Rangkuman Alkitab
Kumpulan catatan yang bersumber dari Alkitab, satu-satunya sumber kebenaran sejati di dalam dunia.
Sabtu, 27 Juni 2026
[27] Pemberontakan Bangsa Israel (Bilangan 11-15, Ulangan 1)
Sabtu, 30 Mei 2026
[26] Pencatatan dan Pembagian Tugas Bangsa Israel (Bilangan 1-10)
Pencatatan Bangsa Israel
Ketika masih di kaki Gunung Sinai, Tuhan juga memerintahkan Musa untuk menghitung jumlah pasukan Israel, yaitu laki-laki yang berusia 20 tahun ke atas yang sanggup berperang. Penghitungan pasukan ini berlaku untuk setiap suku kecuali suku Lewi. Tujuan penghitungan ini adalah mempersiapkan bangsa Israel untuk menghadapi perjalanan dan peperangan hingga mereka bisa memiliki tanah Kanaan yang dijanjikan Tuhan.
Total pasukan militer yang tercatat adalah sebanyak 603.550 orang, yang terdiri dari:
Suku Yehuda dipimpin oleh Nahason bin Aminadab. Tercatat sejumlah 74.600 orang.
Suku Isakhar dipimpin oleh Netaneel bin Zuar. Tercatat sejumlah 54.400 orang.
Suku Zebulon dipimpin oleh Eliab bin Helon. Tercatat sejumlah 57.400 orang.
Suku Ruben dipimpin oleh Elizur bin Syedeur. Tercatat sejumlah 46.500 orang.
Suku Simeon dipimpin oleh Selumiel bin Zurisyadai. Tercatat sejumlah 59.300 orang.
Suku Gad dipimpin oleh Elyasaf bin Rehuel. Tercatat sejumlah 45.650 orang.
Suku Efraim dipimpin oleh Elisama bin Amihud. Tercatat sejumlah 40.500 orang.
Suku Manasye dipimpin oleh Gamaliel bin Pedazur. Tercatat sejumlah 32.200 orang.
Suku Benyamin dipimpin oleh Abidan bin Gideoni. Tercatat sejumlah 35.400 orang.
Suku Dan dipimpin oleh Ahiezer bin Amisyadai. Tercatat sejumlah 62.700 orang.
Suku Asyer dipimpin oleh Pagiel bin Okran. Tercatat sejumlah 41.500 orang.
Suku Naftali dipimpin oleh Ahira bin Enan. Tercatat sejumlah 53.400 orang.
Suku Lewi tidak dimasukkan dalam penghitungan pasukan militer karena mereka dikhususkan untuk melakukan pekerjaan kudus di Kemah Suci. Ketika dihitung secara menyeluruh dari yang berusia satu bulan ke atas, jumlah laki-laki suku Lewi adalah 22.000 orang. Namun, mereka yang berada di usia produktif (30-50 tahun) dan memenuhi syarat untuk melakukan pekerjaan fisik serta pengangkutan Kemah Suci berjumlah 8.580 orang.
Musa dan para imam (Harun dan anak-anaknya) memegang otoritas tertinggi atas seluruh ibadah, hukum, dan komunikasi dengan Tuhan. Sementara itu, anak-anak Harun juga bertindak sebagai pengawas bagi pekerjaan seluruh suku Lewi yang terbagi menjadi tiga kaum:
Kaum Kehat dipimpin oleh Elisafan bin Uziel. Mereka bertanggung jawab di bawah pengawasan imam Eleazar untuk mengurus dan mengangkut barang-barang mahakudus (termasuk Tabut Perjanjian, meja roti sajian, kandil, mezbah-mezbah, dan perkakas tempat kudus).
Kaum Gerson dipimpin oleh Elyasaf bin Lael. Mereka bertanggung jawab di bawah pengawasan imam Itamar untuk mengurus dan mengangkut seluruh komponen kain Kemah Suci (termasuk tudung, tirai pintu, layar pelataran, dan tirai pintu pelataran).
Kaum Merari dipimpin oleh Zuriel bin Abihail. Mereka bertanggung jawab di bawah pengawasan imam Itamar untuk mengurus dan mengangkut kerangka keras dan fondasi fisik Kemah Suci (termasuk kayu-kayu papan, tiang-tiang, alas, patok, serta tali kemah dan pelataran).
Barisan Perjalanan dan Formasi Perkemahan Bangsa Israel
Setiap kali berpindah tempat, bangsa Israel harus bergerak, berbaris, dan berkemah sesuai dengan ketentuan dari Tuhan.
A. Urutan Barisan Perjalanan (Saat Berangkat)
Sebelum perjalanan dimulai, para imam (Harun, dan anak-anaknya) masuk terlebih dahulu ke Kemah Suci untuk membungkus semua perkakas paling kudus (seperti Tabut Perjanjian, kandil, dan mezbah) dengan kain penutup khusus. Orang Lewi selain imam tidak boleh melihat atau menyentuh barang-barang kudus dalam kondisi terbuka.
Setelah tanda sangkakala ditiup, barisan bergerak dengan urutan sebagai berikut:
1. Kubu Yehuda Berangkat paling awal di bawah panji-panji mereka. Barisan ini dipimpin oleh suku **Yehuda**, diikuti suku **Isakhar** dan **Zebulon**.
2. Segera setelah kubu Yehuda bergerak, Kemah Suci dibongkar. **Kaum Gerson dan kaum Merari** dari suku Lewi berangkat mengangkut komponen kain, tirai, dan rangka keras Kemah Suci menggunakan kereta-kereta yang ditarik lembu.
3. Lalu kubu Ruben mulai bergerak di bawah panji-panji mereka. Barisan ini dipimpin oleh suku **Ruben**, diikuti suku **Simeon** dan **Gad**.
4. Setelah itu **Kaum Kehat** dari suku Lewi berangkat membawa barang-barang yang paling kudus yang sudah dibungkus oleh para imam tadi. Mereka mengangkutnya di atas pundak dengan kayu pengusung.
5. Selanjutnya **Kubu Efraim:** Mulai bergerak di bawah panji-panji mereka. Barisan ini dipimpin oleh suku **Efraim**, diikuti suku **Manasye** dan **Benyamin**.
6. Terakhir, **Kubu Dan** berangkat sebagai barisan penutup, dipimpin oleh suku **Dan**, diikuti suku **Asyer** dan **Naftali**.
B. Formasi Berkemah (Saat Menetap)
Sesampainya di tempat tujuan, Kaum Gerson dan kaum Merari dari suku Lewi langsung mendirikan struktur Kemah Suci tepat di pusat perkemahan. Pintu Kemah Suci menghadap ke arah Timur.
Barang-barang Kudus disusun di dalam Kemah Suci oleh imam setelah kaum Kehat dari suku Lewi sampai.
Setelah Kemah Suci berdiri, seluruh bangsa berkemah dengan formasi berlapis:
#### 1. Lapisan Dalam (Suku Lewi & Para Imam)
Suku Lewi dan para imam berkemah paling dekat, membenteng posisi Kemah Suci di empat penjuru mata angin:
* Sisi Timur (Depan Pintu) adalah tempat berkemah Musa, Harun, dan para imam (keturunan Harun).
* Sisi Selatan (samping) adalah tempat berkemah Kaum Kehat
* Sisi Barat (belakang): adalah tempat berkemah Kaum Gerson.
* Sisi Utara (samping): adalah tempat berkemah Kaum Merari.
#### 2. Lapisan Luar (12 Suku Bangsa Israel)
Selanjutnya, 12 suku lainnya berkemah mengelilingi lapisan dalam atau suku Lewi, dibagi menjadi 4 kubu besar:
* **Sisi Timur (Paling Depan):** Kubu Yehuda (Suku Yehuda, Isakhar, dan Zebulon).
* **Sisi Selatan (Sayap Kanan):** Kubu Ruben (Suku Ruben, Simeon, dan Gad).
* **Sisi Barat (Paling Belakang):** Kubu Efraim (Suku Efraim, Manasye, dan Benyamin).
* **Sisi Utara (Sayap Kiri):** Kubu Dan (Suku Dan, Asyer, dan Naftali).
Tuhan Memimpin Perjalanan Bangsa Israel
Sejak Kemah Suci didirikan, awan Tuhan menutupi Kemah Suci pada siang hari, dan pada waktu malam awan itu kelihatan seperti tiang api.
Setiap kali awan Tuhan naik dari atas Kemah Suci, itulah tanda bagi bangsa Israel untuk membongkar tenda dan bergerak mengikuti arah awan. Di tempat awan itu berhenti, di sanalah mereka akan berkemah. Selama awan itu menetap di atas Kemah Suci—baik sehari, sebulan, bahkan setahun—bangsa Israel akan tetap tinggal dan tidak akan berangkat.
Selain memimpin melalui tanda awan, Tuhan juga memerintahkan Musa untuk membuat dua buah nafiri dari perak tempaan sebagai alat komunikasi dan pemberian aba-aba bagi jutaan umat Israel. Nafiri ini khusus ditiup oleh para imam (anak-anak Harun) dengan dua jenis tiupan:
-
1. Tiupan Panjang & Datar untuk Tanda Berkumpul:
- Jika kedua nafiri ditiup: Semua umat Israel harus segera berkumpul di depan pintu Kemah Suci.
- Jika hanya satu nafiri ditiup: Hanya para pemimpin dan kepala suku Israel yang wajib datang berkumpul.
-
2. Tiupan Berirama / Terputus-putus untuk Tanda Berangkat:
- Tiupan pertama: tanda Kubu Timur (Kubu Yehuda) untuk berjalan.
- Tiupan kedua: tanda Kubu Selatan (Kubu Ruben) untuk berjalan.
- Tiupan ketiga: tanda Kubu Barat (Kubu Efraim) untuk berjalan.
- Tiupan keempat: tanda Kubu Utara (Kubu Dan) untuk berjalan.
Meninggalkan Gunung Sinai menuju Padang Gurun Paran
Bangsa Israel menetap di kaki Gunung Sinai selama kira-kira 11 bulan. Di sanalah mereka menerima Hukum Taurat, membangun Kemah Suci, belajar keteraturan ibadah, dihitung dalam sensus, serta menerima pembagian tugas yang spesifik.
Akhirnya, pada tahun kedua setelah keluar dari Mesir, tepatnya pada tanggal dua puluh, bulan yang kedua, awan Tuhan naik dari atas Kemah Suci. Untuk pertama kalinya, bangsa Israel bergerak meninggalkan Gunung Sinai secara teratur sesuai formasi baru yang Tuhan perintahkan, hingga awan itu memandu mereka sampai ke Padang Gurun Paran.
Setiap kali perjalanan dimulai dan Tabut Perjanjian mulai diangkat, Musa akan berkata:
"Bangkitlah, TUHAN, buatlah musuh-Mu tercerai-berai dan semua yang membenci-Mu melarikan diri!"
Dan setiap kali Tabut Perjanjian itu berhenti untuk berkemah, Musa akan berkata:
"Kembalilah, TUHAN, kepada beribu-ribu umat Israel ini."
Sabtu, 28 Maret 2026
[25] Upacara Ibadah dan Cara Hidup Kudus Bangsa Israel (Imamat 1-27)
Tuhan mengatur waktu-waktu yang harus diingat dan dirayakan bangsa Israel.
Pertama ada hari Sabat, yaitu tiap hari ketujuh dalam satu minggu. Pada hari Sabat bangsa Israel mengingat bahwa Tuhan beristirahat pada hari ketujuh ketika menciptakan bumi, karena itu mereka juga berhenti dari segala pekerjaan dan mengadakan pertemuan ibadah yang kudus.
Lalu, dalam siklus tahunan, ada 7 hari raya yang diperingati bangsa Israel.
(1) Hari Raya Paskah dirayakan tiap tanggal 14 malam hari di bulan pertama. Pada hari Paskah, bangsa Israel mengingat malam ketika mereka selamat dari maut saat tulah ke-10 berlangsung di Mesir. Paskah diperingati dengan menyembelih dan makan daging domba Paskah.
Perayaan Paskah dilanjutkan dengan (2) Hari Raya Roti Tidak Beragi, yaitu tidak boleh makan roti beragi selama 7 hari dari tanggal 15 sampai 21 bulan pertama, untuk mengingat momen bangsa Israel keluar dari Mesir dengan terburu-buru.
Pada pertengahan bulan pertama, sesudah hari Sabat pada awal panen, ada (3) Hari Raya Hulu Hasil/ Buah Pertama untuk mengingat momen bangsa Israel masuk tanah Kanaan dan menikmati hasil tanah itu. Setiap tahun, seberkas hasil panen pertama harus diunjukkan imam kepada Tuhan sebelum boleh dimakan bangsa Israel.
Pada hari ke-50 atau 7 minggu setelah Hari Raya Hulu Hasil ada (4) Hari Raya Pentakosta yang menandai berakhirnya musim panen gandum. Bangsa Israel merayakannya dengan mengunjukkan dua roti yang baru bersama korban-korban lainnya dan mengadakan pertemuan jemaat yang kudus.
--
Pada bulan ketujuh tanggal 1 bangsa Israel mempersiapkan diri memasuki bulan yang paling suci dengan berhenti bekerja dan meniup serunai sepanjang hari pada (5) Hari Raya Meniup Serunai.
9 hari kemudian pada bulan ketujuh tanggal 10 ada (6) Hari Raya Pendamaian, hari paling kudus untuk penyucian dosa bangsa Israel. Ketika Hari Raya Pendamaian, bangsa Israel harus merendahkan diri dengan berpuasa dan tidak boleh bekerja. Imam Besar harus mempersembahkan korban bakaran dan korban penghapus dosa mewakili para imam dan bangsa Israel, lalu mengadakan pendamaian dengan memercikkan darah korban itu di dalam Ruang Mahakudus.
5 hari kemudian pada bulan ketujuh tanggal 15, selama tujuh hari bangsa Israel merayakan (7) Hari Raya Pondok Daun dengan tinggal di pondok-pondok untuk mengingat masa di mana mereka mengembara di padang gurun setelah keluar dari Mesir.
Tuhan juga mengatur tahun-tahun khusus yaitu: tiap tahun ketujuh menjadi Tahun Sabat, dimana tanah tidak boleh ditanami atau dituai. Apa yang tumbuh sendiri di tanah tersebut boleh dimakan oleh orang miskin dan hewan liar.
Lalu setiap tahun ke-50, setelah tujuh kali tahun Sabat, bangsa Israel harus memperingati Tahun Yobel atau tahun pembebasan, dengan cara meniup sangkakala, membebaskan budak-budak Israel, menghapuskan hutang, dan mengembalikan tanah pusaka yang pernah terjual kepada keluarga pemilik asalnya.
Sabtu, 07 Maret 2026
[24] Bangsa Israel Membuat Kemah Suci (Keluaran 35-40)
Persiapan Membuat Kemah Suci
Musa menyampaikan kepada bangsa Israel perintah Tuhan Allah di atas gunung Sinai, yaitu bangsa Israel harus membuat Kemah Suci dan segala perlengkapannya, juga pakaian para imam. Kemah Suci akan menjadi pusat kegiatan ibadah bangsa Israel dan tempat mereka bertemu dengan Allah. Sedangkan imam akan menjadi perwakilan bangsa Israel ketika beribadah kepada Allah.
Musa memberitahu bahan apa saja yang diperlukan untuk membuat Kemah Suci dan perlengkapannya kepada bangsa Israel. Maka bangsa Israel mengumpulkan bahan-bahan itu kepada Musa sebagai persembahan bagi Tuhan.
Musa juga memanggil orang-orang yang memiliki keterampilan yang dibutuhkan dalam membuat kemah, perkakas, dan pakaian imam untuk ikut serta dalam pekerjaan ini. Sebagai pemimpin para pekerja, Tuhan memilih Bezaleel bin Huri bin Hur dari suku Yehuda dan Aholiab bin Ahisamakh dari suku Dan. Tuhan sudah memberi Roh-Nya, juga memperlengkapi mereka dengan kebijaksanaan dan kemampuan untuk mengajarkan keahlian mereka kepada para pekerja lainnya. Kepada semua pekerja yang ikut serta, Tuhan juga memberi keahlian dan kemampuan dalam bidang masing-masing. Ada yang ahli menempa logam, membuat peralatan kayu, memasang batu permata, juga menenun kain.
Pekerjaan Membuat Kemah Suci dan Pakaian Imam Selesai
Bezaleel, Aholiab, dan para pekerja pun menyelesaikan pekerjaan mereka tepat seperti perintah Tuhan melalui Musa.
Mereka membuat:
-Kemah
-Tabut perjanjian, tempat menyimpan dua lempeng batu yang bertuliskan hukum Allah
-Meja roti sajian
-Tiang lampu pelita
-Mezbah dupa untuk pembakaran wewangian
-Mezbah korban bakaran
-Bejana pembasuhan
-Pagar pembatas pelataran
-Juga: pakaian imam
Setelah pembuatannya selesai, Kemah Suci didirikan dan perlengkapannya disusun. Peristiwa itu terjadi pada hari pertama bulan pertama, pada tahun kedua setelah bangsa Israel keluar dari Mesir. Harun dan anak-anaknya pun diurapi sebagai imam.
Kemudian awan kemuliaan Tuhan memenuhi Kemah Suci. Musa tidak bisa masuk selama kemuliaan Tuhan masih memenuhi kemah itu.
Sepanjang perjalanan bangsa Israel, setiap kali awan Tuhan naik dari atas kemah suci, bangsa Israel akan berangkat melanjutkan perjalanan mereka. Selama awan Tuhan tidak naik dari kemah, bangsa Israel akan tetap tinggal di tempat mereka berkemah. Awan Tuhan berdiam di atas kemah itu pada siang hari dan berubah menjadi api pada malam hari. Sehingga kehadiran Allah dapat terlihat setiap saat oleh seluruh bangsa Israel sepanjang perjalanan mereka.
Sabtu, 21 Februari 2026
[23] Bangsa Israel Menyembah Patung Lembu Emas (Keluaran 32-34, Ulangan 9-10)
Maka Harun membuat sebuah patung anak lembu emas dari perhiasan yang dikumpulkan orang-orang Israel.
Melihat patung itu, bangsa Israel berkata, “Inilah dewa kita yang sudah membawa kita keluar dari Mesir!”
Ketika Harun melihat bahwa umat merasa senang, dia mendirikan mezbah di depan patung anak lembu emas itu dan berkata, “Besok kita akan mengadakan perayaan bagi Tuhan!”
Keesokan harinya bangsa Israel bangun pagi-pagi untuk mempersembahkan korban kepada patung itu. Lalu mereka makan dan minum serta berpesta pora.
Sementara itu, di atas gunung Sinai Tuhan berkata kepada Musa, “Segeralah turun! Umat yang kamu bawa keluar dari Mesir sudah menyimpang dari perintah-Ku! Mereka sudah membuat patung berhala berbentuk anak lembu, lalu beribadah kepadanya!”
Kata Tuhan lagi, “Aku sudah melihat betapa keras kepalanya umat ini. Biarlah Aku membinasakan mereka semua! Tetapi kamu akan kubuat menjadi suatu bangsa yang besar!”
Tetapi Musa memohon kepada Tuhan, “Janganlah membinasakan umat-Mu yang Engkau bawa keluar dari Mesir dengan kuasa dan kekuatan-Mu.
Jangan sampai orang Mesir berkata, ‘Tuhan membawa umat Israel keluar dari Mesir hanya untuk memusnahkan mereka.’
Ingatlah juga janji-Mu kepada Abraham, Isak, dan Yakub, bahwa Engkau akan memberikan tanah perjanjian-Mu pada keturunan mereka.”
Maka Tuhan tidak jadi membinasakan umat-Nya.
Kemudian Musa berbalik dan turun dari gunung sambil memegang dua lempengan batu yang bertuliskan perintah-perintah Allah yang ditulis oleh Allah sendiri.
Yosua dan Musa pun turun gunung ke arah perkemahan. Dari jauh mereka sudah mendengar keramaian pesta bangsa Israel.
Ketika Musa sudah dekat dengan perkemahan itu, dia pun melihat patung anak lembu emas dan orang-orang sedang menari-nari. Melihat itu Musa menjadi sangat marah. Dia melemparkan kedua lempengan batu di tangannya ke tanah sampai hancur.
Musa mengambil patung anak lembu emas itu. Lalu Musa dibantu beberapa orang menghancurkan patung itu sampai halus, menaburkannya ke air, lalu menyuruh bangsa Israel meminum air itu.
Hukuman karena Menyembah Patung Lembu Emas
Melihat bangsa Israel yang menyembah patung lembu emas, Musa sangat marah kepada Harun.
Tetapi Harun berkata, "Kamu sudah tahu betapa jahatnya bangsa ini. Melihat kamu pergi lama sekali, mereka meminta aku membuat tuhan untuk memimpin mereka."
Musa yang melihat kesalahan bangsa Israel yang sangat besar lalu berdiri di pintu gerbang perkemahan dan berkata, "Siapa yang memihak Tuhan, bergabung denganku!"
Maka seluruh suku Lewi berkumpul di dekat Musa. Musa memerintahkan kepada orang-orang Lewi, "Bawa pedang kalian dan berjalanlah ke seluruh perkemahan, hukumlah orang-orang yang sudah melanggar perintah Tuhan!"
Maka orang-orang Lewi melakukan perintah Musa dan menghukum kira-kira 3000 orang Israel yang menyembah patung.
Musa berkata kepada suku Lewi, "Hari ini kamu sudah mengkhususkan diri untuk melayani Tuhan dan menaati perintah-Nya. Oleh karena itu, Tuhan akan memberkatimu!"
Keesokan harinya, Musa memanggil orang-orang Israel yang tersisa dan berkata, "Kalian telah berbuat dosa besar. Tetapi aku akan kembali menghadap Tuhan untuk meminta pendamaian atas dosamu."
Musa kembali menghadap Tuhan dan berkata, "Bangsa ini sudah membuat dosa besar. Tapi aku mohon ampunilah dosa mereka. Jika tidak, biarlah namaku juga dihapuskan dari kitab daftar nama umat-Mu."
Tetapi Allah berkata pada Musa, "Yang akan aku hapus dari kitab itu hanya orang yang berdosa kepada-Ku. Tetapi pergilah dan pimpinlah bangsa Israel yang tersisa ke tanah yang telah Kujanjikan, dan malaikat-Ku akan berjalan di depanmu. Akan tiba saatnya Aku menghukum mereka atas dosa mereka."
Kemudian Tuhan mendatangkan wabah pada bangsa Israel atas dosa mereka menyembah patung lembu emas.
Musa Meminta Penyertaan Tuhan
Ketika tiba waktunya, Tuhan menyuruh bangsa Israel melanjutkan perjalanan. Tuhan berkata kepada Musa, "Pergilah dari tempat ini menuju negeri yang Kujanjikan. Tetapi Aku tidak akan berjalan bersama kalian, karena kalian adalah bangsa yang tidak taat. Kalau kalian membuat Aku marah bisa saja Aku membinasakan kalian di jalan. Jadi malaikat-Ku yang akan berjalan di depan kalian."
Mendengar perkataan Tuhan, bangsa Israel sedih dan merendahkan diri dengan melepas semua perhiasan mereka.
Musa memohon penyertaan Tuhan dengan berkata, "Jika Engkau tidak menyertai kami, jangan suruh kami pergi dari sini. Bagaimana orang akan tahu bahwa Tuhan berkenan pada bangsa Israel? Justru yang membedakan kami dari bangsa-bangsa lain, adalah karena kehadiran-Mu bersama kami! "
Tuhan mendengar permohonan Musa dan berkata, "Permintaan-Mu akan Kulakukan, karena Aku berkenan kepadamu dan sudah mengenalmu."
Musa juga memohon untuk diperlihatkan kemuliaan Tuhan. Tuhan berkata Ia juga akan memenuhi permohonan itu.
Maka Tuhan menyuruh Musa kembali naik ke gunung Sinai. Sesuai perintah Tuhan, Musa kembali naik dengan membawa dua lempengan batu yang baru yang telah dipahatnya.
Lalu Tuhan turun dan berjalan lewat di depan Musa sehingga Musa bisa melihat kemulian-Nya dari belakang.
Musa sujud menyembah Tuhan dan memohon lagi, "Ya Tuhan, jika Engkau sungguh berkenan kepadaku, aku mohon berjalanlah bersama kami. Ampunilah dosa kami dan jadikanlah kami bangsa kepunyaan-Mu."
Tuhan menjawab, "Aku meneguhkan kembali perjanjian-Ku dengan kalian. Aku akan melakukan lagi perbuatan-perbuatan ajaib di depan bangsa Israel dan menepati janji-Ku memberikan tanah perjanjian. Tetapi kalian harus taat pada-Ku. Kalian tidak boleh menyembah dewa asing dan tidak boleh lalai melakukan ibadah yang Kuperintahkan."
Musa tinggal di gunung Sinai lagi selama empat puluh hari empat puluh malam, dan selama itu ia tidak makan roti dan tidak minum air. Tuhan menuliskan kata-kata perjanjian, yaitu sepuluh perintah Allah, pada dua lempengan batu yang disiapkan Musa.
Sewaktu Musa turun dari gunung Sinai dengan membawa kedua lempengan batu di tangannya, ia tidak sadar wajahnya masih bercahaya setelah berbicara dengan Tuhan. Musa menyampaikan perintah Tuhan kepada bangsa Israel, dan ia menutupi mukanya supaya bangsa Israel tidak takut melihatnya.
Sabtu, 24 Januari 2026
[22] Bangsa Israel Belajar Beribadah Kepada Allah (Keluaran 18-31, Ulangan 5)
- Jangan menyembah allah lain selain Aku
- Jangan membuat berhala dalam bentuk apapun dan jangan menyembahnya
- Jangan menyebut nama-Ku dengan sembarangan dan dengan maksud yang salah
- Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat, hentikanlah segala pekerjaan untuk menghormati Aku
- Hormatilah ayah dan ibumu
- Jangan membunuh
- Jangan berzinah
- Jangan mencuri
- Jangan mengucapkan fitnah atau hal yang tidak benar tentang orang lain
- Jangan mengingini milik orang lain
Sabtu, 06 Desember 2025
[21] Bangsa Israel di Padang Gurun (Keluaran 15-17)
Jumat, 21 November 2025
[20] Bangsa Israel Keluar dari Mesir (Keluaran 12-15)
Bangsa Israel Memulai Perjalanan
Setelah tulah ke-10 terjadi, raja Mesir Dan rakyat Mesir mendesak bangsa Israel untuk segera meninggalkan Mesir. Mereka takut akan semakin banyak bencana dari Tuhan bila bangsa Israel terus ada di negeri mereka.
Sesuai perintah Musa, sebelum berangkat bangsa Israel meminta perhiasan emas, perak, dan pakaian dari orang-orang Mesir tetangga mereka.
Tuhan membuat rakyat Mesir mau memberikan segala sesuatu yang diminta oleh bangsa Israel dengan rela hati. Dengan cara demikian, bangsa Israel membawa keluar harta kekayaan orang Mesir.
Bangsa Israel keluar dari Mesir setelah 430 tahun lamanya tinggal di Mesir.
Jumlah laki-laki dewasa yang berangkat sekitar 600.000 orang, belum terhitung perempuan dan anak-anak. Ada juga orang-orang yang bukan keturunan Israel ikut serta. Dan ada juga kawanan hewan ternak yang sangat banyak.
Musa membawa juga tulang-tulang Yusuf, leluhur bangsa Israel, sesuai janji bangsa Israel dahulu pada Yusuf.
Dalam perjalanan bangsa Israel, Tuhan selalu bergerak di depan mereka untuk menuntun perjalanan mereka. Pada siang hari, Tuhan menuntun mereka dalam bentuk tiang awan, dan pada malam hari dalam bentuk tiang api yang menerangi mereka. Dengan begitu, mereka dapat melakukan perjalanan baik siang maupun malam dengan mengikuti tiang awan dan tiang api itu.
Tuhan tidak menuntun mereka melalui jalur utama yang melintasi negeri orang Filistin, sekalipun jalur utama itu lebih dekat untuk sampai ke Kanaan. Tuhan tidak ingin bangsa Israel menjadi takut dan ingin kembali ke Mesir kalau diserang musuh di jalur itu.
Jadi Tuhan membawa bangsa Israel melalui jalan memutar melintasi padang belantara menuju Laut Merah.
Perjalanan bangsa Israel dimulai dari Ramses di Mesir, lalu mereka ke Sukot. Setelah meninggalkan Sukot, mereka berkemah di Etam, di tepi padang belantara.
Kemudian TUHAN berkata kepada Musa, “Perintahkanlah umat Israel untuk kembali dan berkemah di tepi laut di Pi Hahirot, yang terletak di antara kota Migdol dan Laut Merah, berhadapan dengan Baal Zefon.
Nanti raja Mesir akan berubah pikiran Dan berusaha mengejar kalian. Saat itu Aku akan mengalahkan raja Mesir beserta seluruh pasukannya, dan semua orang akan melihat kemuliaan-Ku, Dan bahwa Akulah Tuhan.” Maka bangsa Israel berkemah di sana sesuai perintah Tuhan.
Bangsa Israel Menyeberangi Laut
Sewaktu raja Mesir diberitahu bahwa bangsa Israel sudah melarikan diri, raja dan para pejabatnya berubah pikiran lalu berkata, “Mengapa kita membiarkan bangsa Israel pergi?! Sekarang kita jadi kehilangan budak!”
Raja Mesir pun menyuruh supaya 600 kereta perang disiapkan, juga para tentara yang akan ikut bersamanya.
Seluruh pasukan Mesir, termasuk semua pasukan berkuda, kereta, dan pengendaranya, cepat-cepat mengejar umat Israel, dan mereka berhasil menyusul sampai perkemahan Israel di dekat Pi Hahirot, di depan Baal Zefon yang berada di tepi Laut Merah atau yang disebut juga Laut Teberau.
Ketika bangsa Israel melihat raja Mesir dan pasukannya mendekat, mereka sangat ketakutan dan berseru minta tolong kepada Tuhan.
Bangsa Israel juga marah kepada Musa. Kata mereka, “Kamu sudah membuat kami celaka dengan membawa kami keluar dari Mesir! Bukankah dulu kami pernah berkata, ‘Lebih baik hidup sebagai budak orang Mesir daripada mati di padang belantara!’”
Tetapi Musa menjawab mereka, “Jangan takut! Berdirilah teguh dan lihatlah yang akan Tuhan lakukan hari ini untuk menyelamatkan kita! Tuhan yang akan berperang bagi kita, dan kita tidak perlu melakukan apa-apa.”
Tuhan berkata kepada Musa, “Perintahkanlah bangsa Israel untuk berjalan maju! Angkatlah tongkatmu dan arahkanlah ke atas laut. Laut itu akan terbelah agar umat Israel bisa berjalan menyeberanginya di atas tanah kering. Pasukan Mesir akan mengejar bangsa Israel ke tengah laut, dan Aku akan mengalahkan raja Mesir beserta seluruh pasukannya, supaya orang Mesir dan bangsa Israel melihat kemuliaan-Ku.”
Kemudian malaikat dan tiang awan yang sebelumnya berjalan di depan bangsa Israel berpindah ke belakang mereka, memisahkan perkemahan bangsa Israel dan pasukan Mesir. Menjelang malam, tiang itu membawa kegelapan di sisi pasukan Mesir, tapi tetap menerangi bangsa Israel. Dengan demikian, pasukan Mesir tidak dapat mendekati bangsa Israel sepanjang malam itu.
Lalu Musa mengarahkan tongkatnya ke atas laut. Maka Tuhan membuat angin timur bertiup sangat kencang sepanjang malam sehingga air laut terbelah dua dan dasar laut menjadi kering. Bangsa Israel berjalan di atas tanah yang kering menyeberangi laut, sementara sisi kiri dan kanan mereka dipagari oleh dinding air.
Tetapi seluruh pasukan Mesir, mengejar bangsa Israel hingga ke tengah laut. Menjelang matahari terbit, Tuhan yang berada di dalam tiang api dan awan, membuat pasukan Mesir menjadi kacau. Tuhan membuat roda-roda kereta tentara Mesir macet sehingga mereka susah maju. Pasukan Mesir panik Dan berkata, “Mari kita lari dari sini! Tuhan bangsa Israel sedang berperang melawan kita!”
Tuhan berkata kepada Musa, “Arahkanlah tongkatmu ke atas laut, supaya air laut berbalik dan menutupi semua pasukan Mesir.”
Maka menjelang pagi sesudah semua bangsa Israel menyeberang, Musa mengarahkan tongkatnya ke atas laut, dan air laut menyatu kembali seperti semula. Pasukan Mesir berusaha melarikan diri, tetapi Tuhan menenggelamkan mereka di tengah laut. Air laut tiba-tiba berbalik dan menutupi semua pasukan berkuda, pengendara kereta, bahkan semua pasukan raja Mesir yang mengejar umat Israel ke tengah laut. Tidak ada seorang pun yang selamat.
Pada hari itu, Tuhan menyelamatkan bangsa Israel dari pasukan Mesir, dan orang Israel melihat tentara-tentara Mesir yang sudah mati terdampar di pantai.
Ketika bangsa Israel melihat betapa besarnya kuasa Tuhan, mereka jadi takut kepada Tuhan dan kepada Musa.
Musa dan bangsa Israel menyanyikan puji-pujian kepada Tuhan. Miryam kakak Musa juga memimpin perempuan bangsa Israel menyanyi dan menari dengan rebana, untuk memuji kebesaran Tuhan.
Sabtu, 15 November 2025
[20] Bangsa Israel Keluar dari Tanah Mesir (Keluaran 13-15)
Bangsa Israel Keluar dari Mesir
Setelah tulah kesepuluh terjadi, rakyat Mesir mendesak umat Israel untuk segera meninggalkan negeri itu.
Sesuai perintah Musa sebelumnya, bangsa Israel meminta perhiasan emas, perak, dan pakaian dari orang Mesir tetangga mereka. Tuhan membuat rakyat Mesir bermurah hati terhadap umat Israel, dan mereka memberikan harta benda mereka, apapun yang diminta oleh orang Israel.
Hari itu, setelah 430 tahun bangsa Israel tinggal di Mesir, akhirnya mereka meninggalkan negeri itu.
Jumlah laki-laki dewasa sekitar 600.000 orang, belum termasuk perempuan dan anak-anak.
Sejumlah besar orang yang bukan keturunan Israel juga ikut serta. Dan ada kawanan ternak yang sangat banyak.
Musa membawa tulang-tulang Yusuf bersamanya, karena Yusuf sudah meminta umat Israel berjanji, “Allah pasti akan datang menolong kalian. Pada waktu itu, kalian harus membawa tulangku keluar dari Mesir.”
Kemudian umat Israel berjalan dari Rameses ke Sukot.
Tuhan selalu bergerak di depan bangsa Israel untuk menuntun perjalanan mereka. Pada siang hari, Tuhan menuntun mereka dalam bentuk tiang awan, dan pada malam hari dalam bentuk tiang api yang menerangi mereka. Dengan begitu, mereka dapat melakukan perjalanan baik siang maupun malam dengan mengikuti tiang awan dan tiang api itu.
Tuhan tidak menuntun mereka melalui jalan utama yang melintasi negeri orang Filistin, sekalipun jaraknya lebih dekat. Allah berkata, “Seandainya mereka pergi melalui jalan itu dan diserang musuh, bisa-bisa mereka berubah pikiran dan kembali ke Mesir.”
Jadi, Tuhan membawa mereka melalui jalan yang lebih jauh dengan melintasi padang belantara menuju Laut Merah. Umat Israel keluar dari Mesir dalam keadaan siap berperang.
Setelah meninggalkan Sukot, mereka berkemah di Etam, di tepi padang belantara.
Sabtu, 04 Oktober 2025
[19] Sepuluh Tulah (Keluaran 7-13)
Raja Mesir pun bertanya pada Musa dan Harun, “Siapa saja yang akan pergi?”
Jawab Musa, “Kami akan pergi membawa semua orang dan semua hewan ternak kami.”
Tetapi kata raja Mesir, “Tidak bisa! Hanya para laki-laki yang boleh pergi!”
Setelah itu Musa dan Harun diusir dari hadapan raja.
Karena raja Mesir menolak, maka Musa mengulurkan tongkatnya ke atas tanah Mesir. Datanglah angin timur bertiup dan membawa belalang yang sangat banyak.
Belalang-belalang menutupi seluruh permukaan tanah negeri Mesir, dan memakan habis semua tanaman dan buah-buahan pada pohon-pohon yang masih tersisa dari hujan es.
Melihat hal itu, raja Mesir segera memanggil Musa dan Harun dan meminta Musa menghilangkan belalang itu. Musa pergi dan berdoa sehingga angin barat bertiup membawa pergi semua belalang dari Mesir.
Tulah ke-9: Gelap Gulita
Tapi setelah itu, lagi-lagi Raja Mesir melarang umat Israel pergi dari Mesir.
Lalu Tuhan menyuruh Musa mengangkat tangannya ke langit.
Maka gelap gulita menyelimuti seluruh Mesir selama tiga hari.
Rakyat Mesir tidak dapat melihat satu sama lain dan tidak dapat pergi kemana-mana selama tiga hari. Tetapi di Gosyen, daerah umat Israel tinggal, tidak terjadi kegelapan seperti itu.
Raja Mesir memanggil Musa dan berkata, “Pergilah beribadah pada Tuhanmu. Perempuan-perempuan dan anak-anak kalian boleh ikut, tetapi semua hewan ternak kalian harus ditinggalkan di sini.”
Jawab Musa, “Engkau harus membiarkan kami membawa hewan ternak, karena hewan itu diperlukan sebagai korban bakaran kepada Tuhan.”
Raja pun menjadi marah dan berkata kepada Musa, “Pergi! Aku tidak mau bertemu denganmu lagi!”
Jawab Musa, “Baiklah! Memang kita tidak akan bertemu lagi!”
Part 6
Tulah ke-10: Kematian Anak Sulung
Tuhan kembali berbicara kepada Musa, “Masih ada satu tulah lagi yang akan Aku datangkan pada negeri Mesir. Sesudah itu, raja Mesir akan membiarkan kalian pergi.”
Kemudian Musa menghadap raja Mesir dan berkata, “Tengah malam nanti, Tuhan akan mengelilingi seluruh negeri Mesir. Maka setiap anak sulung, yaitu anak pertama di tiap keluarga, di negeri Mesir akan mati, baik manusia maupun hewan. Semua orang Mesir akan menangis dengan keras. Tetapi bangsa Israel akan tetap aman.
Maka kalian sendiri yang nanti memohon kepadaku, supaya aku membawa bangsa Israel pergi dari Mesir.” Setelah berkata begitu, dengan sangat marah Musa meninggalkan raja.
Tetapi raja Mesir tidak mempedulikan peringatan Musa, sesuai perkataan Tuhan sebelumnya.
Melalui Musa, Tuhan juga menyampaikan ketetapan tentang perayaan Paskah, yang harus disiapkan ketika bangsa Israel keluar dari Mesir:
Tiap keluarga orang Israel harus menyembelih anak kambing atau anak domba, lalu darahnya dioleskan pada kedua tiang pintu dan ambang atas pintu rumah mereka.
Lalu daging kambing atau domba itu harus dipanggang dan dimakan dengan roti tidak beragi dan sayur pahit, sebagai makanan perjamuan Paskah.
Pada malam itu, bangsa Israel harus sudah siap dengan pakaian untuk pergi jauh dan memakan jamuan Paskah itu dengan buru-buru.
Maka Tuhan akan berkeliling ke seluruh Mesir dan membuat semua anak sulung mati.
Tetapi rumah yang pintunya diolesi darah domba akan dilewati dan anak sulungnya akan selamat.
Bangsa Israel melakukan tepat seperti perintah Tuhan yang dikatakan Musa.
Maka benar saja, pada tengah malam Tuhan membuat semua anak sulung di Mesir mati, baik manusia maupun hewan ternak. Di setiap rumah ada suara tangisan yang keras karena kehilangan anak sulung. Tetapi di rumah orang Israel yang sudah ditandai dengan darah domba, tidak ada yang mati.
Malam itu juga, akhirnya raja Mesir mengizinkan bangsa Israel pergi. Ia memanggil Musa dan Harun lalu berkata, “Pergi! Bawalah semua orang dan hewan ternak bangsa Israel untuk menyembah Tuhan kalian, seperti yang kalian minta!”
Untuk memperingati hari kebebasan bangsa Israel dari Mesir, Tuhan Allah menetapkan bahwa bangsa Israel harus memperingati hari raya Paskah dengan mengulang perjamuan makan yang sama dan mengadakan acara ibadah setiap tahunnya, sampai pada anak cucu mereka.
Tuhan juga menetapkan: setiap anak sulung baik manusia maupun hewan, harus diserahkan kepada Tuhan. Hewan ternak harus dipersembahkan sebagai korban, tetapi manusia harus diganti dengan tebusan yang dipersembahkan pada Tuhan.
Sabtu, 23 Agustus 2025
[18] Musa Diutus Oleh Allah (Keluaran 1-6)
Bangsa Israel Ditindas di Mesir
Bangsa Israel adalah keturunan dari Yakub. Keluarga Yakub pindah ke Mesir karena diajak oleh Yusuf, anak Yakub. Yusuf adalah penguasa Mesir yang sudah berjasa menyelamatkan Mesir dari bencana kelaparan.
Bangsa Israel beranak cucu dan jumlah mereka bertambah banyak, sehingga mereka sangat kuat dan tersebar di seluruh Mesir.
Beberapa generasi setelah Yusuf dan anak-anak Yakub meninggal, seorang raja baru yang tidak tahu apa-apa tentang jasa-jasa Yusuf mulai berkuasa atas seluruh Mesir.
Raja itu merasa takut bangsa Israel yang bertambah banyak akan mengalahkan bangsa Mesir. Maka ia memerintahkan agar bangsa Israel ditindas dengan kerja paksa.
Para mandor dan kepala budak ditempatkan untuk mengawasi bangsa Israel membangun kota Pitom dan kota Rameses, yang akan dijadikan sebagai pusat penyimpanan hasil panen dan harta benda raja Mesir.
Namun, semakin ditindas, jumlah bangsa Israel malah semakin bertambah dan semakin menyebar ke seluruh negeri itu. Hal itu membuat bangsa Mesir semakin takut kepada mereka.
Orang Mesir membuat hidup orang Israel semakin menderita: mereka dipaksa membuat batu bata, bekerja di ladang, dan melakukan segala macam pekerjaan yang sangat berat.
Raja Mesir juga sudah berusaha agar bayi laki-laki bangsa Israel yang baru lahir tidak dibiarkan hidup oleh para bidan, tetapi tidak berhasil. Oleh sebab itu, raja Mesir mengeluarkan perintah yang sangat kejam kepada seluruh rakyatnya. Ia berkata, “Setiap anak laki-laki yang lahir dari orang Israel harus dibuang ke sungai Nil, tetapi bayi perempuan boleh dibiarkan hidup.”
Bayi Musa Diselamatkan
Raja Mesir ketakutan melihat bangsa Israel yang semakin berkembang di Mesir. Karena meskipun sudah disiksa, jumlah mereka terus bertambah banyak.
Oleh sebab itu, raja Mesir mengeluarkan perintah yang sangat kejam kepada seluruh rakyatnya. Ia berkata, “Setiap anak laki-laki yang lahir dari orang Israel harus dibuang ke sungai Nil, tetapi bayi perempuan boleh dibiarkan hidup.”
Ada suami istri Israel dari suku Lewi bernama Amram dan Yokhebed.
Pada waktu raja Mesir sudah memberikan perintah tadi, Yokhebed melahirkan bayi laki-laki. Karena bayinya tampan, Yokhebed ibunya menyembunyikan bayi itu selama tiga bulan.
Ketika bayinya semakin besar, ia tidak bisa disembunyikan lebih lama lagi.
Yokhebed mengambil sebuah keranjang, lalu melapisinya dengan ter dan getah tanaman supaya bisa terapung. Kemudian dia membaringkan bayinya di dalam keranjang itu dan menyembunyikannya di antara alang-alang air yang tinggi di tepi sungai Nil. Miryam, kakak perempuan bayi itu, mengawasi adik bayinya dari kejauhan.
Lalu datanglah putri raja untuk mandi di sungai Nil, sementara para pelayan perempuannya berjalan-jalan di tepian sungai.
Putri raja melihat keranjang tadi di antara alang-alang air yang tinggi. Dia menyuruh salah satu pelayannya untuk mengambil keranjang itu. Ketika Putri raja membukanya, dia melihat bayi itu sedang menangis. Putri raja merasa kasihan terhadapnya dan berkata, “Pastilah ini bayi orang Israel.”
Kakak bayi itu yang sudah mengawasi dari jauh langsung mendekati putri raja dan bertanya, “Bolehkah saya mencarikan perempuan Israel yang dapat membantu Putri menyusui dan mengasuh bayi ini?”
Jawab putri raja, “Baiklah.” Maka kakak bayi itu pergi dan memanggil Yokhebed, ibu mereka.
Putri raja berkata kepada ibu itu, “Tolong bawa bayi ini, rawat dan susui dia. Aku akan membayar kamu untuk itu.” Jadi sang ibu membawa bayinya, lalu merawat dan menyusui dia.
Ketika masa menyusui anak itu selesai, ibunya membawa dia kembali kepada putri raja. Lalu putri raja mengangkat anak itu menjadi anaknya sendiri dan menamai dia Musa, karena katanya, “Aku sudah mengangkatnya dari air.”
Sabtu, 26 Juli 2025
[17] Keluarga Israel Pindah ke Mesir (Kejadian 46-50, Keluaran 1)
Yakub dan Seluruh Keluarganya Berangkat ke Mesir
Maka Yakub memulai perjalanan dari rumahnya di Hebron, tanah Kanaan, ke Mesir. Ia membawa semua keluarga dan harta yang dia miliki. Semua anak dan cucu Yakub yang ikut bersamanya ke Mesir berjumlah 66 orang, belum termasuk menantu-menantunya yang perempuan.
Ketika Yakub sampai di Bersyeba, dia mempersembahkan korban kepada Allah. Di situ Allah berbicara kepada Yakub.
Allah berkata, “Jangan takut untuk pergi ke Mesir. Di sana Aku akan membuat keturunanmu menjadi bangsa yang besar. Suatu hari nanti Aku juga akan membawa keturunanmu kembali ke Kanaan. Dan ketika kamu meninggal, Yusuf anakmu akan ada bersamamu.”
Dari Bersyeba Yakub melanjutkan perjalanan lagi menuju Mesir. Maka rombongan Yakub sampai di Mesir, di tanah Gosyen. Mengetahui ayahnya sudah sampai, Yusuf pergi dengan keretanya untuk menyambut Yakub ayahnya. Ketika Yusuf bertemu dengan Yakub, ayahnya, Yusuf memeluk Yakub dan menangis. Yakub berkata, “Sekarang aku bisa mati dengan tenang karena sudah melihat bahwa ternyata kamu masih hidup!”
Sesudah itu, Yusuf menyampaikan kepada Yakub dan keluarganya, “Sebentar lagi kalian akan menghadap Firaun raja Mesir. Kalau raja bertanya, ‘Apa pekerjaan kalian,’ kalian harus menjawab, ‘Kami menggembalakan hewan ternak.’ Dengan begitu, kalian akan diperbolehkan untuk tinggal di tanah Gosyen.”
Lalu Yusuf pergi menghadap raja Mesir dan melaporkan bahwa keluarganya sudah sampai di Gosyen. Firaun menyambut baik Yakub dan juga keluarganya. Ia juga mengizinkan Yakub dan keluarganya menggembalakan ternak di Gosyen.
Yusuf juga mengajak ayahnya menghadap raja, dan Yakub memberkati raja. Raja bertanya kepada Yakub, “Berapakah umurmu?”
Jawab Yakub, “Hambamu ini sudah menjalani hidup selama seratus tiga puluh tahun.”
Sebelum pamit, Yakub mengucapkan berkat perpisahan kepada raja.
Maka sejak saat itu Yakub, saudara-saudara Yusuf, dan keluarga besar mereka mulai menetap di tanah Gosyen di Mesir. Yusuf memberikan bahan makanan yang cukup untuk kebutuhan mereka.
Yakub, ditambah dengan keturunannya yang bersama-sama berangkat ke Mesir, dan ditambah juga dengan Yusuf dan kedua anaknya yang sudah lebih dulu di Mesir, semuanya ada 70 orang.
Yusuf Menghadapi Bencana Kelaparan di Mesir
Bencana kelaparan semakin memburuk. Di mana-mana tidak ada makanan, sehingga seluruh penduduk Mesir dan Kanaan menderita karena kelaparan.
Orang-orang Mesir dan Kanaan membeli bahan makanan dari Yusuf, dan uangnya menjadi pemasukan raja Mesir. Lama-lama semua uang milik warga Mesir dan Kanaan pun habis dipakai membeli makanan.
Orang-orang Mesir pun mendatangi Yusuf dan berkata, “Tuan, berilah kami makanan. Uang kami sudah habis. Apakah kami harus mati kelaparan?”
Yusuf menjawab, “Kalau kalian sudah tidak punya uang lagi, berikanlah hewan ternak kalian sebagai pembayaran.”
Maka rakyat membawa hewan ternak kepada Yusuf untuk ditukar dengan bahan makanan. Ada yang membawa kuda, keledai, sapi, kambing, ataupun domba.
Pada tahun berikutnya, rakyat kembali menghadap Yusuf dan berkata, “Tuan, sekarang uang kami sudah habis, dan semua hewan ternak kami juga sudah habis dan menjadi milik Tuan. Hanya tanah kami yang bisa kami jual untuk membeli makanan. Biarlah tanah kami menjadi milik raja, tetapi tolong berikan kami juga benih untuk ditanam.”
Maka Yusuf membeli semua tanah milik rakyat Mesir. Semua ladang pun menjadi milik raja Mesir. Lalu seluruh rakyat dijadikan budak yang dipekerjakan di ladang-ladang itu. Yusuf berkata kepada rakyatnya, “Sekarang ladang kalian adalah milik raja, dan kalian adalah budak yang bekerja untuk raja. Kalian harus menanam benih-benih yang aku berikan. Pada waktu panen nanti, dua puluh persen hasil panen harus diberikan kepada raja. Yang delapan puluh persen menjadi bahan makanan untuk kalian dan menjadi benih untuk ditanam lagi.”
Rakyat merasa sangat tertolong atas tindakan Yusuf dan berkata, “Tuan, terima kasih sudah menyelamatkan nyawa kami!”
Yakub Memberikan Pesan Terakhir dan Meninggal Dunia
Keluarga Israel yang menetap di wilayah Gosyen hidup dengan baik.
Yakub tinggal di Mesir selama tujuh belas tahun, sampai umurnya mencapai 147 tahun.
Yakub tahu bahwa sudah dekat waktunya ia akan meninggal.
Beberapa waktu kemudian, seseorang mengabarkan pada Yusuf, “Tuan, keadaan ayahmu semakin memburuk.”
Maka Yusuf mengajak kedua anaknya, Manasye dan Efraim, untuk mengunjungi Yakub.
Ketika Yusuf sudah datang, Yakub bangkit untuk duduk di tempat tidurnya karena ia ingin memberkati anak-anak Yusuf. Yusuf mengatur posisi kedua anaknya seperti kebiasaan pada waktu itu: anak sulungnya Manasye dekat tangan kanan Yakub dan anak bungsunya Efraim dekat tangan kiri Yakub.
Namun, Yakub malah mengulurkan tangan kanannya ke kepala Efraim anak bungsu Yusuf, dan mengulurkan tangan kirinya kepada Manasye anak sulung Yusuf, lalu mulai memberkati mereka.
Yusuf mengira Yakub tidak sengaja memberkati dengan tangan yang terbalik karena matanya sudah rabun.
Ketika Yusuf mau membalikkan lagi tangan Yakub, Yakub berkata, “Manasye kakaknya memang akan menjadi bangsa yang besar. Tetapi adiknya, Efraim akan menjadi bangsa yang lebih hebat.”
Yakub memanggil juga anak-anaknya untuk berkumpul lalu menyampaikan pesan, yaitu nubuat apa yang akan terjadi pada mereka di masa yang akan datang. Yakub juga memberkati mereka dengan berkat yang sesuai bagi mereka masing-masing.
Sesudah menyampaikan pesan-pesan terakhirnya, Yakub berbaring dan meninggal dunia.
Yusuf sangat sedih, ia menangis dan memeluk ayahnya. Yusuf memberi perintah agar tubuh Yakub diawetkan dengan rempah-rempah.
Masa berkabung atas kematian Yakub adalah selama tujuh puluh hari. Setelah masa berkabung selesai, Yusuf meminta izin kepada raja untuk pergi menguburkan Yakub di Kanaan.
Yusuf pergi menguburkan Yakub, beserta semua pejabat kerajaan dan pasukan dari Mesir dan juga semua anggota keluarga besar Yakub.
Sesuai permintaan Yakub ketika ia masih hidup, tubuh Yakub dikuburkan di gua yang ada di Makpela, dekat Hebron di Kanaan, yaitu kuburan keluarga Abraham, Ishak, dan Yakub.
Bangsa Israel Berkembang di Negeri Mesir
Sesudah menguburkan Yakub, Yusuf beserta saudara-saudaranya dan seluruh rombongan itu kembali ke Mesir.
Karena Yakub sudah tidak ada, kakak-kakak Yusuf berpikir, “Bagaimana kalau Yusuf masih menyimpan dendam atas semua perbuatan jahat yang dulu kita lakukan kepadanya?”
Maka kakak-kakak Yusuf sepakat untuk mengirim permohonan maaf kepada Yusuf. Maka menangislah Yusuf ketika menerima pesan itu. Saudara-saudaranya Yusuf juga datang langsung dan bersujud di hadapan Yusuf sambil berkata, “Kami ini adalah hambamu.”
Jawab Yusuf kepada saudara-saudaranya, “Jangan takut! Aku tidak berhak untuk menghakimi kalian karena aku bukan Allah. Dulu, kalian memang merencanakan hal yang jahat terhadapku. Tetapi sesungguhnya Allah memiliki rencana yang baik dalam kejadian itu, supaya banyak orang dapat diselamatkan, seperti yang sudah terjadi. Tidak ada yang perlu kalian takuti. Aku akan mencukupi kebutuhan kalian dan anak-anak kalian.” Demikianlah Yusuf menghibur dan menenangkan hati saudara-saudaranya.
Awalnya, keluarga Yakub atau Israel yang ada di Mesir hanya ada tujuh puluh orang. Setelah lewat masa kelaparan, Yusuf, saudara-saudaranya, bersama keluarga besar mereka tetap tinggal di Mesir. Mereka beranak cucu bahkan Yusuf sempat melihat cucu dan cicitnya.
Ketika sudah dekat waktunya Yusuf akan meninggal, Yusuf berkata kepada saudara-saudaranya, “Sebentar lagi aku akan mati, tetapi Allah akan menyertai kalian dan Allah akan memimpin kalian keluar dari Mesir untuk kembali ke tanah yang sudah dijanjikan-Nya kepada Abraham, Ishak, dan Yakub. Jadi, ketika kalian keluar dari Mesir untuk kembali ke Kanaan, kalian harus membawa tulang-tulangku untuk dikuburkan di Kanaan.”
Yusuf meninggal pada usia 110 tahun. Lalu jenazahnya diawetkan dan disimpan di Mesir dalam peti.
Setelah Yusuf, saudara-saudaranya, serta semua orang dari generasi mereka meninggal, keturunan Israel tetap hidup di tanah Gosyen selama ratusan tahun. Mereka terus beranak cucu dan jumlah mereka bertambah banyak. Mereka menjadi sebuah bangsa yang kuat dan tersebar di seluruh Mesir.