Rangkuman Alkitab
Kumpulan catatan yang bersumber dari Alkitab, satu-satunya sumber kebenaran sejati di dalam dunia.
Sabtu, 24 Januari 2026
[22] Bangsa Israel Belajar Beribadah Kepada Allah (Keluaran 18-31, Ulangan 5)
Sabtu, 06 Desember 2025
[21] Bangsa Israel di Padang Gurun (Keluaran 15-17)
Jumat, 21 November 2025
[20] Bangsa Israel Keluar dari Mesir (Keluaran 12-15)
Bangsa Israel Memulai Perjalanan
Setelah tulah ke-10 terjadi, raja Mesir Dan rakyat Mesir mendesak bangsa Israel untuk segera meninggalkan Mesir. Mereka takut akan semakin banyak bencana dari Tuhan bila bangsa Israel terus ada di negeri mereka.
Sesuai perintah Musa, sebelum berangkat bangsa Israel meminta perhiasan emas, perak, dan pakaian dari orang-orang Mesir tetangga mereka.
Tuhan membuat rakyat Mesir mau memberikan segala sesuatu yang diminta oleh bangsa Israel dengan rela hati. Dengan cara demikian, bangsa Israel membawa keluar harta kekayaan orang Mesir.
Bangsa Israel keluar dari Mesir setelah 430 tahun lamanya tinggal di Mesir.
Jumlah laki-laki dewasa yang berangkat sekitar 600.000 orang, belum terhitung perempuan dan anak-anak. Ada juga orang-orang yang bukan keturunan Israel ikut serta. Dan ada juga kawanan hewan ternak yang sangat banyak.
Musa membawa juga tulang-tulang Yusuf, leluhur bangsa Israel, sesuai janji bangsa Israel dahulu pada Yusuf.
Dalam perjalanan bangsa Israel, Tuhan selalu bergerak di depan mereka untuk menuntun perjalanan mereka. Pada siang hari, Tuhan menuntun mereka dalam bentuk tiang awan, dan pada malam hari dalam bentuk tiang api yang menerangi mereka. Dengan begitu, mereka dapat melakukan perjalanan baik siang maupun malam dengan mengikuti tiang awan dan tiang api itu.
Tuhan tidak menuntun mereka melalui jalur utama yang melintasi negeri orang Filistin, sekalipun jalur utama itu lebih dekat untuk sampai ke Kanaan. Tuhan tidak ingin bangsa Israel menjadi takut dan ingin kembali ke Mesir kalau diserang musuh di jalur itu.
Jadi Tuhan membawa bangsa Israel melalui jalan memutar melintasi padang belantara menuju Laut Merah.
Perjalanan bangsa Israel dimulai dari Ramses di Mesir, lalu mereka ke Sukot. Setelah meninggalkan Sukot, mereka berkemah di Etam, di tepi padang belantara.
Kemudian TUHAN berkata kepada Musa, “Perintahkanlah umat Israel untuk kembali dan berkemah di tepi laut di Pi Hahirot, yang terletak di antara kota Migdol dan Laut Merah, berhadapan dengan Baal Zefon.
Nanti raja Mesir akan berubah pikiran Dan berusaha mengejar kalian. Saat itu Aku akan mengalahkan raja Mesir beserta seluruh pasukannya, dan semua orang akan melihat kemuliaan-Ku, Dan bahwa Akulah Tuhan.” Maka bangsa Israel berkemah di sana sesuai perintah Tuhan.
Bangsa Israel Menyeberangi Laut
Sewaktu raja Mesir diberitahu bahwa bangsa Israel sudah melarikan diri, raja dan para pejabatnya berubah pikiran lalu berkata, “Mengapa kita membiarkan bangsa Israel pergi?! Sekarang kita jadi kehilangan budak!”
Raja Mesir pun menyuruh supaya 600 kereta perang disiapkan, juga para tentara yang akan ikut bersamanya.
Seluruh pasukan Mesir, termasuk semua pasukan berkuda, kereta, dan pengendaranya, cepat-cepat mengejar umat Israel, dan mereka berhasil menyusul sampai perkemahan Israel di dekat Pi Hahirot, di depan Baal Zefon yang berada di tepi Laut Merah atau yang disebut juga Laut Teberau.
Ketika bangsa Israel melihat raja Mesir dan pasukannya mendekat, mereka sangat ketakutan dan berseru minta tolong kepada Tuhan.
Bangsa Israel juga marah kepada Musa. Kata mereka, “Kamu sudah membuat kami celaka dengan membawa kami keluar dari Mesir! Bukankah dulu kami pernah berkata, ‘Lebih baik hidup sebagai budak orang Mesir daripada mati di padang belantara!’”
Tetapi Musa menjawab mereka, “Jangan takut! Berdirilah teguh dan lihatlah yang akan Tuhan lakukan hari ini untuk menyelamatkan kita! Tuhan yang akan berperang bagi kita, dan kita tidak perlu melakukan apa-apa.”
Tuhan berkata kepada Musa, “Perintahkanlah bangsa Israel untuk berjalan maju! Angkatlah tongkatmu dan arahkanlah ke atas laut. Laut itu akan terbelah agar umat Israel bisa berjalan menyeberanginya di atas tanah kering. Pasukan Mesir akan mengejar bangsa Israel ke tengah laut, dan Aku akan mengalahkan raja Mesir beserta seluruh pasukannya, supaya orang Mesir dan bangsa Israel melihat kemuliaan-Ku.”
Kemudian malaikat dan tiang awan yang sebelumnya berjalan di depan bangsa Israel berpindah ke belakang mereka, memisahkan perkemahan bangsa Israel dan pasukan Mesir. Menjelang malam, tiang itu membawa kegelapan di sisi pasukan Mesir, tapi tetap menerangi bangsa Israel. Dengan demikian, pasukan Mesir tidak dapat mendekati bangsa Israel sepanjang malam itu.
Lalu Musa mengarahkan tongkatnya ke atas laut. Maka Tuhan membuat angin timur bertiup sangat kencang sepanjang malam sehingga air laut terbelah dua dan dasar laut menjadi kering. Bangsa Israel berjalan di atas tanah yang kering menyeberangi laut, sementara sisi kiri dan kanan mereka dipagari oleh dinding air.
Tetapi seluruh pasukan Mesir, mengejar bangsa Israel hingga ke tengah laut. Menjelang matahari terbit, Tuhan yang berada di dalam tiang api dan awan, membuat pasukan Mesir menjadi kacau. Tuhan membuat roda-roda kereta tentara Mesir macet sehingga mereka susah maju. Pasukan Mesir panik Dan berkata, “Mari kita lari dari sini! Tuhan bangsa Israel sedang berperang melawan kita!”
Tuhan berkata kepada Musa, “Arahkanlah tongkatmu ke atas laut, supaya air laut berbalik dan menutupi semua pasukan Mesir.”
Maka menjelang pagi sesudah semua bangsa Israel menyeberang, Musa mengarahkan tongkatnya ke atas laut, dan air laut menyatu kembali seperti semula. Pasukan Mesir berusaha melarikan diri, tetapi Tuhan menenggelamkan mereka di tengah laut. Air laut tiba-tiba berbalik dan menutupi semua pasukan berkuda, pengendara kereta, bahkan semua pasukan raja Mesir yang mengejar umat Israel ke tengah laut. Tidak ada seorang pun yang selamat.
Pada hari itu, Tuhan menyelamatkan bangsa Israel dari pasukan Mesir, dan orang Israel melihat tentara-tentara Mesir yang sudah mati terdampar di pantai.
Ketika bangsa Israel melihat betapa besarnya kuasa Tuhan, mereka jadi takut kepada Tuhan dan kepada Musa.
Musa dan bangsa Israel menyanyikan puji-pujian kepada Tuhan. Miryam kakak Musa juga memimpin perempuan bangsa Israel menyanyi dan menari dengan rebana, untuk memuji kebesaran Tuhan.
Sabtu, 15 November 2025
[20] Bangsa Israel Keluar dari Tanah Mesir (Keluaran 13-15)
Bangsa Israel Keluar dari Mesir
Setelah tulah kesepuluh terjadi, rakyat Mesir mendesak umat Israel untuk segera meninggalkan negeri itu.
Sesuai perintah Musa sebelumnya, bangsa Israel meminta perhiasan emas, perak, dan pakaian dari orang Mesir tetangga mereka. Tuhan membuat rakyat Mesir bermurah hati terhadap umat Israel, dan mereka memberikan harta benda mereka, apapun yang diminta oleh orang Israel.
Hari itu, setelah 430 tahun bangsa Israel tinggal di Mesir, akhirnya mereka meninggalkan negeri itu.
Jumlah laki-laki dewasa sekitar 600.000 orang, belum termasuk perempuan dan anak-anak.
Sejumlah besar orang yang bukan keturunan Israel juga ikut serta. Dan ada kawanan ternak yang sangat banyak.
Musa membawa tulang-tulang Yusuf bersamanya, karena Yusuf sudah meminta umat Israel berjanji, “Allah pasti akan datang menolong kalian. Pada waktu itu, kalian harus membawa tulangku keluar dari Mesir.”
Kemudian umat Israel berjalan dari Rameses ke Sukot.
Tuhan selalu bergerak di depan bangsa Israel untuk menuntun perjalanan mereka. Pada siang hari, Tuhan menuntun mereka dalam bentuk tiang awan, dan pada malam hari dalam bentuk tiang api yang menerangi mereka. Dengan begitu, mereka dapat melakukan perjalanan baik siang maupun malam dengan mengikuti tiang awan dan tiang api itu.
Tuhan tidak menuntun mereka melalui jalan utama yang melintasi negeri orang Filistin, sekalipun jaraknya lebih dekat. Allah berkata, “Seandainya mereka pergi melalui jalan itu dan diserang musuh, bisa-bisa mereka berubah pikiran dan kembali ke Mesir.”
Jadi, Tuhan membawa mereka melalui jalan yang lebih jauh dengan melintasi padang belantara menuju Laut Merah. Umat Israel keluar dari Mesir dalam keadaan siap berperang.
Setelah meninggalkan Sukot, mereka berkemah di Etam, di tepi padang belantara.
Sabtu, 04 Oktober 2025
[19] Sepuluh Tulah (Keluaran 7-13)
Raja Mesir pun bertanya pada Musa dan Harun, “Siapa saja yang akan pergi?”
Jawab Musa, “Kami akan pergi membawa semua orang dan semua hewan ternak kami.”
Tetapi kata raja Mesir, “Tidak bisa! Hanya para laki-laki yang boleh pergi!”
Setelah itu Musa dan Harun diusir dari hadapan raja.
Karena raja Mesir menolak, maka Musa mengulurkan tongkatnya ke atas tanah Mesir. Datanglah angin timur bertiup dan membawa belalang yang sangat banyak.
Belalang-belalang menutupi seluruh permukaan tanah negeri Mesir, dan memakan habis semua tanaman dan buah-buahan pada pohon-pohon yang masih tersisa dari hujan es.
Melihat hal itu, raja Mesir segera memanggil Musa dan Harun dan meminta Musa menghilangkan belalang itu. Musa pergi dan berdoa sehingga angin barat bertiup membawa pergi semua belalang dari Mesir.
Tulah ke-9: Gelap Gulita
Tapi setelah itu, lagi-lagi Raja Mesir melarang umat Israel pergi dari Mesir.
Lalu Tuhan menyuruh Musa mengangkat tangannya ke langit.
Maka gelap gulita menyelimuti seluruh Mesir selama tiga hari.
Rakyat Mesir tidak dapat melihat satu sama lain dan tidak dapat pergi kemana-mana selama tiga hari. Tetapi di Gosyen, daerah umat Israel tinggal, tidak terjadi kegelapan seperti itu.
Raja Mesir memanggil Musa dan berkata, “Pergilah beribadah pada Tuhanmu. Perempuan-perempuan dan anak-anak kalian boleh ikut, tetapi semua hewan ternak kalian harus ditinggalkan di sini.”
Jawab Musa, “Engkau harus membiarkan kami membawa hewan ternak, karena hewan itu diperlukan sebagai korban bakaran kepada Tuhan.”
Raja pun menjadi marah dan berkata kepada Musa, “Pergi! Aku tidak mau bertemu denganmu lagi!”
Jawab Musa, “Baiklah! Memang kita tidak akan bertemu lagi!”
Part 6
Tulah ke-10: Kematian Anak Sulung
Tuhan kembali berbicara kepada Musa, “Masih ada satu tulah lagi yang akan Aku datangkan pada negeri Mesir. Sesudah itu, raja Mesir akan membiarkan kalian pergi.”
Kemudian Musa menghadap raja Mesir dan berkata, “Tengah malam nanti, Tuhan akan mengelilingi seluruh negeri Mesir. Maka setiap anak sulung, yaitu anak pertama di tiap keluarga, di negeri Mesir akan mati, baik manusia maupun hewan. Semua orang Mesir akan menangis dengan keras. Tetapi bangsa Israel akan tetap aman.
Maka kalian sendiri yang nanti memohon kepadaku, supaya aku membawa bangsa Israel pergi dari Mesir.” Setelah berkata begitu, dengan sangat marah Musa meninggalkan raja.
Tetapi raja Mesir tidak mempedulikan peringatan Musa, sesuai perkataan Tuhan sebelumnya.
Melalui Musa, Tuhan juga menyampaikan ketetapan tentang perayaan Paskah, yang harus disiapkan ketika bangsa Israel keluar dari Mesir:
Tiap keluarga orang Israel harus menyembelih anak kambing atau anak domba, lalu darahnya dioleskan pada kedua tiang pintu dan ambang atas pintu rumah mereka.
Lalu daging kambing atau domba itu harus dipanggang dan dimakan dengan roti tidak beragi dan sayur pahit, sebagai makanan perjamuan Paskah.
Pada malam itu, bangsa Israel harus sudah siap dengan pakaian untuk pergi jauh dan memakan jamuan Paskah itu dengan buru-buru.
Maka Tuhan akan berkeliling ke seluruh Mesir dan membuat semua anak sulung mati.
Tetapi rumah yang pintunya diolesi darah domba akan dilewati dan anak sulungnya akan selamat.
Bangsa Israel melakukan tepat seperti perintah Tuhan yang dikatakan Musa.
Maka benar saja, pada tengah malam Tuhan membuat semua anak sulung di Mesir mati, baik manusia maupun hewan ternak. Di setiap rumah ada suara tangisan yang keras karena kehilangan anak sulung. Tetapi di rumah orang Israel yang sudah ditandai dengan darah domba, tidak ada yang mati.
Malam itu juga, akhirnya raja Mesir mengizinkan bangsa Israel pergi. Ia memanggil Musa dan Harun lalu berkata, “Pergi! Bawalah semua orang dan hewan ternak bangsa Israel untuk menyembah Tuhan kalian, seperti yang kalian minta!”
Untuk memperingati hari kebebasan bangsa Israel dari Mesir, Tuhan Allah menetapkan bahwa bangsa Israel harus memperingati hari raya Paskah dengan mengulang perjamuan makan yang sama dan mengadakan acara ibadah setiap tahunnya, sampai pada anak cucu mereka.
Tuhan juga menetapkan: setiap anak sulung baik manusia maupun hewan, harus diserahkan kepada Tuhan. Hewan ternak harus dipersembahkan sebagai korban, tetapi manusia harus diganti dengan tebusan yang dipersembahkan pada Tuhan.
Sabtu, 23 Agustus 2025
[18] Musa Diutus Oleh Allah (Keluaran 1-6)
Bangsa Israel Ditindas di Mesir
Bangsa Israel adalah keturunan dari Yakub. Keluarga Yakub pindah ke Mesir karena diajak oleh Yusuf, anak Yakub. Yusuf adalah penguasa Mesir yang sudah berjasa menyelamatkan Mesir dari bencana kelaparan.
Bangsa Israel beranak cucu dan jumlah mereka bertambah banyak, sehingga mereka sangat kuat dan tersebar di seluruh Mesir.
Beberapa generasi setelah Yusuf dan anak-anak Yakub meninggal, seorang raja baru yang tidak tahu apa-apa tentang jasa-jasa Yusuf mulai berkuasa atas seluruh Mesir.
Raja itu merasa takut bangsa Israel yang bertambah banyak akan mengalahkan bangsa Mesir. Maka ia memerintahkan agar bangsa Israel ditindas dengan kerja paksa.
Para mandor dan kepala budak ditempatkan untuk mengawasi bangsa Israel membangun kota Pitom dan kota Rameses, yang akan dijadikan sebagai pusat penyimpanan hasil panen dan harta benda raja Mesir.
Namun, semakin ditindas, jumlah bangsa Israel malah semakin bertambah dan semakin menyebar ke seluruh negeri itu. Hal itu membuat bangsa Mesir semakin takut kepada mereka.
Orang Mesir membuat hidup orang Israel semakin menderita: mereka dipaksa membuat batu bata, bekerja di ladang, dan melakukan segala macam pekerjaan yang sangat berat.
Raja Mesir juga sudah berusaha agar bayi laki-laki bangsa Israel yang baru lahir tidak dibiarkan hidup oleh para bidan, tetapi tidak berhasil. Oleh sebab itu, raja Mesir mengeluarkan perintah yang sangat kejam kepada seluruh rakyatnya. Ia berkata, “Setiap anak laki-laki yang lahir dari orang Israel harus dibuang ke sungai Nil, tetapi bayi perempuan boleh dibiarkan hidup.”
Bayi Musa Diselamatkan
Raja Mesir ketakutan melihat bangsa Israel yang semakin berkembang di Mesir. Karena meskipun sudah disiksa, jumlah mereka terus bertambah banyak.
Oleh sebab itu, raja Mesir mengeluarkan perintah yang sangat kejam kepada seluruh rakyatnya. Ia berkata, “Setiap anak laki-laki yang lahir dari orang Israel harus dibuang ke sungai Nil, tetapi bayi perempuan boleh dibiarkan hidup.”
Ada suami istri Israel dari suku Lewi bernama Amram dan Yokhebed.
Pada waktu raja Mesir sudah memberikan perintah tadi, Yokhebed melahirkan bayi laki-laki. Karena bayinya tampan, Yokhebed ibunya menyembunyikan bayi itu selama tiga bulan.
Ketika bayinya semakin besar, ia tidak bisa disembunyikan lebih lama lagi.
Yokhebed mengambil sebuah keranjang, lalu melapisinya dengan ter dan getah tanaman supaya bisa terapung. Kemudian dia membaringkan bayinya di dalam keranjang itu dan menyembunyikannya di antara alang-alang air yang tinggi di tepi sungai Nil. Miryam, kakak perempuan bayi itu, mengawasi adik bayinya dari kejauhan.
Lalu datanglah putri raja untuk mandi di sungai Nil, sementara para pelayan perempuannya berjalan-jalan di tepian sungai.
Putri raja melihat keranjang tadi di antara alang-alang air yang tinggi. Dia menyuruh salah satu pelayannya untuk mengambil keranjang itu. Ketika Putri raja membukanya, dia melihat bayi itu sedang menangis. Putri raja merasa kasihan terhadapnya dan berkata, “Pastilah ini bayi orang Israel.”
Kakak bayi itu yang sudah mengawasi dari jauh langsung mendekati putri raja dan bertanya, “Bolehkah saya mencarikan perempuan Israel yang dapat membantu Putri menyusui dan mengasuh bayi ini?”
Jawab putri raja, “Baiklah.” Maka kakak bayi itu pergi dan memanggil Yokhebed, ibu mereka.
Putri raja berkata kepada ibu itu, “Tolong bawa bayi ini, rawat dan susui dia. Aku akan membayar kamu untuk itu.” Jadi sang ibu membawa bayinya, lalu merawat dan menyusui dia.
Ketika masa menyusui anak itu selesai, ibunya membawa dia kembali kepada putri raja. Lalu putri raja mengangkat anak itu menjadi anaknya sendiri dan menamai dia Musa, karena katanya, “Aku sudah mengangkatnya dari air.”
Sabtu, 26 Juli 2025
[17] Keluarga Israel Pindah ke Mesir (Kejadian 46-50, Keluaran 1)
Yakub dan Seluruh Keluarganya Berangkat ke Mesir
Maka Yakub memulai perjalanan dari rumahnya di Hebron, tanah Kanaan, ke Mesir. Ia membawa semua keluarga dan harta yang dia miliki. Semua anak dan cucu Yakub yang ikut bersamanya ke Mesir berjumlah 66 orang, belum termasuk menantu-menantunya yang perempuan.
Ketika Yakub sampai di Bersyeba, dia mempersembahkan korban kepada Allah. Di situ Allah berbicara kepada Yakub.
Allah berkata, “Jangan takut untuk pergi ke Mesir. Di sana Aku akan membuat keturunanmu menjadi bangsa yang besar. Suatu hari nanti Aku juga akan membawa keturunanmu kembali ke Kanaan. Dan ketika kamu meninggal, Yusuf anakmu akan ada bersamamu.”
Dari Bersyeba Yakub melanjutkan perjalanan lagi menuju Mesir. Maka rombongan Yakub sampai di Mesir, di tanah Gosyen. Mengetahui ayahnya sudah sampai, Yusuf pergi dengan keretanya untuk menyambut Yakub ayahnya. Ketika Yusuf bertemu dengan Yakub, ayahnya, Yusuf memeluk Yakub dan menangis. Yakub berkata, “Sekarang aku bisa mati dengan tenang karena sudah melihat bahwa ternyata kamu masih hidup!”
Sesudah itu, Yusuf menyampaikan kepada Yakub dan keluarganya, “Sebentar lagi kalian akan menghadap Firaun raja Mesir. Kalau raja bertanya, ‘Apa pekerjaan kalian,’ kalian harus menjawab, ‘Kami menggembalakan hewan ternak.’ Dengan begitu, kalian akan diperbolehkan untuk tinggal di tanah Gosyen.”
Lalu Yusuf pergi menghadap raja Mesir dan melaporkan bahwa keluarganya sudah sampai di Gosyen. Firaun menyambut baik Yakub dan juga keluarganya. Ia juga mengizinkan Yakub dan keluarganya menggembalakan ternak di Gosyen.
Yusuf juga mengajak ayahnya menghadap raja, dan Yakub memberkati raja. Raja bertanya kepada Yakub, “Berapakah umurmu?”
Jawab Yakub, “Hambamu ini sudah menjalani hidup selama seratus tiga puluh tahun.”
Sebelum pamit, Yakub mengucapkan berkat perpisahan kepada raja.
Maka sejak saat itu Yakub, saudara-saudara Yusuf, dan keluarga besar mereka mulai menetap di tanah Gosyen di Mesir. Yusuf memberikan bahan makanan yang cukup untuk kebutuhan mereka.
Yakub, ditambah dengan keturunannya yang bersama-sama berangkat ke Mesir, dan ditambah juga dengan Yusuf dan kedua anaknya yang sudah lebih dulu di Mesir, semuanya ada 70 orang.
Yusuf Menghadapi Bencana Kelaparan di Mesir
Bencana kelaparan semakin memburuk. Di mana-mana tidak ada makanan, sehingga seluruh penduduk Mesir dan Kanaan menderita karena kelaparan.
Orang-orang Mesir dan Kanaan membeli bahan makanan dari Yusuf, dan uangnya menjadi pemasukan raja Mesir. Lama-lama semua uang milik warga Mesir dan Kanaan pun habis dipakai membeli makanan.
Orang-orang Mesir pun mendatangi Yusuf dan berkata, “Tuan, berilah kami makanan. Uang kami sudah habis. Apakah kami harus mati kelaparan?”
Yusuf menjawab, “Kalau kalian sudah tidak punya uang lagi, berikanlah hewan ternak kalian sebagai pembayaran.”
Maka rakyat membawa hewan ternak kepada Yusuf untuk ditukar dengan bahan makanan. Ada yang membawa kuda, keledai, sapi, kambing, ataupun domba.
Pada tahun berikutnya, rakyat kembali menghadap Yusuf dan berkata, “Tuan, sekarang uang kami sudah habis, dan semua hewan ternak kami juga sudah habis dan menjadi milik Tuan. Hanya tanah kami yang bisa kami jual untuk membeli makanan. Biarlah tanah kami menjadi milik raja, tetapi tolong berikan kami juga benih untuk ditanam.”
Maka Yusuf membeli semua tanah milik rakyat Mesir. Semua ladang pun menjadi milik raja Mesir. Lalu seluruh rakyat dijadikan budak yang dipekerjakan di ladang-ladang itu. Yusuf berkata kepada rakyatnya, “Sekarang ladang kalian adalah milik raja, dan kalian adalah budak yang bekerja untuk raja. Kalian harus menanam benih-benih yang aku berikan. Pada waktu panen nanti, dua puluh persen hasil panen harus diberikan kepada raja. Yang delapan puluh persen menjadi bahan makanan untuk kalian dan menjadi benih untuk ditanam lagi.”
Rakyat merasa sangat tertolong atas tindakan Yusuf dan berkata, “Tuan, terima kasih sudah menyelamatkan nyawa kami!”
Yakub Memberikan Pesan Terakhir dan Meninggal Dunia
Keluarga Israel yang menetap di wilayah Gosyen hidup dengan baik.
Yakub tinggal di Mesir selama tujuh belas tahun, sampai umurnya mencapai 147 tahun.
Yakub tahu bahwa sudah dekat waktunya ia akan meninggal.
Beberapa waktu kemudian, seseorang mengabarkan pada Yusuf, “Tuan, keadaan ayahmu semakin memburuk.”
Maka Yusuf mengajak kedua anaknya, Manasye dan Efraim, untuk mengunjungi Yakub.
Ketika Yusuf sudah datang, Yakub bangkit untuk duduk di tempat tidurnya karena ia ingin memberkati anak-anak Yusuf. Yusuf mengatur posisi kedua anaknya seperti kebiasaan pada waktu itu: anak sulungnya Manasye dekat tangan kanan Yakub dan anak bungsunya Efraim dekat tangan kiri Yakub.
Namun, Yakub malah mengulurkan tangan kanannya ke kepala Efraim anak bungsu Yusuf, dan mengulurkan tangan kirinya kepada Manasye anak sulung Yusuf, lalu mulai memberkati mereka.
Yusuf mengira Yakub tidak sengaja memberkati dengan tangan yang terbalik karena matanya sudah rabun.
Ketika Yusuf mau membalikkan lagi tangan Yakub, Yakub berkata, “Manasye kakaknya memang akan menjadi bangsa yang besar. Tetapi adiknya, Efraim akan menjadi bangsa yang lebih hebat.”
Yakub memanggil juga anak-anaknya untuk berkumpul lalu menyampaikan pesan, yaitu nubuat apa yang akan terjadi pada mereka di masa yang akan datang. Yakub juga memberkati mereka dengan berkat yang sesuai bagi mereka masing-masing.
Sesudah menyampaikan pesan-pesan terakhirnya, Yakub berbaring dan meninggal dunia.
Yusuf sangat sedih, ia menangis dan memeluk ayahnya. Yusuf memberi perintah agar tubuh Yakub diawetkan dengan rempah-rempah.
Masa berkabung atas kematian Yakub adalah selama tujuh puluh hari. Setelah masa berkabung selesai, Yusuf meminta izin kepada raja untuk pergi menguburkan Yakub di Kanaan.
Yusuf pergi menguburkan Yakub, beserta semua pejabat kerajaan dan pasukan dari Mesir dan juga semua anggota keluarga besar Yakub.
Sesuai permintaan Yakub ketika ia masih hidup, tubuh Yakub dikuburkan di gua yang ada di Makpela, dekat Hebron di Kanaan, yaitu kuburan keluarga Abraham, Ishak, dan Yakub.
Bangsa Israel Berkembang di Negeri Mesir
Sesudah menguburkan Yakub, Yusuf beserta saudara-saudaranya dan seluruh rombongan itu kembali ke Mesir.
Karena Yakub sudah tidak ada, kakak-kakak Yusuf berpikir, “Bagaimana kalau Yusuf masih menyimpan dendam atas semua perbuatan jahat yang dulu kita lakukan kepadanya?”
Maka kakak-kakak Yusuf sepakat untuk mengirim permohonan maaf kepada Yusuf. Maka menangislah Yusuf ketika menerima pesan itu. Saudara-saudaranya Yusuf juga datang langsung dan bersujud di hadapan Yusuf sambil berkata, “Kami ini adalah hambamu.”
Jawab Yusuf kepada saudara-saudaranya, “Jangan takut! Aku tidak berhak untuk menghakimi kalian karena aku bukan Allah. Dulu, kalian memang merencanakan hal yang jahat terhadapku. Tetapi sesungguhnya Allah memiliki rencana yang baik dalam kejadian itu, supaya banyak orang dapat diselamatkan, seperti yang sudah terjadi. Tidak ada yang perlu kalian takuti. Aku akan mencukupi kebutuhan kalian dan anak-anak kalian.” Demikianlah Yusuf menghibur dan menenangkan hati saudara-saudaranya.
Awalnya, keluarga Yakub atau Israel yang ada di Mesir hanya ada tujuh puluh orang. Setelah lewat masa kelaparan, Yusuf, saudara-saudaranya, bersama keluarga besar mereka tetap tinggal di Mesir. Mereka beranak cucu bahkan Yusuf sempat melihat cucu dan cicitnya.
Ketika sudah dekat waktunya Yusuf akan meninggal, Yusuf berkata kepada saudara-saudaranya, “Sebentar lagi aku akan mati, tetapi Allah akan menyertai kalian dan Allah akan memimpin kalian keluar dari Mesir untuk kembali ke tanah yang sudah dijanjikan-Nya kepada Abraham, Ishak, dan Yakub. Jadi, ketika kalian keluar dari Mesir untuk kembali ke Kanaan, kalian harus membawa tulang-tulangku untuk dikuburkan di Kanaan.”
Yusuf meninggal pada usia 110 tahun. Lalu jenazahnya diawetkan dan disimpan di Mesir dalam peti.
Setelah Yusuf, saudara-saudaranya, serta semua orang dari generasi mereka meninggal, keturunan Israel tetap hidup di tanah Gosyen selama ratusan tahun. Mereka terus beranak cucu dan jumlah mereka bertambah banyak. Mereka menjadi sebuah bangsa yang kuat dan tersebar di seluruh Mesir.
Jumat, 27 Juni 2025
[16] Yusuf Mengampuni Saudara-Saudaranya (Kejadian 42-45)
Kakak-kakak Yusuf Membeli Gandum ke Mesir
Setelah masa 7 tahun kelimpahan, tibalah masa 7 tahun kelaparan.
Ketika Yakub mendengar ada persediaan gandum di Mesir, dia menyuruh anak-anaknya membeli gandum di Mesir.
Tetapi Yakub tidak mengizinkan Benyamin, adik Yusuf, untuk ikut karena Yakub takut terjadi apa-apa pada Benyamin.
Maka kesepuluh anak Yakub berangkat bersama para pembeli gandum lainnya dari Kanaan ke Mesir.
Pada waktu itu, Yusuf adalah pejabat tertinggi di Mesir dan dialah yang berkuasa untuk menjual gandum kepada semua orang. Ketika Yusuf melihat kakak-kakaknya, Yusuf mengenali mereka. Tetapi kakak-kakak Yusuf tidak mengenali Yusuf karena penampilan Yusuf sudah berubah.
Kakak-kakak Yusuf datang dan bersujud untuk menghormati Yusuf. Tetapi Yusuf sengaja pura-pura tidak kenal pada mereka.
Yusuf berkata, “Dari mana kalian?!”
Kakak-kakak Yusuf menjawab, “Kami datang dari Kanaan hendak membeli gandum.”
Saat itu, Yusuf teringat pada mimpinya dulu tentang mereka. Lalu Yusuf berkata, “Kalian ini mata-mata musuh yang menyusup ke sini!”
Jawab kakak-kakak Yusuf, “Tidak, Tuan! Kami datang hanya untuk membeli bahan makanan!”
Karena Yusuf tetap menuduh mereka, kakak-kakak Yusuf menjelaskan asal usul mereka, “Kami ini kakak beradik dari satu ayah, semuanya ada dua belas laki-laki. Satu orang sudah tidak ada lagi, dan adik bungsu kami masih ada bersama ayah kami.”
Yusuf pun berkata, “Kalau perkataan kalian memang benar, kalian harus menjemput adik kalian yang bungsu dan membawanya ke sini."
Lalu Yusuf memasukkan kakak-kakaknya ke dalam penjara. Setelah tiga hari, Yusuf berkata kepada mereka, “Salah satu dari kalian tetap ditahan. Tetapi yang lainnya boleh pulang membawa gandum untuk keluarga kalian. Setelah itu, bawalah adik bungsu kalian kepadaku. Kalau cerita kalian benar, kalian tidak akan dihukum mati.”
Kakak-kakak Yusuf pun setuju. Mereka berkata satu sama lain, “Sekarang Tuhan menghukum kita, kita mengalami semua ini karena kesalahan kita pada adik kita Yusuf.”
Kakak-kakak Yusuf tidak tahu bahwa Yusuf mengerti bahasa percakapan mereka. Mendengar semuanya itu, Yusuf memisahkan diri dan menangis.
Yusuf memerintahkan agar satu orang yang ditahan di Mesir adalah Simeon.
Karung-karung milik kakak-kakak Yusuf pun diisi gandum. Diam-diam Yusuf juga menyuruh pekerjanya agar memasukkan uang pembayaran gandum kembali ke dalam karung-karung mereka. Karung-karung itu dinaikkan ke atas punggung keledai-keledai yang dibawa kakak-kakak Yusuf, dan mereka pulang kembali ke Kanaan.
Setelah mereka sampai di rumah, kakak-kakak Yusuf menemukan semua uang pembayaran gandum ternyata sudah dikembalikan di dalam karung-karung mereka. Yakub dan kakak-kakak Yusuf pun menjadi takut dan gelisah.
Kakak-kakak Yusuf juga menceritakan kepada Yakub semua yang sudah terjadi. Mereka menjelaskan bahwa mereka dicurigai sebagai mata-mata musuh dan Simeon ditahan. Mereka harus membawa Benyamin ke Mesir agar Simeon dibebaskan.
Lalu berkatalah Yakub, “Apa kalian mau aku kehilangan semua anakku?! Yusuf sudah mati, Simeon tidak kembali, dan sekarang kalian akan mengambil Benyamin dariku!”
Ruben menjawab, “Aku akan bertanggung jawab penuh atas Benyamin. Kalau terjadi apa-apa pada Benyamin, Ayah boleh menghukum kedua anak laki-lakiku!”
Tetapi saat itu Yakub tetap tidak mau mengizinkan Benyamin pergi.
Kakak-kakak Yusuf Kembali Lagi ke Mesir
Bencana kelaparan semakin parah di negeri Kanaan. Maka lama-lama persediaan makanan Yakub dan keluarganya habis juga. Yakub kembali menyuruh anak-anaknya pergi ke Mesir membeli bahan makanan.
Tetapi Yehuda berkata, “Kalau Ayah mengizinkan Benyamin ikut, kami akan segera berangkat untuk membeli gandum.”
Kata Yakub, “Mengapa kalian memberitahu penguasa Mesir itu bahwa kalian masih punya adik?”
Jawab mereka, “Orang itu menanyai kami mengenai siapa kami sebenarnya. Kami tidak menyangka kalau dia akan menyuruh kami membawa Benyamin!”
Yehuda pun berkata, “Izinkanlah Benyamin. Jika Benyamin tidak pulang dengan selamat, biar aku yang menanggung kesalahan seumur hidupku. Kalau kita tidak pergi, kita semua akan mati kelaparan.”
Akhirnya Yakub mengizinkan mereka, “Kalau begitu bawalah hadiah terbaik untuk penguasa Mesir itu. Bawalah juga uang dua kali lipat pengganti uang yang kemarin tertinggal di karung kalian. Semoga Allah membuat penguasa Mesir itu berbelas kasihan pada kalian.”
Maka mereka berangkat bersama Benyamin ke Mesir. Setibanya di sana, mereka datang menghadap Yusuf.
Ketika Yusuf melihat Benyamin mereka, dia segera menyuruh kepala pengurus rumahnya, “Bawalah orang-orang ini ke rumahku. Siang ini mereka akan makan bersamaku.”
Tetapi kakak-kakaknya ketakutan saat dibawa ke rumah Yusuf. Mereka mengira mereka berbuat salah dan meminta maaf atas uang pembayaran gandum yang sebelumnya tertinggal.
Tetapi kepala pengurus rumah itu menenangkan saudara-saudara Yusuf, ia juga membebaskan Simeon dan melayani saudara-saudara Yusuf dengan baik.
Ketika Yusuf pulang, kakak-kakak Yusuf menyerahkan hadiah yang mereka bawa lalu bersujud untuk menghormati Yusuf.
Ketika Yusuf melihat Benyamin, dia berkata, “Inikah adik yang pernah kalian ceritakan?”
Yusuf berkata pada Benyamin, “Semoga Allah memberkatimu.”
Tetapi Yusuf tidak dapat menahan perasaan sayang dan rindu kepada adiknya. Jadi dia cepat-cepat masuk ke kamarnya dan menangis.
Sesudah mencuci muka, Yusuf pun keluar dan menyuruh agar makan siang dihidangkan.
Para pelayan Yusuf sudah menyediakan meja makan untuk Yusuf, untuk orang-orang Mesir, juga meja untuk saudara-saudara Yusuf. Tempat duduk saudara-saudara Yusuf sudah diatur menurut urutan kelahiran, mulai dari yang tertua sampai yang termuda, sehingga saudara-saudara Yusuf heran bagaimana caranya orang Mesir tahu urutan kelahiran keluarga mereka.
Lalu makanan dari meja Yusuf disajikan kepada saudara-saudara Yusuf. Tetapi Benyamin mendapat lima kali lebih banyak. Yusuf dan saudara-saudaranya bersukaria bersama menikmati makan dan minum.
Yusuf Mengungkap Siapa Dirinya kepada Saudara-saudaranya
Sesudah makan, Yusuf menyuruh pengurus rumahnya untuk mengisi karung saudara-saudaranya dengan gandum, juga mengembalikan uang pembayaran ke dalam karung.
Khusus untuk karung milik Benyamin, Yusuf menyuruh dimasukkan juga cawan perak milik Yusuf.
Keesokan harinya, waktu masih subuh, saudara-saudara Yusuf berangkat dengan keledai mereka.
Tetapi baru saja mereka keluar dari kota itu, Yusuf berkata kepada kepala pengurus rumahnya untuk mengejar saudara-saudaranya, dan menuduh mereka mencuri cawan peraknya.
Kepala pengurus rumah itu pun mengejar mereka, lalu berkata sesuai perintah Yusuf, “Tuan kami sudah sangat baik kepada kalian, tetapi kalian malah mencuri cawan peraknya!”
Tetapi jawab saudara-saudara Yusuf kepadanya, “Hamba-hambamu ini tidak mungkin melakukan hal jahat seperti itu! Bila Tuan menemukan benda itu di dalam salah satu karung kami, biarlah pemilik karung itu dihukum mati dan kami yang lain dijadikan budak Tuan.”
Kepala pengurus rumah Yusuf berkata, “Baiklah, tetapi pemilik karung yang berisi cawan itu saja yang harus dihukum dijadikan budak, sedangkan yang lainnya boleh pergi.”
Mereka segera menurunkan karung-karungnya dari keledai masing-masing dan membukanya. Ternyata cawan perak itu ditemukan di dalam karung milik Benyamin.
Maka saudara-saudara Yusuf kembali lagi menghadap Yusuf. Mereka sangat ketakutan.
Berkatalah Yusuf kepada mereka, “Apa-apaan perbuatanmu itu!”
Lalu Yehuda menjawab, “Tuan, biarlah kami semua menjadi budak Tuan.”
Jawab Yusuf, “Tidak! Orang yang di dalam karungnya ditemukan cawan perak milikku, hanya dia yang akan menjadi budakku.”
Karena tahu Benyamin akan dijadikan budak, Yehuda mendekat dan berkata kepada Yusuf, “Tuan, mohon izinkan saya berbicara. Kami memiliki ayah yang sudah tua. Dalam masa tuanya, dia mendapat dua anak. Yang satu sudah meninggal, dan sekarang tinggal yang bungsu. Itu sebabnya ayah kami sangat menyayangi adik bungsu kami. Sebelum ke sini, aku sudah berjanji kalau terjadi apa-apa pada adik kami, aku yang akan menanggung kesalahan itu. Karena itu, biar aku saja yang menggantikan adikku sebagai budak, dan izinkanlah adikku pulang.”
Yusuf tidak mampu lagi menahan perasaannya, maka disuruhnya semua pelayannya untuk keluar ruangan.
Lalu Yusuf berkata pada saudara-saudaranya, “Ini aku, Yusuf! Benarkah bapa masih hidup?”
Tetapi saudara-saudaranya hanya bisa diam karena terkejut dan takut.
Berkatalah Yusuf kepada saudara-saudaranya, “Aku Yusuf, saudara kalian, yang kalian jual kepada para pedagang yang waktu itu sedang menuju Mesir. Sesungguhnya Allah yang sudah mengatur agar aku sampai di sini, untuk dapat menyelamatkan banyak orang.”
Keluarga Yusuf Diundang ke Mesir
Sesudah Yusuf mengungkapkan siapa dirinya, Yusuf berkata lagi, “Bencana kelaparan sudah dua tahun dan masih akan berlangsung lima tahun lagi. Segeralah katakan pada ayah supaya membawa seluruh keluarga kita datang ke Mesir, untuk tinggal di daerah Gosyen. Aku akan mencukupi semua kebutuhan keluarga kita.”
Lalu Yusuf dan adiknya Benyamin saling berpelukan dan keduanya menangis. Yusuf juga mencium dan memeluk kakak-kakaknya sambil menangis. Sesudah itu, Yusuf bercakap-cakap dengan saudara-saudaranya.
Berita tentang kedatangan saudara-saudara Yusuf terdengar sampai ke istana. Raja Firaun dan semua pejabatnya turut senang. Bahkan raja sendiri menyuruh Yusuf untuk mengajak seluruh keluarga Yusuf pindah ke Mesir, dan akan diberikan tanah yang terbaik.
Sesuai perintah raja, anak-anak Yakub pun pulang ke Kanaan. Yusuf membawakan beberapa kereta untuk menjemput ayahnya dan keluarganya, juga banyak hadiah dan bahan makanan untuk bekal perjalanan Yakub sampai Mesir. Yusuf juga memberikan pakaian kepada semua semua saudaranya.
Setibanya di rumah mereka, saudara-saudara Yusuf bercerita pada Yakub, “Yusuf masih hidup! Dia sudah menjadi penguasa atas seluruh Mesir!” Mendengar berita itu, Yakub terkejut dan tidak langsung percaya.
Tetapi ketika saudara-saudara Yusuf menyampaikan pesan Yusuf dan melihat kereta-kereta yang dikirim Yusuf untuk menjemputnya, Yakub kembali bersemangat. Ia berkata, “Anakku Yusuf masih hidup! Aku ingin bertemu dengannya sebelum aku mati.”
Rabu, 05 Februari 2025
[15] Yusuf Menjadi Penguasa Mesir (Kejadian 40-41)
Yusuf Mengartikan Mimpi Juru Minum dan Juru Roti
Setelah beberapa waktu Yusuf di dalam penjara, ada dua pelayan Firaun, raja Mesir yang berbuat kesalahan. Raja Firaun marah dan memasukkan mereka ke dalam penjara di rumah kepala pengawal raja, tempat Yusuf ditahan. Dua orang itu adalah juru minuman dan juru roti Raja Firaun.
Kepala pengawal raja menempatkan Yusuf bersama-sama dengan juru minuman dan juru roti untuk melayani mereka.
Pada suatu malam, juru minuman dan juru roti itu masing-masing bermimpi.
Ketika Yusuf datang kepada mereka keesokan paginya, mereka kelihatan sedang bersusah hati.
Lalu Yusuf bertanya pada juru roti dan juru minuman: "Mengapa Saudara-saudara begitu cemas hari ini?"
Jawab mereka: "Tadi malam kami mimpi, dan tidak ada yang tahu artinya."
Kata Yusuf, "Hanya Allah yang memungkinkan orang menerangkan arti mimpi. Coba ceritakan mimpimu itu."
Juru minuman yang pertama bercerita. Ia berkata: "Dalam mimpi itu aku melihat ada pohon anggur di depanku. Pohon itu bercabang tiga. Baru saja cabang-cabangnya mulai bertunas, segera bunga-bunganya berkembang, lalu buahnya menjadi matang. Pada waktu itu aku sedang memegang gelas minuman Firaun, jadi aku mengambil buah anggur itu dan aku peras ke dalam gelas raja, lalu kuhidangkan kepada raja."
Yusuf pun berkata: "Inilah arti mimpi itu: Tiga cabang artinya tiga hari. Dalam tiga hari ini raja akan membebaskan engkau, ia akan mengampuni engkau dan mengembalikan engkau kepada jabatanmu yang dahulu. Engkau akan menghidangkan gelas minuman kepada raja seperti dahulu."
Lalu Yusuf menitipkan pesan juga karena ia tahu juru minuman akan segera keluar dari penjara. Yusuf berkata: "Tetapi ingatlah kepadaku apabila keadaanmu sudah baik. Tolong sampaikan persoalan saya kepada raja, supaya saya dibebaskan dari penjara ini. Sebab, sebetulnya dulu saya diculik dari negeri orang Ibrani dan di sini pun, di Mesir ini, tidak pernah saya melakukan sesuatu kejahatan sampai harus dimasukkan ke dalam penjara."
Setelah juru roti mendengar bahwa arti mimpi juru minuman itu baik, maka dia pun menceritakan mimpinya pada Yusuf.
Juru roti itu berkata: "Saya bermimpi juga, saya menjunjung tiga buah keranjang roti di atas kepala. Dalam keranjang terdapat macam-macam roti untuk raja, tetapi burung-burung datang memakan roti-roti itu."
Jawab Yusuf: "Inilah arti mimpi itu: Tiga keranjang itu artinya tiga hari. Dalam tiga hari ini raja akan menghukum engkau dengan hukuman mati, engkau akan tergantung tinggi dan tubuhmu akan dimakan burung-burung."
Tiga hari setelah Yusuf mengartikan mimpi juru minuman dan juru roti, diperingati hari ulang tahun Firaun, raja Mesir. Raja mengadakan pesta besar bagi semua pegawainya.
Maka raja memerintahkan supaya juru minuman dan juru roti dikeluarkan dari penjara dan dibawa ke hadapan semua pegawai istana.
Juru minuman dikembalikan raja kepada jabatan yang dahulu. Tetapi juru roti dihukum mati oleh raja.
Semuanya itu terjadi sesuai dengan apa yang dikatakan Yusuf ketika mengartikan mimpi juru minuman dan juru roti.
Tetapi sayangnya, sekalipun juru minuman sudah bebas dari penjara dan kembali melayani raja, ia tidak ingat lagi kepada Yusuf. Ia sama sekali lupa padanya dan tidak ingat bahwa Yusuf pernah meminta tolong untuk menjelaskan pada raja bahwa Yusuf tidak bersalah.
Yusuf Mengartikan Mimpi Firaun, Raja Mesir
Dua tahun setelah Yusuf mengartikan mimpi juru minuman, ternyata Firaun, raja Mesir juga bermimpi.
Karena mimpinya sangat aneh dan ia tidak mengerti artinya pagi harinya raja merasa gelisah.
Karena itu raja memerintahkan untuk memanggil semua tukang sihir dan orang berilmu di Mesir. Raja pun menceritakan mimpinya kepada mereka, tetapi tidak seorang pun dapat mengartikan mimpi itu.
Tiba-tiba juru minuman mengingat peristiwa ketika ia bermimpi dan diartikan oleh Yusuf dua tahun yang lalu.
Juru minuman lalu berkata kepada raja, "Hari ini hamba harus mengaku kesalahan hamba. Dahulu Baginda raja marah kepada juru roti dan kepada hamba, lalu kami dimasukkan ke dalam penjara, di rumah kepala pengawal istana.
Pada suatu malam kami berdua bermimpi dan tidak mengerti artinya. Tapi ada seorang pemuda Ibrani dikurung di sana dengan kami. Dia pelayan kepala pengawal istana itu. Kami menceritakan mimpi kami kepadanya, lalu ia bisa memberitahu arti mimpi itu.
Ternyata semuanya tepat terjadi seperti dikatakan pemuda itu, yaitu: Baginda raja mengembalikan hamba kepada jabatan hamba semula, tetapi menghukum mati juru roti itu."
Maka raja menyuruh memanggil Yusuf, dan dengan segera ia dikeluarkan dari penjara. Setelah Yusuf bercukur dan berganti pakaian, ia menghadap raja.
Raja berkata kepada Yusuf: "Aku telah bermimpi, dan tak seorang pun dapat mengartikan mimpiku. Ada yang mengabarkan kepadaku bahwa engkau dapat menerangkan mimpi."
Yusuf menjawab, "Bukan hamba, melainkan Allah yang akan memberikan penjelasan terhadap mimpi itu."
Lalu raja mulai menceritakan mimpinya. Awalnya, ia sedang berdiri di tepi Sungai Nil.
Raja melihat tujuh ekor sapi yang gemuk-gemuk dan baik rupanya, keluar dari sungai itu lalu mulai makan rumput di tepi sungai Nil. Kemudian, tujuh sapi yang lain muncul juga, tetapi sapi-sapi yang muncul kemudian ini sangat kurus dan buruk rupa.
Sapi-sapi yang kurus itu berdiri di samping sapi-sapi yang gemuk, di tepi sungai Nil. Tiba-tiba, sapi-sapi yang kurus memakan sapi-sapi yang gemuk.
Setelah itu raja bangun dari tidurnya. Kemudian ketika ia tidur lagi, ternyata ia bermimpi lagi.
Dalam mimpinya raja melihat tujuh bulir gandum yang berisi dan baik rupanya tumbuh pada satu tangkai. Kemudian tumbuh juga tujuh bulir gandum yang lain, yang kurus kering dan layu oleh angin gurun.
Tiba-tiba bulir-bulir gandum yang kurus itu menelan ketujuh bulir yang berisi tadi.
Setelah itu raja terbangun lagi dan sadar bahwa ia telah bermimpi.
Raja berkata pada Yusuf: "Telah kuceritakan kedua mimpiku itu kepada para tukang sihir, tetapi tak seorang pun dapat menerangkan artinya."
Lalu kata Yusuf kepada raja, "Kedua mimpi itu sama artinya; Allah telah memberitahukan kepada Tuanku apa yang akan dilakukannya. Tujuh sapi yang gemuk itu ialah tujuh tahun, dan tujuh bulir gandum yang berisi itu ialah tujuh tahun juga; keduanya sama artinya.
Tujuh sapi yang kurus, yang muncul kemudian, serta tujuh bulir gandum yang kurus dan kurus kering itu ialah masa kelaparan selama tujuh tahun.
Sebagaimana telah hamba katakan kepada Tuanku, Allah telah memperlihatkan kepada Tuanku apa yang akan dilakukannya. Nanti akan datang tujuh tahun masa penuh kemakmuran dan kelimpahan makanan di seluruh negeri Mesir. Tetapi setelah itu akan datang tujuh tahun kelaparan, sampai-sampai masa kelimpahan yang terjadi sebelumnya itu akan dilupakan sama sekali, karena masa kelaparan itu akan sangat dahsyat sehingga negeri ini menjadi tandus.
Mimpi Tuanku terjadi dua kali, itu berarti bahwa hal itu telah ditetapkan oleh Allah dan bahwa Allah akan melaksanakannya dengan segera.
Karena itu, sebaiknya Tuanku memilih seorang yang cerdas dan bijaksana dan memberinya kuasa untuk mengatur negeri ini. Tuanku harus pula mengangkat pegawai-pegawai lainnya, dan memberi mereka kuasa untuk memungut seperlima dari semua panen gandum selama tujuh tahun masa kelimpahan itu. Gandum-gandum dari masa kelimpahan itu harus disimpan di kota-kota sebagai persediaan makanan. Sehingga ketika ada tujuh tahun masa kelaparan yang datang di Mesir, masih ada gandum dari persediaan yang sudah disimpan sebelumnya. Dengan demikian rakyat Mesir tidak akan mati kelaparan."
Yusuf Diangkat Menjadi Penguasa Mesir
Mendengar penjelasan tentang arti mimpi raja dan solusi yang disarankan Yusuf, raja dan para pegawainya menyetujui rencana Yusuf itu.
Lalu raja berkata kepada para pegawainya: "Tidak mungkin kita mendapatkan orang lain yang lebih cocok melakukan rencana itu daripada Yusuf, sebab ia dipimpin oleh Roh Allah."
Maka raja berkata kepada Yusuf, "Allah telah memberitahukan semua ini kepadamu, jadi jelaslah bahwa engkau lebih cerdas dan bijaksana dari siapa pun juga. Engkau akan kuangkat menjadi penguasa, dan seluruh rakyatku harus mentaati perintahmu. Hanya aku sajalah yang lebih berkuasa daripadamu di negeri ini."
Setelah itu raja membuka cincin yang berukiran materai kerajaan, lalu memakaikannya ke jari Yusuf sambil berkata: "Dengan ini engkau kuangkat menjadi penguasa atas seluruh Mesir."
Kemudian dikenakan raja pada Yusuf sebuah jubah linen yang halus, dan dikalungkan raja pada leher Yusuf sebuah kalung emas.
Lalu raja juga memberikan kepada Yusuf kereta kerajaan yang kedua untuk kendaraan Yusuf, juga pengawal kehormatan raja berjalan di depan kereta itu sambil berseru-seru, "Beri hormat!"
Raja berkata kepada Yusuf: "Akulah raja, dan aku mengumumkan bahwa tanpa izinmu tidak seorang pun di seluruh Mesir boleh melakukan apa-apa."
Raja juga memberikan sebuah nama Mesir kepada Yusuf, yaitu Zafnat-Paaneah. Raja juga memberikan seorang istri kepada Yusuf yang bernama Asnat. Asnat adalah anak dari Potifera, yaitu seorang imam di kota On.
Yusuf berumur tiga puluh tahun ketika ia mulai bekerja untuk raja Mesir. Maka berangkatlah Yusuf dari istana raja dan pergi mengelilingi seluruh negeri.
Dalam masa tujuh tahun kemakmuran, tanah menghasilkan panen yang berlimpah-limpah.
Gandum itu dikumpulkan oleh Yusuf lalu disimpannya di kota-kota. Dalam setiap kota ia menyimpan gandum hasil ladang-ladang di sekitar kota itu.
Gandum yang dikumpulkannya itu begitu banyak sehingga Yusuf berhenti menghitungnya, karena memang tidak terhitung karena terlalu banyak.
Sebelum tiba masa kelaparan, Asnat istri Yusuf melahirkan dua anak laki-laki.
Ketika anak pertamanya lahir, Yusuf berkata: "Allah telah membuat aku lupa kepada segala penderitaanku dan kepada keluarga ayahku." Karena itu Yusuf menamai anaknya yang pertama "Manasye".
Ketika anak keduanya lahir, Yusuf berkata: "Allah telah memberikan anak-anak kepadaku dalam masa kesukaranku." Karena itu lalu Yusuf menamai anaknya yang kedua itu "Efraim".
Tanpa terasa, tujuh tahun masa kelimpahan di negeri Mesir telah berakhir. Maka datanglah tujuh tahun masa kelaparan, tepat seperti yang telah dikatakan Yusuf. Di seluruh dunia terjadi kelaparan, tetapi hanya di Mesir ada persediaan makanan.
Ketika rakyat Mesir mulai menderita kelaparan, mereka meminta makanan kepada raja. Lalu raja menyuruh mereka pergi kepada Yusuf dan melakukan segala apa yang akan diperintahkan Yusuf kepada mereka.
Ketika kelaparan itu menjadi makin hebat dan menyebar di seluruh negeri, Yusuf membuka semua gudang dan menjual gandum kepada orang Mesir. Selain dari Mesir, ternyata dari seluruh dunia juga orang-orang datang ke Mesir untuk membeli gandum dari Yusuf, karena kelaparan itu sungguh dahsyat terjadi di mana-mana.
Selasa, 28 Januari 2025
[14] Yusuf Dijual ke Mesir (Kejadian 37-39)
Sabtu, 07 Desember 2024
#268 Paulus di Roma (Kisah Para Rasul 28)
Sesudah tiga bulan Paulus di Pulau Malta, rombongan Paulus berangkat lagi dengan sebuah kapal dari Aleksandria yang selama musim dingin berada di pulau Malta.
Lalu kapal singgah di kota Sirakusa (di pulau Sisilia) dan tinggal di sana selama tiga hari.
Dari situ kapal berlayar ke seberang dan tiba di kota Regium (di ujung provinsi Italia). Besoknya, angin dari selatan bertiup, sehingga kapal bisa berlayar ke utara dan sampai ke kota Putioli pada hari berikutnya.
Di kota Putioli Paulus bertemu dengan beberapa orang saudara seiman. Mereka meminta Paulus dan teman-temannya menginap di rumah mereka selama tujuh hari. Kemudian Paulus dan teman-temannya melanjutkan perjalanan dan tiba di Roma.
Saudara-saudara seiman di kota Roma sudah mendengar berita bahwa Paulus dalam perjalanan ke kota itu. Mereka datang sampai ke Forum Apius dan Tres Taberne untuk menjemput Paulus. Ketika Paulus melihat jemaat Roma itu, dia bersyukur kepada Allah dan hatinya dikuatkan.
Sesudah Paulus tiba di Roma, pertama-tama perwira Yulius menyerahkan para tahanan kepada komandan di markas. Kemudian keluarlah keputusan yang memberi izin kepada Paulus untuk tinggal sendiri, dengan selalu dijaga oleh seorang tentara.
Tiga hari kemudian, Paulus mengundang para pemimpin orang Yahudi yang ada di Roma untuk menemui dia dan menjelaskan kedatangannya. Sesudah mereka berkumpul, dia berkata kepada mereka, “Saudara-saudara, walaupun aku tidak berbuat sesuatu yang melawan hukum dan adat Yahudi, orang Yahudi di Yerusalem menangkap aku dan menyerahkan aku ke tangan para penguasa Romawi.
Pejabat-pejabat kerajaan Romawi tidak menemukan kesalahan padaku. Tetapi karena orang Yahudi tidak mau aku dibebaskan, aku terpaksa memohon supaya perkara ini diajukan kepada raja tertinggi Romawi.
Aku ingin berbicara dengan kalian, karena sebenarnya, aku dirantai seperti ini justru karena keyakinan akan semua janji Allah kepada nenek moyang kita orang Yahudi.”
Lalu orang-orang Yahudi di Roma menjawab, “Kami belum menerima surat dari provinsi Yudea tentang kamu. Juga belum ada orang Yahudi dari sana yang datang membawa berita atau menceritakan hal buruk tentang kamu.
Tetapi kami ingin mendengar langsung darimu tentang keyakinanmu itu. Karena kami tahu bahwa di mana-mana, orang berbicara menentang aliranmu itu.”
Lalu mereka menentukan waktu untuk bertemu lagi dengan Paulus. Dan pada hari yang ditetapkan itu, lebih banyak orang Yahudi yang datang berkumpul di rumah tempat Paulus menginap. Dari pagi sampai malam Paulus menjelaskan dan bersaksi kepada mereka tentang kerajaan Allah. Paulus juga berusaha meyakinkan mereka untuk percaya kepada Yesus dengan menggunakan ayat-ayat dari hukum Taurat dan tulisan para nabi.
Ada dari antara orang-orang Yahudi itu yang menjadi percaya karena penjelasan Paulus. Tetapi ada juga yang tidak percaya.
Paulus pun berkata, “Memang tepat sekali apa yang dikatakan oleh Roh Kudus melalui Nabi Yesaya kepada nenek moyang kita! TUHAN berkata bahwa bangsa ini sudah menjadi keras kepala.
Jadi, karena kalian orang Yahudi tidak mau mendengarkan berita keselamatan dari Allah, maka kalian harus tahu bahwa sekarang Allah sudah mengirim berita itu kepada bangsa-bangsa yang bukan Yahudi, dan mereka pun mau menerimanya.”
Sesudah Paulus berkata demikian, orang-orang Yahudi itu pun bubar sambil berdebat karena terjadi perbedaan pendapat di antara mereka.
Setelah itu, selama dua tahun penuh, Paulus tinggal di rumah yang dia sewa sendiri. Paulus menerima semua orang yang datang untuk mengunjunginya dan mengajar tentang Yesus Kristus dan Kerajaan Allah. Paulus juga memberi semangat dan pengajaran dengan surat untuk gereja-gereja di Kolose, Efesus, dan Filipi.
Pada zaman itu, Roma adalah kota pusat pemerintahan dan perdagangan dunia, sehingga banyak orang berkumpul di sana. Walau dalam tahanan, Paulus tetap memberitakan tentang kerajaan Allah dan Tuhan Kristus Yesus dengan penuh keberanian dan tanpa halangan dari siapa pun, dan dari situ Injil bisa tersebar ke seluruh dunia.
Minggu, 24 November 2024
#267 Paulus di Pulau Malta (Kisah Para Rasul 28)
Sebelumnya kapal yang dinaiki oleh Paulus dan para tahanan Kaisar kandas di sebuah pulau dalam perjalanan menuju Roma. Tetapi meskipun kapal hancur, semua penumpang dapat menyelamatkan diri.
Sesudah semua penumpang kapal berhasil sampai di daratan, mereka baru tahu dari penduduk setempat bahwa pulau itu bernama Malta.
Penduduk pulau Malta menerima dan menolong penumpang kapal dengan sangat baik. Para penduduk menyalakan api unggun agar penumpang kapal bisa menghangatkan badan, karena hujan masih turun dan cuaca amat dingin.
Ketika Paulus mengumpulkan ranting-ranting kayu dan menaruhnya ke atas api, seekor ular beracun yang bersembunyi di dalam kayu itu keluar karena panasnya api, lalu menggigit tangan Paulus. Gigitannya menancap kuat sampai ular itu tidak terlepas dari tangan Paulus.
Melihat kejadian itu, para penduduk pulau Malta berkata satu sama lain, “Pasti orang ini adalah pembunuh, karena walaupun dia sudah selamat dari bahaya di laut, ternyata Dewi Keadilan tidak membiarkan dia hidup.”
Namun Paulus mengibaskan tangannya sehingga ular itu terlepas dan jatuh ke dalam api. Paulus tidak merasa sakit apa-apa.
Penduduk pulau Malta menyangka bahwa tangan Paulus akan menjadi bengkak, atau tiba-tiba Paulus akan ambruk dan mati seketika itu juga. Tetapi sesudah cukup lama menunggu, ternyata tidak terjadi apa pun kepada Paulus.
Maka penduduk pulau Malta berubah pikiran dan berkata, “Wah, orang ini pasti dewa!”
Tidak jauh dari tempat api unggun itu terdapat tanah milik gubernur pulau Malta, namanya Publius.
Publius mengundang Paulus dan teman-temannya untuk menginap di rumahnya. Paulus dan teman-temannya tinggal di rumah Publius tiga hari lamanya, dan selama itu Publius bersikap sangat baik kepada Paulus dan teman-temannya.
Pada waktu itu, ayah dari Publius sedang terbaring sakit karena demam dan diare. Paulus menjenguk ayah Publius ke kamarnya, dan ketika Paulus berdoa sambil meletakkan kedua tangannya ke atas ayah dari Publius, bapak itu langsung sembuh.
Sesudah peristiwa itu, semua orang sakit yang lain di pulau Malta berdatangan kepada Paulus, dan semuanya disembuhkan.
Karena keajaiban tersebut, penduduk Pulau Malta sangat menghormati Paulus, dan ketika tiba waktunya Paulus melanjutkan perjalanan, penduduk Pulau Malta menyediakan semua kebutuhan Paulus.