Orang-orang Farisi mendengar bahwa Yesus sudah memberi jawaban yang tepat kepada orang-orang Saduki yang ingin menjebak-Nya, sehingga orang-orang Saduki itu terdiam. Orang-orang Farisi kembali berkumpul dan mencari cara untuk menyalahkan Yesus. Maka seorang ahli Taurat bertanya lagi untuk mencobai Yesus.
Ia berkata: "Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?"
Pertanyaan itu ditanyakan karena pada masa Tuhan Yesus, hukum Taurat yang awalnya berasal dari Allah sudah dikembangkan sedemikian rupa oleh pemuka agama Yahudi, sehingga aturan agama yang ada jadi sangat banyak, kurang lebih ada 600 aturan yang harus ditaati. Akibatnya, fokus ibadah dan kehidupan orang-orang bukan lagi kasih pada Allah dan sesama, melainkan bagaimana bisa terlihat menaati semua aturan itu dan dianggap suci.
Jawab Yesus: "Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi."
Yesus mengajarkan bahwa yang terpenting bukanlah berusaha menaati aturan yang banyak jumlahnya, melainkan memiliki kasih di hati kita. Ketika kita memiliki kasih, barulah ketaatan kita terhadap hukum dan aturan keagamaan akan berkenan kepada Allah.
Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: "Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan."
Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab ahli Taurat itu, dan Ia berkata kepadanya: "Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!"
Dan seorangpun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar