja, mereka semakin dekat daratan. 

Karena takut kapal terkandas pada batu karang, para anak buah kapal memperlambat laju kapal, sambil berharap supaya hari cepat pagi.

Tetapi waktu itu para anak buah kapal  berniat kabur ke daratan dengan sekoci meninggalkan kapal dan segala isinya.

Maka Paulus berkata kepada Yulius dan tentara-tentaranya agar mencegah para anak buah kapal meninggalkan kapal, katanya: “Kalau anak buah kapal itu meninggalkan kapal, kita semua tidak akan selamat.”

Jadi para tentara pasukan Yulius memotong tali-tali sekoci dan membuangnya ke laut.

Menjelang pagi, Paulus mendesak semua penumpang untuk makan dan meyakinkan semua orang bahwa mereka akan selamat. 

Lalu Paulus mengambil roti dan mengucap syukur kepada Allah. Paulus pun memecah-mecahkan roti itu, mengambil sebagian dan mulai makan.

Lalu semua orang menjadi bersemangat lagi dan ikut makan bersama Paulus. Di kapal itu total ada dua ratus tujuh puluh enam orang.

Ketika matahari sudah terbit, anak buah kapal melihat daratan yang tidak dikenal, tetapi di situ ada teluk yang berpantai. Jadi para anak buah kapal mencoba membawa kapal mendarat di pantai pulau itu dengan hati-hati. 

Tetapi di suatu tempat yang dangkal, tiba-tiba kapal menabrak pasir sehingga terkandas. Bagian depan kapal terbentur dengan sangat keras ke pasir dan tertahan, sedangkan bagian belakang kapal mulai hancur dihantam ombak.

Pada waktu itu, tentara-tentara berencana untuk membunuh semua tahanan supaya tidak ada yang berenang ke darat dan melarikan diri.

Tetapi Yulius mau menyelamatkan Paulus. Maka ia melarang tentara mencelakai tahanan dan memerintahkan supaya orang-orang yang bisa berenang lebih dulu terjun ke laut dan berenang ke daratan.

Sedangkan penumpang lain yang tidak bisa berenang disuruh berpegangan pada papan-papan pecahan kapal atau benda-benda lain yang mengapung.

Dengan mengikuti instruksi Yulius, semua penumpang kapal bisa sampai di pantai dengan selamat.