Selain orang Farisi dan orang Herodian pendukung Herodes, kelompok orang Saduki juga berusaha untuk mencari kesalahan Yesus. Sama seperti orang Farisi, ajaran orang Saduki juga berdasarkan pada kitab Taurat Musa. Tetapi bedanya, orang Saduki lebih fokus pada urusan duniawi seperti bisnis dan politik dibandingkan agama dan tradisi. Dari segi ajaran, orang Saduki tidak mempercayai adanya kebangkitan dan hidup kekal, dan tidak mempercayai dunia spiritual yaitu malaikat dan iblis, karena mereka tidak menemukan hal-hal itu tertulis di kitab Musa.
Orang Saduki datang kepada Yesus dan menanyakan pertanyaan ini:
"Guru, Musa dalam hukum Taurat mengatakan, bahwa jika seorang meninggal dengan tidak punya anak, saudaranya harus menikah dengan istri orang yang meninggal itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu.
Tetapi di antara kami ada tujuh orang bersaudara. Yang pertama punya istri, tetapi kemudian orang itu meninggal. Dan karena orang yang meninggal itu tidak mempunyai anak, istrinya menjadi istri saudaranya yang urutan kedua. Tetapi saudaranya yang urutan kedua itu juga meninggal sehingga istrinya menjadi istri saudaranya yang urutan ketiga. Demikian seterusnya sampai yang saudara urutan ketujuh.
Dan akhirnya, sesudah tujuh saudara itu meninggal, istri mereka juga meninggal. Siapakah di antara ketujuh orang itu yang menjadi suami perempuan itu pada hari kebangkitan? Sebab semasa hidup tujuh bersaudara itu sudah pernah menikah dengan perempuan itu."
Melalui pertanyaan itu, orang Saduki secara tidak langsung menunjukkan bahwa kebangkitan orang yang sudah meninggal itu tidak masuk akal. Mereka berpikir: semua manusia hidup dan mati dalam masa waktu yang berbeda-beda, jadi seandainya semuanya kembali bangkit dan hidup lagi bersama-sama, tentu akan terjadi kebingungan bagaimana nantinya hubungan mereka satu sama lain.
Yesus tahu bahwa maksud orang Saduki bertanya tentang cerita tujuh saudara bukan karena benar-benar ingin tahu jawabannya tapi ingin menantang apakah Yesus bisa menjelaskan tentang adanya kebangkitan dan hidup kekal dengan penjelasan yang masuk akal.
Yesus berkata pada orang Saduki: "Kamu sesat, sebab kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah. Pada waktu kebangkitan, orang-orang tidak kawin dan tidak dikawinkan, melainkan hidup seperti malaikat-malaikat, dan mereka adalah anak-anak Allah." Maksud Yesus adalah hubungan antar manusia saat kehidupan kekal bukan seperti hubungan mereka semasa hidup di dunia, tetapi akan berubah menjadi hubungan yang berfokus kepada Allah.
Lalu Yesus berkata lagi: "Tentang apakah ada kebangkitan orang mati, bukankah ada firman Allah dalam kitab Musa, dimana Allah berkata 'Akulah Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub'? Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup."
Yesus menunjukkan bahwa di kitab Musa yang dipercayai orang Saduki, ada kisah dimana Allah menampakkan diri pada Musa di semak duri dan memperkenalkan diri sebagai Allah Abraham, Ishak, dan Yakub. Padahal di saat itu, Abraham, Ishak, dan Yakub secara dunia sudah meninggal. Perkataan Allah menunjukkan di mata Allah saat itu mereka adalah orang-orang yang hidup, yang artinya setelah meninggal secara duniawi, mereka bangkit kembali.
Mendengar jawaban dari Yesus, orang banyak menjadi takjub dan beberapa ahli Taurat hanya bisa berkata: "Guru, jawab-Mu itu tepat sekali".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar