Jumat, 25 September 2020

#63 Penderitaan dan Kemenangan Ayub (Ayub 1-42)

Kira-kira pada tahun 2000 SM, di tanah Us hiduplah seseorang bernama Ayub.

Ayub itu saleh dan jujur, dia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.

Ayub memiliki 7 orang anak laki-laki, 3 orang anak perempuan, dan harta yang sangat banyak jumlahnya.

Suatu hari datanglah Iblis dari perjalanan menjelajahi bumi.

Allah bertanya apakah Iblis sudah melihat betapa salehnya hidup Ayub?

Iblis pun berkata bahwa ketaatan Ayub adalah hanya karena ia diberkati sedemikian luar biasa oleh Allah.

Maka Allah mengizinkan Iblis mengambil segala yang dimiliki Ayub.

Ayub pun kehilangan anak-anaknya, harta bendanya, dan bukan cuma itu, ia juga mengalami penyakit barah yang busuk pada kulitnya. Bahkan iman Ayub kepada Allah direndahkan oleh istrinya sendiri. Meskipun mengalami semua itu, Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya.

--

Mendengar musibah yang dialami Ayub, datanglah tiga orang sahabat Ayub untuk menghiburnya yaitu:

Elifas orang Teman, Bildad orang Suah, dan Zofar orang Naama.

Awalnya mereka menemani Ayub berkabung selama 7 hari 7 malam.

Tetapi setelah itu terjadi perdebatan karena sahabat-sahabat Ayub menuduh Ayub berbuat dosa dan semua penderitaan yang dialaminya adalah hukuman dari Tuhan. Karena menurut mereka tidak mungkin Tuhan mendatangkan penderitaan kepada orang yang tidak bersalah.

Tetapi Ayub membela diri dan berkata bahwa ia tidak berbuat kesalahan di hadapan Tuhan. Ayub pun merasa kesal kepada teman-temannya yang bukannya menghibur tetapi malah menyudutkan Ayub.

Karena tidak tahu bagaimana lagi harus menjelaskan kepada teman-temannya Ayub berkata bahwa ia ingin bertemu dengan Allah untuk mendapat jawaban, mengapa Allah membuat penderitaan ini menimpa dirinya. 

Ketiga teman Ayub akhirnya berhenti membantah Ayub karena Ayub yakin dirinya benar.

--

Maka tampillah Elihu bin Barakheel, orang Bus, seorang yang lebih muda untuk ikut berpendapat.

Elihu berkata bahwa Allah yang mengatur alam semesta ini terlalu besar dan pemikiran Allah tidak akan mungkin dipahami oleh manusia. 

Akhirnya Allah sendiri menjawab Ayub dalam badai. Allah menyatakan kebesaran-Nya sebagai pencipta yang mengatur dunia mulai hal terbesar sampai hal terkecil. 

Kemudian Allah menantang Ayub untuk menjawab. Ayub sadar bahwa sekalipun ia tidak bersalah, ia tetap tidak layak untuk membela diri di hadapan Allah. Maka, Ayub merendahkan diri di hadapan Allah.

Allah pun marah kepada tiga sahabat Ayub yang tidak berkata benar mengenai Allah. Allah mau mengampuni mereka setelah Ayub meminta doa untuk mereka.

Akhirnya Allah memulihkan keadaan Ayub. Allah memberikan kepada Ayub dua kali lipat dari segala kepunyaannya dahulu, dan memberkati Ayub lebih daripada dahulu.
Allah juga memberikan lagi tujuh orang anak laki-laki dan tiga orang anak perempuan kepada Ayub.

Bahkan sesudah itu Ayub masih hidup 140 tahun lagi dan akhirnya Ayub meninggal dalam keadaan tua dan lanjut umur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar