Raja Nebukadnezar membuat sebuah patung emas yang sangat besar. Semua pejabat negara Babel diundang pada acara peresmian patung itu. Dalam acara peresmian itu, diberikan titah yaitu: ketika semua orang mendengar suara musik, mereka harus sujud menyembah patung tersebut, dan yang tidak menyembah harus dimasukkan ke perapian yang menyala-nyala. Tetapi ketika suara musik diperdengarkan dan segala bangsa sujud menyembah patung emas raja Nebukadnezar, Sadrakh, Mesakh, dan Abednego tidak ikut menyembah patung itu. Hal itu lalu dilaporkan orang-orang pada raja Nebukadnezar
Raja memanggil Sadrakh, Mesakh, dan Abednego untuk menghadap dan memerintahkan mereka sekali lagi untuk sujud menyembah, jika tidak mau mereka akan dimasukkan ke dalam perapian yang menyala-nyala. Raja bahkan menantang memangnya ada dewa yang akan bisa melepaskan mereka dari tangan Raja Nebukadnezar yang begitu berkuasa?
Tetapi Sadrakh, Mesakh, dan Abednego tetap menolak. Jika Allah mereka sanggup melepaskan mereka, maka Ia akan melepaskan mereka dari perapian itu dan dari tangan raja. Tetapi seandainya tidak, mereka tetap tidak akan menyembah dewa ataupun patung emas yang didirikan raja Nebukadnezar.
Mendengar jawaban itu, raja sangat marah dan memasukkan mereka ke perapian, bahkan menyuruh agar perapian dibuat tujuh kali lebih panas. Karena sangat panasnya, nyala api itu membakar orang-orang yang mengangkat Sadrakh, Mesakh, dan Abednego ke atas perapian.
Setelah mereka bertiga masuk ke perapian, raja terkejut karena melihat ada empat orang yang berjalan-jalan di dalam perapian itu, dan orang keempat rupanya seperti anak dewa. Raja lalu menyuruh Sadrakh, Mesakh, dan Abednego keluar dan ternyata tubuh bahkan baju mereka tidak terbakar sedikitpun. Maka raja melepaskan Sadrakh, Mesakh, dan Abednego, dan memuliakan Allah mereka. Sadrakh, Mesakh, dan Abednego juga diberi kedudukan lebih tinggi di wilayah Babel.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar