Jumat, 25 Februari 2022

#131 Perumpamaan Tentang Penabur (Matius 13, Markus 4, Lukas 8)

Pada suatu kali Yesus mengajar di tepi danau dan orang banyak datang mendengarkan Yesus.

Yesus mengajar dengan perumpamaan. Perumpamaan adalah cerita yang tampaknya sederhana dan mudah dimengerti, namun sebenarnya mengandung kebenaran Illahi yang mendalam di baliknya. 

Demikian isi ajaran Yesus: "Ada seorang penabur keluar untuk menabur benih tanaman.

Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis.

Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, lalu benih itu tumbuh karena ada tanah. Tetapi karena tanahnya tipis, tanaman itu tidak berakar sehingga ketika matahari terbit, ia menjadi layu dan kering.

Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, sehingga ia terhimpit oleh semak yang semakin besar sampai mati.

Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu menjadi besar berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.

Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!"

Ketika Yesus sudah memisahkan diri dari orang banyak, murid-murid dan para pengikut Yesus bertanya: "Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan?"

Yesus menjelaskan bahwa meskipun banyak orang mendengar suatu ajaran, tetapi tidak semua akan memahami rahasia kebenaran Kerajaan Sorga di balik ajaran itu, karena pengetahuan itu hanya dikaruniakan kepada mereka yang memang rindu, mau membuka hati, mata, dan telinganya untuk Tuhan. Dan murid-murid Yesus adalah mereka yang berbahagia karena mereka diberi karunia untuk mengetahui kebenaran itu. 

Lalu Yesus menceritakan arti perumpamaan penabur itu:

Benih adalah firman tentang Kerajaan Sorga.

Benih yang ditaburkan di pinggir jalan dan dimakan burung artinya firman ditaburkan pada orang yang tidak mengerti, sehingga datanglah Iblis dan merampas kebenaran yang ditaburkan dalam hati orang itu. 

Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu artinya firman yang ditaburkan pada orang yang awalnya menerimanya dengan gembira, tetapi ia tidak sungguh-sungguh berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itu pun segera meninggalkan Tuhan.

Benih yang ditaburkan di tengah semak duri ialah firman yang awalnya diterima, tetapi kemudian kekuatiran dunia dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah.

Benih yang ditaburkan di tanah yang baik ialah firman yang diterima oleh orang yang mau mendengar dan mengerti, menyimpannya dalam hati dan bertekun untuk hidup di dalamnya. Karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang tiga puluh kali lipat."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar