Rangkuman Alkitab
Kumpulan catatan yang bersumber dari Alkitab, satu-satunya sumber kebenaran sejati di dalam dunia.
Minggu, 27 September 2026
[30] Bangsa Israel Bersiap Masuk Tanah Kanaan (Bilangan 27-36, Ulangan 3)
Sabtu, 22 Agustus 2026
[29] Peperangan Bangsa Israel dalam Perjalanan ke Kanaan (Bilangan 21-26, Ulangan 2-3)
Peperangan Melawan Raja Negeri Arad
Ketika bangsa Israel sampai ke daerah Negeb, Raja negeri Arad tiba-tiba menyerang dan bahkan berhasil menangkap beberapa orang Israel sebagai tawanan.
Melihat hal itu, bangsa Israel berdoa bahkan sampai bernazar kepada Tuhan, "Jika Tuhan membantu kami mengalahkan bangsa Arad, kami akan menghancurkan semua kota-kota mereka sampai binasa."
Tuhan mendengar doa bangsa Israel, maka bangsa Israel mengalahkan orang-orang dan menghancurkan kota-kota mereka sampai binasa. Oleh sebab itu, tempat itu kemudian dinamai Horma, yang artinya dihancurkan sampai habis.
Peristiwa Ular Tembaga
Setelah itu, bangsa Israel mengambil rute memutar karena mereka harus mengitari wilayah Edom. Dalam perjalanan panjang itu, bangsa Israel tidak sabar mengeluh lagi pada Allah dan Musa: "Mengapa kamu membawa kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati? Di sini tidak ada makanan dan air, dan kami sudah muak dengan roti manna ini."
Karena sikap mereka, Tuhan mengirim ular-ular berbisa ke perkemahan bangsa Israel. Banyak orang terpagut ular dan meninggal. Melihat hal itu, bangsa Israel langsung mendatangi Musa untuk meminta ampun, "Kami telah berdosa, berdoalah kepada Tuhan supaya Tuhan menjauhkan ular-ular ini."
Musa berdoa pada Tuhan, lalu Tuhan berfirman, "Buatlah ular tedung dan taruhlah pada sebuah tiang, maka barangsiapa terpagut ular lalu melihat ular di tiang itu akan tetap hidup."
Musa membuat ular dari tembaga dan dipasang di sebuah tiang. Ketika seseorang terpagut ular dan memandang ular tembaga itu, ia tetap hidup.
Peperangan Melawan Sihon, Raja Hesybon
Bangsa Israel melanjutkan perjalanan dan akhirnya sampai di sebelah timur Sungai Yordan, di wilayah orang Amori. Bangsa Israel mengirim utusan pada Sihon, raja negeri Hesybon untuk melewati daerah mereka dengan baik-baik. Tetapi Sihon menolak dan malah mengumpulkan pasukan melawan bangsa Israel di Yahas. Tetapi dengan pertolongan Tuhan, bangsa Israel berhasil menang dan bahkan menguasai seluruh negeri Raja Sihon dari Sungai Arnon sampai Sungai Yabok, termasuk kota Hesybon dan kota Yaezer. Lalu bangsa Israel tinggal di sana.
Peperangan Melawan Og, Raja Basan
Setelah mengalahkan Sihon, bangsa Israel melanjutkan perjalanan menuju wilayah Basan di utara. Og, raja negeri Basan, langsung keluar membawa pasukannya untuk berperang melawan bangsa Israel di Edrei. Melihat musuh yang kuat, Tuhan berfirman kepada Musa, "Jangan takut, sebab Aku menyerahkan Og dan seluruh rakyatnya dan negerinya ke dalam tanganmu."
Maka bangsa Israel berperang dan mengalahkan Og, anak-anaknya, dan seluruh rakyatnya, tanpa ada seorangpun yang lolos. Bangsa Israel merebut 60 kota berbenteng di Basan dan menguasai wilayah itu.
Bileam Diminta Mengutuk Bangsa Israel
Berita tentang bangsa Israel yang mengalahkan orang-orang Amori terdengar sampai ke negara tetangga, Moab dan Midian. Raja Moab, Balak bin Zipor, merasa sangat takut. Karena itu, Balak dari bangsa Moab bersama dengan bangsa Midian mengirim utusan kepada Bileam bin Beor, seorang juru ramal dan ahli ilmu gaib yang terkenal.
Para utusan mendatangi Bileam dengan membawa upah untuk meminta agar Bileam mengutuk bangsa Israel. Kutukan adalah doa agar terjadi hal-hal yang sangat buruk terhadap seseorang.
Para utusan menyampaikan pesan Raja Balak, "Ada sebuah bangsa keluar dari Mesir dan berkemah di dekatku. Datanglah dan kutuklah mereka, supaya aku dapat mengalahkan mereka."
Pada malam hari Allah berkata kepada Bileam, "Jangan pergi bersama-sama dengan mereka, jangan mengutuk bangsa itu, sebab mereka telah diberkati."
Bileam pun menolak permintaan utusan Balak. Namun Balak tidak menyerah; ia mengutus para pejabat yang lebih terhormat dan menjanjikan kekayaan serta kehormatan yang besar. Malam harinya Allah berkata, "Jikalau orang-orang itu datang memanggil kamu, bangunlah, pergilah bersama-sama dengan mereka, tetapi hanya apa yang Aku firmankan kepadamu yang harus kamu lakukan."
Pagi harinya Bileam bangun, memasang pelana keledainya, dan berangkat bersama pejabat Moab. Namun bangkitlah murka Allah ketika ia pergi. Di tengah perjalanan, Malaikat Tuhan berdiri di jalan dengan pedang terhunus untuk menghadangnya. Keledai Bileam melihat Malaikat Tuhan dan menghindar sampai tiga kali. Keledai Bileam masuk ke ladang, merapat ke tembok, dan rebah di tanah. Bileam yang tidak melihat malaikat itu menjadi marah dan memukul keledainya setiap kali keledai itu menghindar.
Tuhan lalu membuka mulut keledai itu sehingga ia berkata, "Apakah yang kulakukan kepadamu, sampai engkau memukul aku tiga kali?" Bileam menjawab, "Sebab engkau mempermainkan aku!" Keledai itu mengingatkan bahwa ia selalu setia menungganginya selama ini. Saat itulah Tuhan membuka mata Bileam sehingga ia melihat Malaikat Tuhan berdiri di jalan dengan pedang terhunus. Bileam ketakutan dan sujud menyembah.
Malaikat Tuhan menegur Bileam dan berkata, "Pergilah bersama orang-orang itu, tetapi hanya perkataan yang Aku katakan kepadamu yang harus kamu katakan."
Bileam Memberkati bangsa Israel
Balak raja Moab memanggil Bileam, seorang juru ramal dan juru ilmu gaib, untuk mengutuk bangsa Israel. Kutukan adalah doa agar terjadi hal-hal yang sangat buruk terhadap seseorang.
Tiba di Moab, Bileam mengingatkan Balak, "Aku hanya bisa menyuarakan firman Allah."
Balak lalu membawa Bileam ke tempat pertama: Bukit Baal. Dari sana mereka melihat bagian paling ujung perkemahan Israel.
Bileam menyuruh Balak mendirikan tujuh mezbah serta mengorbankan tujuh ekor lembu jantan dan tujuh ekor domba jantan.
Setelah itu, Balak menunggu Bileam mengucapkan kutukan pada bangsa Israel. Namun, Allah malah menaruh firman di mulut Bileam untuk memberkati Israel, bahwa bangsa ini dipisahkan Allah dan tidak dapat dikutuk.
Balak marah, lalu mengajak Bileam ke tempat kedua: Puncak Pisga. Di sana Balak mendirikan lagi tujuh mezbah dan mempersembahkan korban yang sama.
Balak berharap kali ini Bileam benar mengutuk bangsa Israel. Namun, Bileam malah kembali menyuarakan firman Allah: Allah bukan manusia yang mengingkari janji-Nya, Israel dilindungi, dan tidak ada mantra atau kutukan yang berpengaruh terhadap mereka.
Balak semakin marah dan berkata, "Jika tidak mengutuk, janganlah memberkati!" Namun Balak masih mencoba ke tempat ketiga: Puncak Gunung Peor. Di sana mereka mendirikan tujuh mezbah dan mempersembahkan korban lagi.
Kali ini Bileam tidak lagi memakai ilmu gaib. Ia memandang ke padang gurun dan melihat seluruh perkemahan Israel menurut suku-suku mereka. Roh Allah hinggap di atasnya. Bileam berkata-kata tentang keindahan perkemahan Israel, kejayaan kerajaan Israel, serta berkat bagi siapa saja yang memberkati Israel.
Mendengar hal itu, Balak sangat marah. Bileam mengingatkan kembali, "Sudah aku katakan bahwa aku tidak bisa melanggar perintah Tuhan." Bileam pun menyampaikan nubuat terakhir tentang masa depan: "Sebuah bintang akan terbit dari Yakub dan tongkat kerajaan bangkit dari Israel. Ia akan menghancurkan Moab dan semua musuh-musuh bangsa Israel."
Setelah usaha untuk mengutuk bangsa Israel gagal, Bileam dan Balak berpisah dan pulang ke tempatnya masing-masing.
Bangsa Israel Menyembah Baal-Peor
Setelah gagal mengutuki bangsa Israel secara langsung, Bileam memberi nasihat kepada para pemimpin bangsa Moab dan Midian untuk menjebak bangsa Israel. Caranya adalah dengan menggunakan perempuan-perempuan Moab dan Midian untuk menarik hati pria-pria Israel. Para perempuan ini ditugaskan untuk membuat orang-orang Israel melanggar perintah Allah melalui perzinahan dan penyembahan berhala, supaya bangsa Israel mendapat hukuman dari Allah sendiri.
Ternyata strategi bangsa Moab dan Midian berhasil. Ketika bangsa Israel tinggal di Sitim, mereka melakukan perzinahan dengan perempuan-perempuan Moab dan Midian. Pria-pria Israel diundang ke pesta korban sembelihan dewa-dewa mereka, ikut makan, dan menyembah dewa mereka yang disebut dewa Baal-Peor. Akibat ketidaksetiaan ini, Tuhan sangat marah kepada orang Israel.
Kata Tuhan kepada Musa, “Tangkaplah semua pemimpin gerombolan penyembah Baal di antara bangsa Israel dan bunuhlah mereka di hadapan-Ku. Gantunglah mereka di depan umum pada siang hari supaya kemarahan-Ku terhadap Israel reda.”
Kemudian berkatalah Musa kepada hakim-hakim Israel, “Kamu sekalian harus membunuh orang-orang dari suku kalian masing-masing yang menyembah para dewa Baal-Peor.”
Lalu hukuman Tuhan yaitu tulah yang parah mulai menyebar dan membuat banyak orang Israel mati.
Ketika bangsa Israel sedang menangis di depan pintu Kemah Suci karena takut akan kemarahan Tuhan, seorang pria Israel bernama Zimri bin Salu, anak seorang pemimpin suku Simeon, malah secara terang-terangan membawa seorang perempuan Midian bernama Kozbi ke dalam kemahnya di hadapan Musa dan seluruh bangsa Israel.
Melihat tindakan tersebut, Pinehas, yaitu cucu Imam Harun, anak Imam Eleazar pun bangkit. Ia mengambil tombak, lalu mengejar Zimri dan Kozbi ke dalam kemah. Pinehas menusuk mereka berdua sekaligus dengan tombak hingga mati.
Tindakan Pinehas memadamkan kemarahan Allah di tengah-tengah orang Israel. Setelah kematian Zimri dan Kozbi, tulah dari Tuhan berhenti. Total orang Israel yang mati akibat tulah itu mencapai 24.000 orang.
Tuhan membuat perjanjian dengan Pinehas. Tuhan berkata, "Aku menetapkan Pinehas dan keturunannya sebagai imam untuk selama-lamanya karena dia tidak rela Allahnya dikhianati dan dia sudah memulihkan hubungan bangsa Israel dengan-Ku.”
Setelah itu, Tuhan memerintahkan Musa untuk melawan dan menghabisi orang Midian sebagai pembalasan atas tipu daya mereka yang membuat bangsa Israel jatuh dalam penyembahan kepada dewa Baal-Peor.
Bangsa Israel Dihitung Sebelum Memasuki Tanah Kanaan
Tuhan berfirman kepada Musa dan Imam Eleazar anak Harun untuk menghitung kembali seluruh umat Israel menurut suku dan kaum keluarga mereka. Penghitungan ini merupakan sensus kedua sekaligus persiapan akhir sebelum bangsa Israel melangkah masuk dan menguasai Tanah Kanaan.
Pencatatan dilakukan di dataran Moab, di tepi Sungai Yordan dekat Yerikho.
Laskar perang tercatat sejumlah 601.730 orang: Terdiri dari laki-laki berusia 20 tahun ke atas yang sanggup berperang. Jumlah ini berasal dari 12 suku: Ruben, Simeon, Yehuda, Dan, Naftali, Gad, Asyer, Isakhar, Zebulon, Manasye, Efraim, Benyamin.
Suku Lewi tercatat sejumlah 23.000 orang: Terdiri dari laki-laki berusia 1 bulan ke atas. Suku Lewi tidak dihitung bersama laskar perang karena mereka dikuduskan khusus untuk pelayanan Kemah Suci dan mereka tidak akan mendapat tanah pusaka berupa wilayah tersendiri.
Tuhan juga memberikan petunjuk khusus mengenai pembagian tanah pusaka di tanah Kanaan. Suku yang anggotanya banyak akan menerima bagian tanah yang lebih luas, dan suku yang anggotanya sedikit akan menerima bagian yang lebih kecil. Penentuan letak wilayah bagi tiap-tiap suku dilakukan dengan cara diundi agar sesuai dengan ketetapan Tuhan.
Di antara seluruh laki-laki yang dicatat pada sensus kedua ini, tidak ada satu pun dari mereka yang pernah dicatat pada sensus pertama di Padang Gurun Sinai, kecuali Kaleb bin Yefune dan Yosua bin Nun.
Seluruh bangsa Israel generasi lama telah mati di padang gurun tepat seperti yang difirmankan Tuhan, sebagai hukuman atas peristiwa di Kadesh saat bangsa Israel tidak percaya dan memberontak setelah mendapat laporan dari 12 pengintai.
Sabtu, 25 Juli 2026
[28] Tantangan Bagi Musa dan Harun (Bilangan 16-20)
Pemberontakan Korah, Datan, dan Abiram
Suatu ketika, muncul kelompok yang ingin melawan kepemimpinan Musa dan Harun. Kelompok ini dipimpin oleh Korah dari suku Lewi, serta Datan, Abiram, dan On dari suku Ruben, didukung oleh 250 pemimpin masyarakat Israel yang berpengaruh.
Mereka mendatangi Musa dan Harun lalu berkata, "Kalian sudah keterlaluan! Semua orang di antara umat ini adalah orang-orang kudus, dan Tuhan ada di tengah-tengah kita. Jadi, kenapa kalian merasa lebih tinggi dari umat Tuhan?"
Mendengar itu, Musa bersujud. Ia lalu berkata kepada Korah dan pengikutnya, "Besok pagi, Tuhan sendiri yang akan menunjukkan siapa yang milik-Nya dan siapa yang kudus. Bawa tempat pembakaran dupa kalian masing-masing, isi dengan api dan ukupan di hadapan Tuhan."
Musa juga menegur Korah dengan tegas, "Dengar kamu, orang Lewi! Apakah tidak cukup bagimu bahwa Tuhan sudah memilih sukumu dari antara seluruh Israel untuk melayani di Kemah Tuhan? Sekarang kamu malah menuntut untuk jadi imam juga? Benar-benar keterlaluan!"
Keesokan harinya, Korah dan 250 pengikutnya berkumpul di depan pintu Kemah Suci sambil membawa tempat pembakaran dupa yang menyala. Tiba-tiba, kemuliaan Tuhan tampak kepada seluruh umat. Tuhan lalu menyuruh Musa dan Harun untuk menjauh dari kelompok pemberontak itu.
Musa berkata kepada seluruh orang Israel, "Menjauhlah dari kemah Korah, Datan, dan Abiram! Jangan sentuh apa pun milik mereka!"
Musa melanjutkan, "Jika orang-orang ini mati secara wajar seperti manusia biasa, berarti bukan Tuhan yang mengutus aku. Tetapi jika Tuhan melakukan sesuatu yang belum pernah terjadi, yaitu tanah terbelah dan menelan mereka hidup-hidup maka kalian akan tahu bahwa mereka telah menghina Tuhan."
Begitu Musa selesai berbicara, tanah di bawah kaki mereka tiba-tiba terbelah! Bumi terbuka dan menelan Korah, Datan, Abiram, beserta keluarga dan seluruh harta benda mereka hidup-hidup, lalu tanah itu menyatu kembali.
Pada saat yang sama, api keluar dari Tuhan dan membakar habis 250 orang yang membawa dupa tadi.
Setelah kejadian itu, Tuhan menyuruh Imam Eleazar (anak Harun) untuk mengumpulkan tempat-tempat pembakaran dupa dari tembaga milik orang-orang yang terbakar itu dan membuang apinya jauh-jauh. Tempat dupa dari tembaga itu lalu ditempa menjadi lembaran pelapis mezbah. Ini menjadi peringatan abadi bagi orang Israel agar tidak ada orang selain imam keturunan Harun yang berani membakar dupa di hadapan Tuhan.
Tongkat Harun Berbunga
Keesokan harinya, bukannya sadar, seluruh umat Israel justru menyalahkan Musa dan Harun. Mereka berteriak, "Kalian telah membunuh umat Tuhan!"
Seketika itu juga, awan menutupi Kemah Suci dan kemuliaan Tuhan tampak. Tuhan berfirman kepada Musa untuk menjauh dari umat itu karena Tuhan hendak membinasakan mereka dalam sekejap.
Menyadari Tuhan sudah sangat marah, juga tulah atau wabah penyakit sudah mulai menyerang umat Israel, Musa segera menyuruh Harun, "Cepat ambil tempat pembakaran dupa, isi dengan api dari mezbah dan ukupan, lalu berlarilah ke tengah-tengah umat untuk mengadakan pendamaian bagi mereka!"
Harun langsung berlari ke tengah-tengah jemaat. Ia berdiri di antara orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati sambil membakar dupa. Meskipun penyebaran tulah itu berhasil dihentikan, sudah 14.700 orang yang mati karena tulah itu.
Untuk menyelesaikan perdebatan tentang siapa yang berhak menjadi pemimpin ibadah, Tuhan memberi petunjuk lagi. Tuhan menyuruh Musa mengumpulkan 12 tongkat kayu dari para pemimpin suku Israel, ditambah satu tongkat atas nama Harun untuk suku Lewi. Nama masing-masing pemimpin ditulis pada tongkatnya, lalu semuanya diletakkan di dalam Kemah Suci di depan Tabut Perjanjian.
Tuhan berfirman, "Tongkat milik orang yang Kupilih akan bertunas."
Keesokan harinya, ketika Musa masuk ke dalam Kemah Suci, ternyata tongkat Harun bukan hanya bertunas, tetapi juga berbunga dan membuahkan buah badam! Sementara itu, tongkat para pemimpin suku lainnya tetap berupa kayu kering biasa.
Musa membawa keluar semua tongkat itu dan memperlihatkannya kepada orang Israel. Sejak saat itu, atas perintah Tuhan, tongkat Harun disimpan kembali di depan Tabut Perjanjian sebagai peringatan agar orang-orang Israel tidak lagi memberontak.
Air Keluar dari Batu
Memasuki tahun ke-40 pengembaraan di padang gurun, pada bulan pertama, bangsa Israel tiba di padang gurun Zin dan berkemah di Kadesh. Di sanalah Miryam meninggal dan dikuburkan.
Saat itu tidak ada air bagi bangsa Israel. Mereka pun mengerumuni Musa dan Harun sambil protes keras: "Lebih baik kami mati sejak awal bersama saudara-saudara kami! Kenapa kalian membawa umat Tuhan ke padang gurun ini? Supaya kami dan ternak kami mati di sini? Mengapa kalian membawa kami keluar dari Mesir ke tempat buruk ini, tempat yang tidak ada gandum, buah-buahan, bahkan tidak ada air minum?"
Musa dan Harun pun pergi ke pintu Kemah Suci lalu bersujud. Kemuliaan Tuhan tampak dan Tuhan berfirman, "Ambillah tongkatmu, kumpulkanlah umat itu. Bicaralah pada bukit batu di depan mata mereka supaya mengeluarkan air, maka umat Israel dan ternaknya akan dapat minum."
Maka Musa mengambil tongkat itu dari hadapan Tuhan dan mengumpulkan bangsa Israel di depan batu. Dengan marah Musa berkata, "Dengarlah hai para pemberontak! Haruskah kami mengeluarkan air dari batu ini untuk kalian?"
Musa mengangkat tangannya dan memukul batu itu dengan tongkatnya sampai dua kali. Maka memancarlah air dengan deras dari batu itu, sehingga umat Israel dan ternak mereka dapat minum.
Tetapi karena Musa tidak melakukan sesuai perintah Tuhan—yaitu hanya berbicara pada batu itu—Tuhan berkata kepada Musa dan Harun, "Karena kalian tidak percaya pada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan bangsa Israel, kalian tidak akan memimpin bangsa ini masuk ke tanah perjanjian."
Tempat itu kemudian disebut mata air Meriba, yang artinya "pertengkaran". Karena di situlah bangsa Israel bertengkar dengan Tuhan, dan Tuhan menunjukkan kekudusan-Nya di tengah-tengah mereka.
Bangsa Israel Tidak Boleh Lewat Negeri Edom
Dalam perjalanan dari Kadesh menuju Tanah Kanaan, bangsa Israel ingin melewati wilayah negeri Edom agar jalurnya lebih dekat. Bangsa Edom dianggap saudara oleh bangsa Israel karena mereka adalah keturunan Esau, kakak Yakub.
Musa mengirim utusan kepada Raja Edom untuk meminta izin lewat secara damai. Bangsa Israel berjanji tidak akan merusak ladang atau kebun anggur, dan jika mereka atau ternak mereka minum air di sana, mereka akan membayarnya. Mereka hanya akan berjalan di jalan utama.
Akan tetapi, Raja Edom menolak keras dan bahkan mempersiapkan pasukan tentara yang kuat untuk menghadang. Melihat hal itu, bangsa Israel memutuskan untuk berbalik dan mengambil rute memutar.
Kematian Harun
Bangsa Israel lalu melanjutkan perjalanan dari Kadesh dan tiba di Gunung Hor. Di sana, Tuhan berfirman kepada Musa dan Harun bahwa saatnya telah tiba bagi Harun untuk meninggal dunia. Harun tidak diizinkan masuk ke Tanah Kanaan karena pelanggaran mereka di mata air Meriba.
Sesuai perintah Tuhan, Musa mengajak Harun dan Eleazar (anak Harun) naik ke atas Gunung Hor di depan mata seluruh umat. Di puncak gunung, Musa melepaskan pakaian imam dari Harun dan mengenakannya kepada Eleazar sebagai tanda peralihan jabatan Imam Besar.
Harun meninggal dunia di puncak Gunung Hor pada usia 123 tahun. Setelah Musa dan Eleazar turun dari gunung, seluruh umat Israel berkabung atas kematian Harun selama 30 hari.
Sabtu, 27 Juni 2026
[27] Pemberontakan Bangsa Israel (Bilangan 11-15, Ulangan 1)
Sabtu, 30 Mei 2026
[26] Pencatatan dan Pembagian Tugas Bangsa Israel (Bilangan 1-10)
Pencatatan Bangsa Israel
Ketika masih di kaki Gunung Sinai, Tuhan juga memerintahkan Musa untuk menghitung jumlah pasukan Israel, yaitu laki-laki yang berusia 20 tahun ke atas yang sanggup berperang. Penghitungan pasukan ini berlaku untuk setiap suku kecuali suku Lewi. Tujuan penghitungan ini adalah mempersiapkan bangsa Israel untuk menghadapi perjalanan dan peperangan hingga mereka bisa memiliki tanah Kanaan yang dijanjikan Tuhan.
Total pasukan militer yang tercatat adalah sebanyak 603.550 orang, yang terdiri dari:
Suku Yehuda dipimpin oleh Nahason bin Aminadab. Tercatat sejumlah 74.600 orang.
Suku Isakhar dipimpin oleh Netaneel bin Zuar. Tercatat sejumlah 54.400 orang.
Suku Zebulon dipimpin oleh Eliab bin Helon. Tercatat sejumlah 57.400 orang.
Suku Ruben dipimpin oleh Elizur bin Syedeur. Tercatat sejumlah 46.500 orang.
Suku Simeon dipimpin oleh Selumiel bin Zurisyadai. Tercatat sejumlah 59.300 orang.
Suku Gad dipimpin oleh Elyasaf bin Rehuel. Tercatat sejumlah 45.650 orang.
Suku Efraim dipimpin oleh Elisama bin Amihud. Tercatat sejumlah 40.500 orang.
Suku Manasye dipimpin oleh Gamaliel bin Pedazur. Tercatat sejumlah 32.200 orang.
Suku Benyamin dipimpin oleh Abidan bin Gideoni. Tercatat sejumlah 35.400 orang.
Suku Dan dipimpin oleh Ahiezer bin Amisyadai. Tercatat sejumlah 62.700 orang.
Suku Asyer dipimpin oleh Pagiel bin Okran. Tercatat sejumlah 41.500 orang.
Suku Naftali dipimpin oleh Ahira bin Enan. Tercatat sejumlah 53.400 orang.
Suku Lewi tidak dimasukkan dalam penghitungan pasukan militer karena mereka dikhususkan untuk melakukan pekerjaan kudus di Kemah Suci. Ketika dihitung secara menyeluruh dari yang berusia satu bulan ke atas, jumlah laki-laki suku Lewi adalah 22.000 orang. Namun, mereka yang berada di usia produktif (30-50 tahun) dan memenuhi syarat untuk melakukan pekerjaan fisik serta pengangkutan Kemah Suci berjumlah 8.580 orang.
Musa dan para imam (Harun dan anak-anaknya) memegang otoritas tertinggi atas seluruh ibadah, hukum, dan komunikasi dengan Tuhan. Sementara itu, anak-anak Harun juga bertindak sebagai pengawas bagi pekerjaan seluruh suku Lewi yang terbagi menjadi tiga kaum:
Kaum Kehat dipimpin oleh Elisafan bin Uziel. Mereka bertanggung jawab di bawah pengawasan imam Eleazar untuk mengurus dan mengangkut barang-barang mahakudus (termasuk Tabut Perjanjian, meja roti sajian, kandil, mezbah-mezbah, dan perkakas tempat kudus).
Kaum Gerson dipimpin oleh Elyasaf bin Lael. Mereka bertanggung jawab di bawah pengawasan imam Itamar untuk mengurus dan mengangkut seluruh komponen kain Kemah Suci (termasuk tudung, tirai pintu, layar pelataran, dan tirai pintu pelataran).
Kaum Merari dipimpin oleh Zuriel bin Abihail. Mereka bertanggung jawab di bawah pengawasan imam Itamar untuk mengurus dan mengangkut kerangka keras dan fondasi fisik Kemah Suci (termasuk kayu-kayu papan, tiang-tiang, alas, patok, serta tali kemah dan pelataran).
Barisan Perjalanan dan Formasi Perkemahan Bangsa Israel
Setiap kali berpindah tempat, bangsa Israel harus bergerak, berbaris, dan berkemah sesuai dengan ketentuan dari Tuhan.
A. Urutan Barisan Perjalanan (Saat Berangkat)
Sebelum perjalanan dimulai, para imam (Harun, dan anak-anaknya) masuk terlebih dahulu ke Kemah Suci untuk membungkus semua perkakas paling kudus (seperti Tabut Perjanjian, kandil, dan mezbah) dengan kain penutup khusus. Orang Lewi selain imam tidak boleh melihat atau menyentuh barang-barang kudus dalam kondisi terbuka.
Setelah tanda sangkakala ditiup, barisan bergerak dengan urutan sebagai berikut:
1. Kubu Yehuda Berangkat paling awal di bawah panji-panji mereka. Barisan ini dipimpin oleh suku **Yehuda**, diikuti suku **Isakhar** dan **Zebulon**.
2. Segera setelah kubu Yehuda bergerak, Kemah Suci dibongkar. **Kaum Gerson dan kaum Merari** dari suku Lewi berangkat mengangkut komponen kain, tirai, dan rangka keras Kemah Suci menggunakan kereta-kereta yang ditarik lembu.
3. Lalu kubu Ruben mulai bergerak di bawah panji-panji mereka. Barisan ini dipimpin oleh suku **Ruben**, diikuti suku **Simeon** dan **Gad**.
4. Setelah itu **Kaum Kehat** dari suku Lewi berangkat membawa barang-barang yang paling kudus yang sudah dibungkus oleh para imam tadi. Mereka mengangkutnya di atas pundak dengan kayu pengusung.
5. Selanjutnya **Kubu Efraim:** Mulai bergerak di bawah panji-panji mereka. Barisan ini dipimpin oleh suku **Efraim**, diikuti suku **Manasye** dan **Benyamin**.
6. Terakhir, **Kubu Dan** berangkat sebagai barisan penutup, dipimpin oleh suku **Dan**, diikuti suku **Asyer** dan **Naftali**.
B. Formasi Berkemah (Saat Menetap)
Sesampainya di tempat tujuan, Kaum Gerson dan kaum Merari dari suku Lewi langsung mendirikan struktur Kemah Suci tepat di pusat perkemahan. Pintu Kemah Suci menghadap ke arah Timur.
Barang-barang Kudus disusun di dalam Kemah Suci oleh imam setelah kaum Kehat dari suku Lewi sampai.
Setelah Kemah Suci berdiri, seluruh bangsa berkemah dengan formasi berlapis:
#### 1. Lapisan Dalam (Suku Lewi & Para Imam)
Suku Lewi dan para imam berkemah paling dekat, membenteng posisi Kemah Suci di empat penjuru mata angin:
* Sisi Timur (Depan Pintu) adalah tempat berkemah Musa, Harun, dan para imam (keturunan Harun).
* Sisi Selatan (samping) adalah tempat berkemah Kaum Kehat
* Sisi Barat (belakang): adalah tempat berkemah Kaum Gerson.
* Sisi Utara (samping): adalah tempat berkemah Kaum Merari.
#### 2. Lapisan Luar (12 Suku Bangsa Israel)
Selanjutnya, 12 suku lainnya berkemah mengelilingi lapisan dalam atau suku Lewi, dibagi menjadi 4 kubu besar:
* **Sisi Timur (Paling Depan):** Kubu Yehuda (Suku Yehuda, Isakhar, dan Zebulon).
* **Sisi Selatan (Sayap Kanan):** Kubu Ruben (Suku Ruben, Simeon, dan Gad).
* **Sisi Barat (Paling Belakang):** Kubu Efraim (Suku Efraim, Manasye, dan Benyamin).
* **Sisi Utara (Sayap Kiri):** Kubu Dan (Suku Dan, Asyer, dan Naftali).
Tuhan Memimpin Perjalanan Bangsa Israel
Sejak Kemah Suci didirikan, awan Tuhan menutupi Kemah Suci pada siang hari, dan pada waktu malam awan itu kelihatan seperti tiang api.
Setiap kali awan Tuhan naik dari atas Kemah Suci, itulah tanda bagi bangsa Israel untuk membongkar tenda dan bergerak mengikuti arah awan. Di tempat awan itu berhenti, di sanalah mereka akan berkemah. Selama awan itu menetap di atas Kemah Suci—baik sehari, sebulan, bahkan setahun—bangsa Israel akan tetap tinggal dan tidak akan berangkat.
Selain memimpin melalui tanda awan, Tuhan juga memerintahkan Musa untuk membuat dua buah nafiri dari perak tempaan sebagai alat komunikasi dan pemberian aba-aba bagi jutaan umat Israel. Nafiri ini khusus ditiup oleh para imam (anak-anak Harun) dengan dua jenis tiupan:
-
1. Tiupan Panjang & Datar untuk Tanda Berkumpul:
- Jika kedua nafiri ditiup: Semua umat Israel harus segera berkumpul di depan pintu Kemah Suci.
- Jika hanya satu nafiri ditiup: Hanya para pemimpin dan kepala suku Israel yang wajib datang berkumpul.
-
2. Tiupan Berirama / Terputus-putus untuk Tanda Berangkat:
- Tiupan pertama: tanda Kubu Timur (Kubu Yehuda) untuk berjalan.
- Tiupan kedua: tanda Kubu Selatan (Kubu Ruben) untuk berjalan.
- Tiupan ketiga: tanda Kubu Barat (Kubu Efraim) untuk berjalan.
- Tiupan keempat: tanda Kubu Utara (Kubu Dan) untuk berjalan.
Meninggalkan Gunung Sinai menuju Padang Gurun Paran
Bangsa Israel menetap di kaki Gunung Sinai selama kira-kira 11 bulan. Di sanalah mereka menerima Hukum Taurat, membangun Kemah Suci, belajar keteraturan ibadah, dihitung dalam sensus, serta menerima pembagian tugas yang spesifik.
Akhirnya, pada tahun kedua setelah keluar dari Mesir, tepatnya pada tanggal dua puluh, bulan yang kedua, awan Tuhan naik dari atas Kemah Suci. Untuk pertama kalinya, bangsa Israel bergerak meninggalkan Gunung Sinai secara teratur sesuai formasi baru yang Tuhan perintahkan, hingga awan itu memandu mereka sampai ke Padang Gurun Paran.
Setiap kali perjalanan dimulai dan Tabut Perjanjian mulai diangkat, Musa akan berkata:
"Bangkitlah, TUHAN, buatlah musuh-Mu tercerai-berai dan semua yang membenci-Mu melarikan diri!"
Dan setiap kali Tabut Perjanjian itu berhenti untuk berkemah, Musa akan berkata:
"Kembalilah, TUHAN, kepada beribu-ribu umat Israel ini."
Sabtu, 28 Maret 2026
[25] Upacara Ibadah dan Cara Hidup Kudus Bangsa Israel (Imamat 1-27)
Tuhan mengatur waktu-waktu yang harus diingat dan dirayakan bangsa Israel.
Pertama ada hari Sabat, yaitu tiap hari ketujuh dalam satu minggu. Pada hari Sabat bangsa Israel mengingat bahwa Tuhan beristirahat pada hari ketujuh ketika menciptakan bumi, karena itu mereka juga berhenti dari segala pekerjaan dan mengadakan pertemuan ibadah yang kudus.
Lalu, dalam siklus tahunan, ada 7 hari raya yang diperingati bangsa Israel.
(1) Hari Raya Paskah dirayakan tiap tanggal 14 malam hari di bulan pertama. Pada hari Paskah, bangsa Israel mengingat malam ketika mereka selamat dari maut saat tulah ke-10 berlangsung di Mesir. Paskah diperingati dengan menyembelih dan makan daging domba Paskah.
Perayaan Paskah dilanjutkan dengan (2) Hari Raya Roti Tidak Beragi, yaitu tidak boleh makan roti beragi selama 7 hari dari tanggal 15 sampai 21 bulan pertama, untuk mengingat momen bangsa Israel keluar dari Mesir dengan terburu-buru.
Pada pertengahan bulan pertama, sesudah hari Sabat pada awal panen, ada (3) Hari Raya Hulu Hasil/ Buah Pertama untuk mengingat momen bangsa Israel masuk tanah Kanaan dan menikmati hasil tanah itu. Setiap tahun, seberkas hasil panen pertama harus diunjukkan imam kepada Tuhan sebelum boleh dimakan bangsa Israel.
Pada hari ke-50 atau 7 minggu setelah Hari Raya Hulu Hasil ada (4) Hari Raya Pentakosta yang menandai berakhirnya musim panen gandum. Bangsa Israel merayakannya dengan mengunjukkan dua roti yang baru bersama korban-korban lainnya dan mengadakan pertemuan jemaat yang kudus.
--
Pada bulan ketujuh tanggal 1 bangsa Israel mempersiapkan diri memasuki bulan yang paling suci dengan berhenti bekerja dan meniup serunai sepanjang hari pada (5) Hari Raya Meniup Serunai.
9 hari kemudian pada bulan ketujuh tanggal 10 ada (6) Hari Raya Pendamaian, hari paling kudus untuk penyucian dosa bangsa Israel. Ketika Hari Raya Pendamaian, bangsa Israel harus merendahkan diri dengan berpuasa dan tidak boleh bekerja. Imam Besar harus mempersembahkan korban bakaran dan korban penghapus dosa mewakili para imam dan bangsa Israel, lalu mengadakan pendamaian dengan memercikkan darah korban itu di dalam Ruang Mahakudus.
5 hari kemudian pada bulan ketujuh tanggal 15, selama tujuh hari bangsa Israel merayakan (7) Hari Raya Pondok Daun dengan tinggal di pondok-pondok untuk mengingat masa di mana mereka mengembara di padang gurun setelah keluar dari Mesir.
Tuhan juga mengatur tahun-tahun khusus yaitu: tiap tahun ketujuh menjadi Tahun Sabat, dimana tanah tidak boleh ditanami atau dituai. Apa yang tumbuh sendiri di tanah tersebut boleh dimakan oleh orang miskin dan hewan liar.
Lalu setiap tahun ke-50, setelah tujuh kali tahun Sabat, bangsa Israel harus memperingati Tahun Yobel atau tahun pembebasan, dengan cara meniup sangkakala, membebaskan budak-budak Israel, menghapuskan hutang, dan mengembalikan tanah pusaka yang pernah terjual kepada keluarga pemilik asalnya.
Sabtu, 07 Maret 2026
[24] Bangsa Israel Membuat Kemah Suci (Keluaran 35-40)
Persiapan Membuat Kemah Suci
Musa menyampaikan kepada bangsa Israel perintah Tuhan Allah di atas gunung Sinai, yaitu bangsa Israel harus membuat Kemah Suci dan segala perlengkapannya, juga pakaian para imam. Kemah Suci akan menjadi pusat kegiatan ibadah bangsa Israel dan tempat mereka bertemu dengan Allah. Sedangkan imam akan menjadi perwakilan bangsa Israel ketika beribadah kepada Allah.
Musa memberitahu bahan apa saja yang diperlukan untuk membuat Kemah Suci dan perlengkapannya kepada bangsa Israel. Maka bangsa Israel mengumpulkan bahan-bahan itu kepada Musa sebagai persembahan bagi Tuhan.
Musa juga memanggil orang-orang yang memiliki keterampilan yang dibutuhkan dalam membuat kemah, perkakas, dan pakaian imam untuk ikut serta dalam pekerjaan ini. Sebagai pemimpin para pekerja, Tuhan memilih Bezaleel bin Huri bin Hur dari suku Yehuda dan Aholiab bin Ahisamakh dari suku Dan. Tuhan sudah memberi Roh-Nya, juga memperlengkapi mereka dengan kebijaksanaan dan kemampuan untuk mengajarkan keahlian mereka kepada para pekerja lainnya. Kepada semua pekerja yang ikut serta, Tuhan juga memberi keahlian dan kemampuan dalam bidang masing-masing. Ada yang ahli menempa logam, membuat peralatan kayu, memasang batu permata, juga menenun kain.
Pekerjaan Membuat Kemah Suci dan Pakaian Imam Selesai
Bezaleel, Aholiab, dan para pekerja pun menyelesaikan pekerjaan mereka tepat seperti perintah Tuhan melalui Musa.
Mereka membuat:
-Kemah
-Tabut perjanjian, tempat menyimpan dua lempeng batu yang bertuliskan hukum Allah
-Meja roti sajian
-Tiang lampu pelita
-Mezbah dupa untuk pembakaran wewangian
-Mezbah korban bakaran
-Bejana pembasuhan
-Pagar pembatas pelataran
-Juga: pakaian imam
Setelah pembuatannya selesai, Kemah Suci didirikan dan perlengkapannya disusun. Peristiwa itu terjadi pada hari pertama bulan pertama, pada tahun kedua setelah bangsa Israel keluar dari Mesir. Harun dan anak-anaknya pun diurapi sebagai imam.
Kemudian awan kemuliaan Tuhan memenuhi Kemah Suci. Musa tidak bisa masuk selama kemuliaan Tuhan masih memenuhi kemah itu.
Sepanjang perjalanan bangsa Israel, setiap kali awan Tuhan naik dari atas kemah suci, bangsa Israel akan berangkat melanjutkan perjalanan mereka. Selama awan Tuhan tidak naik dari kemah, bangsa Israel akan tetap tinggal di tempat mereka berkemah. Awan Tuhan berdiam di atas kemah itu pada siang hari dan berubah menjadi api pada malam hari. Sehingga kehadiran Allah dapat terlihat setiap saat oleh seluruh bangsa Israel sepanjang perjalanan mereka.
Sabtu, 21 Februari 2026
[23] Bangsa Israel Menyembah Patung Lembu Emas (Keluaran 32-34, Ulangan 9-10)
Maka Harun membuat sebuah patung anak lembu emas dari perhiasan yang dikumpulkan orang-orang Israel.
Melihat patung itu, bangsa Israel berkata, “Inilah dewa kita yang sudah membawa kita keluar dari Mesir!”
Ketika Harun melihat bahwa umat merasa senang, dia mendirikan mezbah di depan patung anak lembu emas itu dan berkata, “Besok kita akan mengadakan perayaan bagi Tuhan!”
Keesokan harinya bangsa Israel bangun pagi-pagi untuk mempersembahkan korban kepada patung itu. Lalu mereka makan dan minum serta berpesta pora.
Sementara itu, di atas gunung Sinai Tuhan berkata kepada Musa, “Segeralah turun! Umat yang kamu bawa keluar dari Mesir sudah menyimpang dari perintah-Ku! Mereka sudah membuat patung berhala berbentuk anak lembu, lalu beribadah kepadanya!”
Kata Tuhan lagi, “Aku sudah melihat betapa keras kepalanya umat ini. Biarlah Aku membinasakan mereka semua! Tetapi kamu akan kubuat menjadi suatu bangsa yang besar!”
Tetapi Musa memohon kepada Tuhan, “Janganlah membinasakan umat-Mu yang Engkau bawa keluar dari Mesir dengan kuasa dan kekuatan-Mu.
Jangan sampai orang Mesir berkata, ‘Tuhan membawa umat Israel keluar dari Mesir hanya untuk memusnahkan mereka.’
Ingatlah juga janji-Mu kepada Abraham, Isak, dan Yakub, bahwa Engkau akan memberikan tanah perjanjian-Mu pada keturunan mereka.”
Maka Tuhan tidak jadi membinasakan umat-Nya.
Kemudian Musa berbalik dan turun dari gunung sambil memegang dua lempengan batu yang bertuliskan perintah-perintah Allah yang ditulis oleh Allah sendiri.
Yosua dan Musa pun turun gunung ke arah perkemahan. Dari jauh mereka sudah mendengar keramaian pesta bangsa Israel.
Ketika Musa sudah dekat dengan perkemahan itu, dia pun melihat patung anak lembu emas dan orang-orang sedang menari-nari. Melihat itu Musa menjadi sangat marah. Dia melemparkan kedua lempengan batu di tangannya ke tanah sampai hancur.
Musa mengambil patung anak lembu emas itu. Lalu Musa dibantu beberapa orang menghancurkan patung itu sampai halus, menaburkannya ke air, lalu menyuruh bangsa Israel meminum air itu.
Hukuman karena Menyembah Patung Lembu Emas
Melihat bangsa Israel yang menyembah patung lembu emas, Musa sangat marah kepada Harun.
Tetapi Harun berkata, "Kamu sudah tahu betapa jahatnya bangsa ini. Melihat kamu pergi lama sekali, mereka meminta aku membuat tuhan untuk memimpin mereka."
Musa yang melihat kesalahan bangsa Israel yang sangat besar lalu berdiri di pintu gerbang perkemahan dan berkata, "Siapa yang memihak Tuhan, bergabung denganku!"
Maka seluruh suku Lewi berkumpul di dekat Musa. Musa memerintahkan kepada orang-orang Lewi, "Bawa pedang kalian dan berjalanlah ke seluruh perkemahan, hukumlah orang-orang yang sudah melanggar perintah Tuhan!"
Maka orang-orang Lewi melakukan perintah Musa dan menghukum kira-kira 3000 orang Israel yang menyembah patung.
Musa berkata kepada suku Lewi, "Hari ini kamu sudah mengkhususkan diri untuk melayani Tuhan dan menaati perintah-Nya. Oleh karena itu, Tuhan akan memberkatimu!"
Keesokan harinya, Musa memanggil orang-orang Israel yang tersisa dan berkata, "Kalian telah berbuat dosa besar. Tetapi aku akan kembali menghadap Tuhan untuk meminta pendamaian atas dosamu."
Musa kembali menghadap Tuhan dan berkata, "Bangsa ini sudah membuat dosa besar. Tapi aku mohon ampunilah dosa mereka. Jika tidak, biarlah namaku juga dihapuskan dari kitab daftar nama umat-Mu."
Tetapi Allah berkata pada Musa, "Yang akan aku hapus dari kitab itu hanya orang yang berdosa kepada-Ku. Tetapi pergilah dan pimpinlah bangsa Israel yang tersisa ke tanah yang telah Kujanjikan, dan malaikat-Ku akan berjalan di depanmu. Akan tiba saatnya Aku menghukum mereka atas dosa mereka."
Kemudian Tuhan mendatangkan wabah pada bangsa Israel atas dosa mereka menyembah patung lembu emas.
Musa Meminta Penyertaan Tuhan
Ketika tiba waktunya, Tuhan menyuruh bangsa Israel melanjutkan perjalanan. Tuhan berkata kepada Musa, "Pergilah dari tempat ini menuju negeri yang Kujanjikan. Tetapi Aku tidak akan berjalan bersama kalian, karena kalian adalah bangsa yang tidak taat. Kalau kalian membuat Aku marah bisa saja Aku membinasakan kalian di jalan. Jadi malaikat-Ku yang akan berjalan di depan kalian."
Mendengar perkataan Tuhan, bangsa Israel sedih dan merendahkan diri dengan melepas semua perhiasan mereka.
Musa memohon penyertaan Tuhan dengan berkata, "Jika Engkau tidak menyertai kami, jangan suruh kami pergi dari sini. Bagaimana orang akan tahu bahwa Tuhan berkenan pada bangsa Israel? Justru yang membedakan kami dari bangsa-bangsa lain, adalah karena kehadiran-Mu bersama kami! "
Tuhan mendengar permohonan Musa dan berkata, "Permintaan-Mu akan Kulakukan, karena Aku berkenan kepadamu dan sudah mengenalmu."
Musa juga memohon untuk diperlihatkan kemuliaan Tuhan. Tuhan berkata Ia juga akan memenuhi permohonan itu.
Maka Tuhan menyuruh Musa kembali naik ke gunung Sinai. Sesuai perintah Tuhan, Musa kembali naik dengan membawa dua lempengan batu yang baru yang telah dipahatnya.
Lalu Tuhan turun dan berjalan lewat di depan Musa sehingga Musa bisa melihat kemulian-Nya dari belakang.
Musa sujud menyembah Tuhan dan memohon lagi, "Ya Tuhan, jika Engkau sungguh berkenan kepadaku, aku mohon berjalanlah bersama kami. Ampunilah dosa kami dan jadikanlah kami bangsa kepunyaan-Mu."
Tuhan menjawab, "Aku meneguhkan kembali perjanjian-Ku dengan kalian. Aku akan melakukan lagi perbuatan-perbuatan ajaib di depan bangsa Israel dan menepati janji-Ku memberikan tanah perjanjian. Tetapi kalian harus taat pada-Ku. Kalian tidak boleh menyembah dewa asing dan tidak boleh lalai melakukan ibadah yang Kuperintahkan."
Musa tinggal di gunung Sinai lagi selama empat puluh hari empat puluh malam, dan selama itu ia tidak makan roti dan tidak minum air. Tuhan menuliskan kata-kata perjanjian, yaitu sepuluh perintah Allah, pada dua lempengan batu yang disiapkan Musa.
Sewaktu Musa turun dari gunung Sinai dengan membawa kedua lempengan batu di tangannya, ia tidak sadar wajahnya masih bercahaya setelah berbicara dengan Tuhan. Musa menyampaikan perintah Tuhan kepada bangsa Israel, dan ia menutupi mukanya supaya bangsa Israel tidak takut melihatnya.
Sabtu, 24 Januari 2026
[22] Bangsa Israel Belajar Beribadah Kepada Allah (Keluaran 18-31, Ulangan 5)
- Jangan menyembah allah lain selain Aku
- Jangan membuat berhala dalam bentuk apapun dan jangan menyembahnya
- Jangan menyebut nama-Ku dengan sembarangan dan dengan maksud yang salah
- Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat, hentikanlah segala pekerjaan untuk menghormati Aku
- Hormatilah ayah dan ibumu
- Jangan membunuh
- Jangan berzinah
- Jangan mencuri
- Jangan mengucapkan fitnah atau hal yang tidak benar tentang orang lain
- Jangan mengingini milik orang lain
Sabtu, 06 Desember 2025
[21] Bangsa Israel di Padang Gurun (Keluaran 15-17)
Jumat, 21 November 2025
[20] Bangsa Israel Keluar dari Mesir (Keluaran 12-15)
Bangsa Israel Memulai Perjalanan
Setelah tulah ke-10 terjadi, raja Mesir Dan rakyat Mesir mendesak bangsa Israel untuk segera meninggalkan Mesir. Mereka takut akan semakin banyak bencana dari Tuhan bila bangsa Israel terus ada di negeri mereka.
Sesuai perintah Musa, sebelum berangkat bangsa Israel meminta perhiasan emas, perak, dan pakaian dari orang-orang Mesir tetangga mereka.
Tuhan membuat rakyat Mesir mau memberikan segala sesuatu yang diminta oleh bangsa Israel dengan rela hati. Dengan cara demikian, bangsa Israel membawa keluar harta kekayaan orang Mesir.
Bangsa Israel keluar dari Mesir setelah 430 tahun lamanya tinggal di Mesir.
Jumlah laki-laki dewasa yang berangkat sekitar 600.000 orang, belum terhitung perempuan dan anak-anak. Ada juga orang-orang yang bukan keturunan Israel ikut serta. Dan ada juga kawanan hewan ternak yang sangat banyak.
Musa membawa juga tulang-tulang Yusuf, leluhur bangsa Israel, sesuai janji bangsa Israel dahulu pada Yusuf.
Dalam perjalanan bangsa Israel, Tuhan selalu bergerak di depan mereka untuk menuntun perjalanan mereka. Pada siang hari, Tuhan menuntun mereka dalam bentuk tiang awan, dan pada malam hari dalam bentuk tiang api yang menerangi mereka. Dengan begitu, mereka dapat melakukan perjalanan baik siang maupun malam dengan mengikuti tiang awan dan tiang api itu.
Tuhan tidak menuntun mereka melalui jalur utama yang melintasi negeri orang Filistin, sekalipun jalur utama itu lebih dekat untuk sampai ke Kanaan. Tuhan tidak ingin bangsa Israel menjadi takut dan ingin kembali ke Mesir kalau diserang musuh di jalur itu.
Jadi Tuhan membawa bangsa Israel melalui jalan memutar melintasi padang belantara menuju Laut Merah.
Perjalanan bangsa Israel dimulai dari Ramses di Mesir, lalu mereka ke Sukot. Setelah meninggalkan Sukot, mereka berkemah di Etam, di tepi padang belantara.
Kemudian TUHAN berkata kepada Musa, “Perintahkanlah umat Israel untuk kembali dan berkemah di tepi laut di Pi Hahirot, yang terletak di antara kota Migdol dan Laut Merah, berhadapan dengan Baal Zefon.
Nanti raja Mesir akan berubah pikiran Dan berusaha mengejar kalian. Saat itu Aku akan mengalahkan raja Mesir beserta seluruh pasukannya, dan semua orang akan melihat kemuliaan-Ku, Dan bahwa Akulah Tuhan.” Maka bangsa Israel berkemah di sana sesuai perintah Tuhan.
Bangsa Israel Menyeberangi Laut
Sewaktu raja Mesir diberitahu bahwa bangsa Israel sudah melarikan diri, raja dan para pejabatnya berubah pikiran lalu berkata, “Mengapa kita membiarkan bangsa Israel pergi?! Sekarang kita jadi kehilangan budak!”
Raja Mesir pun menyuruh supaya 600 kereta perang disiapkan, juga para tentara yang akan ikut bersamanya.
Seluruh pasukan Mesir, termasuk semua pasukan berkuda, kereta, dan pengendaranya, cepat-cepat mengejar umat Israel, dan mereka berhasil menyusul sampai perkemahan Israel di dekat Pi Hahirot, di depan Baal Zefon yang berada di tepi Laut Merah atau yang disebut juga Laut Teberau.
Ketika bangsa Israel melihat raja Mesir dan pasukannya mendekat, mereka sangat ketakutan dan berseru minta tolong kepada Tuhan.
Bangsa Israel juga marah kepada Musa. Kata mereka, “Kamu sudah membuat kami celaka dengan membawa kami keluar dari Mesir! Bukankah dulu kami pernah berkata, ‘Lebih baik hidup sebagai budak orang Mesir daripada mati di padang belantara!’”
Tetapi Musa menjawab mereka, “Jangan takut! Berdirilah teguh dan lihatlah yang akan Tuhan lakukan hari ini untuk menyelamatkan kita! Tuhan yang akan berperang bagi kita, dan kita tidak perlu melakukan apa-apa.”
Tuhan berkata kepada Musa, “Perintahkanlah bangsa Israel untuk berjalan maju! Angkatlah tongkatmu dan arahkanlah ke atas laut. Laut itu akan terbelah agar umat Israel bisa berjalan menyeberanginya di atas tanah kering. Pasukan Mesir akan mengejar bangsa Israel ke tengah laut, dan Aku akan mengalahkan raja Mesir beserta seluruh pasukannya, supaya orang Mesir dan bangsa Israel melihat kemuliaan-Ku.”
Kemudian malaikat dan tiang awan yang sebelumnya berjalan di depan bangsa Israel berpindah ke belakang mereka, memisahkan perkemahan bangsa Israel dan pasukan Mesir. Menjelang malam, tiang itu membawa kegelapan di sisi pasukan Mesir, tapi tetap menerangi bangsa Israel. Dengan demikian, pasukan Mesir tidak dapat mendekati bangsa Israel sepanjang malam itu.
Lalu Musa mengarahkan tongkatnya ke atas laut. Maka Tuhan membuat angin timur bertiup sangat kencang sepanjang malam sehingga air laut terbelah dua dan dasar laut menjadi kering. Bangsa Israel berjalan di atas tanah yang kering menyeberangi laut, sementara sisi kiri dan kanan mereka dipagari oleh dinding air.
Tetapi seluruh pasukan Mesir, mengejar bangsa Israel hingga ke tengah laut. Menjelang matahari terbit, Tuhan yang berada di dalam tiang api dan awan, membuat pasukan Mesir menjadi kacau. Tuhan membuat roda-roda kereta tentara Mesir macet sehingga mereka susah maju. Pasukan Mesir panik Dan berkata, “Mari kita lari dari sini! Tuhan bangsa Israel sedang berperang melawan kita!”
Tuhan berkata kepada Musa, “Arahkanlah tongkatmu ke atas laut, supaya air laut berbalik dan menutupi semua pasukan Mesir.”
Maka menjelang pagi sesudah semua bangsa Israel menyeberang, Musa mengarahkan tongkatnya ke atas laut, dan air laut menyatu kembali seperti semula. Pasukan Mesir berusaha melarikan diri, tetapi Tuhan menenggelamkan mereka di tengah laut. Air laut tiba-tiba berbalik dan menutupi semua pasukan berkuda, pengendara kereta, bahkan semua pasukan raja Mesir yang mengejar umat Israel ke tengah laut. Tidak ada seorang pun yang selamat.
Pada hari itu, Tuhan menyelamatkan bangsa Israel dari pasukan Mesir, dan orang Israel melihat tentara-tentara Mesir yang sudah mati terdampar di pantai.
Ketika bangsa Israel melihat betapa besarnya kuasa Tuhan, mereka jadi takut kepada Tuhan dan kepada Musa.
Musa dan bangsa Israel menyanyikan puji-pujian kepada Tuhan. Miryam kakak Musa juga memimpin perempuan bangsa Israel menyanyi dan menari dengan rebana, untuk memuji kebesaran Tuhan.
Sabtu, 15 November 2025
[20] Bangsa Israel Keluar dari Tanah Mesir (Keluaran 13-15)
Bangsa Israel Keluar dari Mesir
Setelah tulah kesepuluh terjadi, rakyat Mesir mendesak umat Israel untuk segera meninggalkan negeri itu.
Sesuai perintah Musa sebelumnya, bangsa Israel meminta perhiasan emas, perak, dan pakaian dari orang Mesir tetangga mereka. Tuhan membuat rakyat Mesir bermurah hati terhadap umat Israel, dan mereka memberikan harta benda mereka, apapun yang diminta oleh orang Israel.
Hari itu, setelah 430 tahun bangsa Israel tinggal di Mesir, akhirnya mereka meninggalkan negeri itu.
Jumlah laki-laki dewasa sekitar 600.000 orang, belum termasuk perempuan dan anak-anak.
Sejumlah besar orang yang bukan keturunan Israel juga ikut serta. Dan ada kawanan ternak yang sangat banyak.
Musa membawa tulang-tulang Yusuf bersamanya, karena Yusuf sudah meminta umat Israel berjanji, “Allah pasti akan datang menolong kalian. Pada waktu itu, kalian harus membawa tulangku keluar dari Mesir.”
Kemudian umat Israel berjalan dari Rameses ke Sukot.
Tuhan selalu bergerak di depan bangsa Israel untuk menuntun perjalanan mereka. Pada siang hari, Tuhan menuntun mereka dalam bentuk tiang awan, dan pada malam hari dalam bentuk tiang api yang menerangi mereka. Dengan begitu, mereka dapat melakukan perjalanan baik siang maupun malam dengan mengikuti tiang awan dan tiang api itu.
Tuhan tidak menuntun mereka melalui jalan utama yang melintasi negeri orang Filistin, sekalipun jaraknya lebih dekat. Allah berkata, “Seandainya mereka pergi melalui jalan itu dan diserang musuh, bisa-bisa mereka berubah pikiran dan kembali ke Mesir.”
Jadi, Tuhan membawa mereka melalui jalan yang lebih jauh dengan melintasi padang belantara menuju Laut Merah. Umat Israel keluar dari Mesir dalam keadaan siap berperang.
Setelah meninggalkan Sukot, mereka berkemah di Etam, di tepi padang belantara.
Sabtu, 04 Oktober 2025
[19] Sepuluh Tulah (Keluaran 7-13)
Raja Mesir pun bertanya pada Musa dan Harun, “Siapa saja yang akan pergi?”
Jawab Musa, “Kami akan pergi membawa semua orang dan semua hewan ternak kami.”
Tetapi kata raja Mesir, “Tidak bisa! Hanya para laki-laki yang boleh pergi!”
Setelah itu Musa dan Harun diusir dari hadapan raja.
Karena raja Mesir menolak, maka Musa mengulurkan tongkatnya ke atas tanah Mesir. Datanglah angin timur bertiup dan membawa belalang yang sangat banyak.
Belalang-belalang menutupi seluruh permukaan tanah negeri Mesir, dan memakan habis semua tanaman dan buah-buahan pada pohon-pohon yang masih tersisa dari hujan es.
Melihat hal itu, raja Mesir segera memanggil Musa dan Harun dan meminta Musa menghilangkan belalang itu. Musa pergi dan berdoa sehingga angin barat bertiup membawa pergi semua belalang dari Mesir.
Tulah ke-9: Gelap Gulita
Tapi setelah itu, lagi-lagi Raja Mesir melarang umat Israel pergi dari Mesir.
Lalu Tuhan menyuruh Musa mengangkat tangannya ke langit.
Maka gelap gulita menyelimuti seluruh Mesir selama tiga hari.
Rakyat Mesir tidak dapat melihat satu sama lain dan tidak dapat pergi kemana-mana selama tiga hari. Tetapi di Gosyen, daerah umat Israel tinggal, tidak terjadi kegelapan seperti itu.
Raja Mesir memanggil Musa dan berkata, “Pergilah beribadah pada Tuhanmu. Perempuan-perempuan dan anak-anak kalian boleh ikut, tetapi semua hewan ternak kalian harus ditinggalkan di sini.”
Jawab Musa, “Engkau harus membiarkan kami membawa hewan ternak, karena hewan itu diperlukan sebagai korban bakaran kepada Tuhan.”
Raja pun menjadi marah dan berkata kepada Musa, “Pergi! Aku tidak mau bertemu denganmu lagi!”
Jawab Musa, “Baiklah! Memang kita tidak akan bertemu lagi!”
Part 6
Tulah ke-10: Kematian Anak Sulung
Tuhan kembali berbicara kepada Musa, “Masih ada satu tulah lagi yang akan Aku datangkan pada negeri Mesir. Sesudah itu, raja Mesir akan membiarkan kalian pergi.”
Kemudian Musa menghadap raja Mesir dan berkata, “Tengah malam nanti, Tuhan akan mengelilingi seluruh negeri Mesir. Maka setiap anak sulung, yaitu anak pertama di tiap keluarga, di negeri Mesir akan mati, baik manusia maupun hewan. Semua orang Mesir akan menangis dengan keras. Tetapi bangsa Israel akan tetap aman.
Maka kalian sendiri yang nanti memohon kepadaku, supaya aku membawa bangsa Israel pergi dari Mesir.” Setelah berkata begitu, dengan sangat marah Musa meninggalkan raja.
Tetapi raja Mesir tidak mempedulikan peringatan Musa, sesuai perkataan Tuhan sebelumnya.
Melalui Musa, Tuhan juga menyampaikan ketetapan tentang perayaan Paskah, yang harus disiapkan ketika bangsa Israel keluar dari Mesir:
Tiap keluarga orang Israel harus menyembelih anak kambing atau anak domba, lalu darahnya dioleskan pada kedua tiang pintu dan ambang atas pintu rumah mereka.
Lalu daging kambing atau domba itu harus dipanggang dan dimakan dengan roti tidak beragi dan sayur pahit, sebagai makanan perjamuan Paskah.
Pada malam itu, bangsa Israel harus sudah siap dengan pakaian untuk pergi jauh dan memakan jamuan Paskah itu dengan buru-buru.
Maka Tuhan akan berkeliling ke seluruh Mesir dan membuat semua anak sulung mati.
Tetapi rumah yang pintunya diolesi darah domba akan dilewati dan anak sulungnya akan selamat.
Bangsa Israel melakukan tepat seperti perintah Tuhan yang dikatakan Musa.
Maka benar saja, pada tengah malam Tuhan membuat semua anak sulung di Mesir mati, baik manusia maupun hewan ternak. Di setiap rumah ada suara tangisan yang keras karena kehilangan anak sulung. Tetapi di rumah orang Israel yang sudah ditandai dengan darah domba, tidak ada yang mati.
Malam itu juga, akhirnya raja Mesir mengizinkan bangsa Israel pergi. Ia memanggil Musa dan Harun lalu berkata, “Pergi! Bawalah semua orang dan hewan ternak bangsa Israel untuk menyembah Tuhan kalian, seperti yang kalian minta!”
Untuk memperingati hari kebebasan bangsa Israel dari Mesir, Tuhan Allah menetapkan bahwa bangsa Israel harus memperingati hari raya Paskah dengan mengulang perjamuan makan yang sama dan mengadakan acara ibadah setiap tahunnya, sampai pada anak cucu mereka.
Tuhan juga menetapkan: setiap anak sulung baik manusia maupun hewan, harus diserahkan kepada Tuhan. Hewan ternak harus dipersembahkan sebagai korban, tetapi manusia harus diganti dengan tebusan yang dipersembahkan pada Tuhan.