Part 1
Firaun Tetap Berkeras Hati
Meskipun Firaun sudah menolak permintaan izin bangsa Israel untuk pergi dari Mesir, Tuhan tetap mengutus Musa dan Harun kepada Firaun, Raja Mesir.
Allah berkata, "Katakan kepada raja Mesir untuk membiarkan umat Israel keluar dari negerinya.
Tetapi raja Mesir tetap tidak akan mendengarkanmu.
Maka Aku akan menjatuhkan hukuman berat kepada bangsa Mesir, dan sesudah itu Aku akan membawa umat-Ku keluar dari Mesir."
Lalu Musa dan Harun pergi lagi menghadap Firaun. Sebelumnya, Tuhan sudah berpesan pada Musa dan Harun untuk mengadakan mujizat di hadapan Firaun.
Musa dan Harun pun menghadap Firaun dan melakukan sesuai dengan yang diperintahkan TUHAN. Harun melemparkan tongkatnya di hadapan Firaun dan para pejabatnya, lalu tongkat itu berubah menjadi ular.
Tetapi raja Mesir memanggil orang-orang pintar serta para ahli sihir untuk menghadap, dan mereka juga bisa membuat tongkat berubah menjadi ular.
Namun tiba-tiba, ular dari tongkat Harun menelan semua ular para ahli sihir yang dipanggil Firaun.
Meski sudah melihat mujizat itu, Firaun tetap mengeraskan hatinya. Ia tidak mengizinkan bangsa Israel pergi dari Mesir, dan hal ini sesuai dengan apa sudah dikatakan TUHAN pada Musa.
Part 2
Tulah ke-1: Air Menjadi Darah
Kemudian TUHAN menyuruh Musa kembali kepada Firaun, raja Mesir, karena Tuhan akan mulai mendatangkan tulah kepada negeri Mesir. Tulah adalah bencana yang terjadi karena ketidaktaatan, yaitu karena Firaun masih tidak mau mengizinkan bangsa Israel pergi sesuai perintah Tuhan.
Musa dan Harun datang besok paginya ketika waktu biasanya Firaun sedang di tepi sungai Nil.
Musa berkata, “TUHAN sudah mengutus aku untuk menyampaikan kepadamu, agar bangsa Israel dibiarkan pergi beribadah pada Tuhan. Tapi kamu tidak mau mendengarkan. Jadi lihatlah! Aku akan memukul permukaan air sungai Nil dengan tongkat, dan airnya akan berubah menjadi darah.”
Di depan mata raja Mesir dan para pejabatnya, Harun mengangkat tongkatnya dan memukul air sungai Nil, maka semua air itu berubah menjadi darah. Maka matilah ikan-ikan di sungai Nil sehingga airnya berbau busuk dan orang Mesir tidak dapat meminumnya.
Di seluruh Mesir ada darah, termasuk di aliran air, kolam-kolam, dan tempat-tempat menyimpan air dari kayu dan batu.
Namun, para ahli sihir Mesir dengan keahlian mereka juga bisa mengubah air menjadi darah.
Karena itu raja Mesir tetap mengeraskan hatinya dan tidak mau mendengarkan Musa dan Harun, seperti yang sudah dikatakan TUHAN.
Raja pulang ke istananya tanpa menghiraukan bencana yang sudah terjadi.
Sementara itu, seluruh rakyat Mesir menggali-gali lubang di sepanjang sungai Nil untuk mencari air yang bisa diminum, karena mereka tidak dapat meminum air sungai itu.
Part 3
Tulah ke-2: Katak
Tujuh hari berlalu setelah Tuhan mengubah air di sungai Nil menjadi darah. Kemudian Tuhan menyuruh Musa kembali menghadap Firaun, raja Mesir.
Karena raja Mesir masih menolak membiarkan bangsa Israel pergi, Tuhan menyuruh Musa menyampaikan kepada Harun untuk mengulurkan tongkatnya ke atas sungai-sungai, aliran air, dan kolam, sehingga katak yang sangat banyak jumlahnya bermunculan memenuhi seluruh negeri Mesir.
Harun melakukan apa yang diperintahkan Tuhan, sehingga katak-katak bermunculan dan memenuhi seluruh negeri Mesir.
Tetapi, para ahli sihir Mesir juga bisa melakukan hal yang sama dengan keahlian mereka.
Maka raja Mesir memanggil Musa dan Harun dan berkata, “Mintalah kepada Tuhanmu itu untuk menghilangkan katak-katak ini, maka kalian akan aku izinkan pergi.”
Musa berjanji bahwa ia akan berdoa agar esok harinya, katak-katak itu sudah akan menyingkir dari Mesir.
Musa berdoa pada Tuhan, dan Tuhan mendengarkan doa Musa. Semua katak yang ada di Mesir pun mati.
Tulah ke-3: Nyamuk
Ketika raja Mesir melihat negeri mereka sudah bebas dari katak, ia kembali mengeraskan hati dan menolak membiarkan bangsa Israel pergi.
Tuhan memberi perintah pada Harun melalui Musa, “Angkatlah tongkatmu dan pukulkan ke tanah, maka debu akan berubah menjadi nyamuk yang memenuhi seluruh negeri Mesir.”
Maka Harun mengulurkan tongkat yang ada di tangannya dan memukulkannya ke tanah yang berdebu, maka semua debu di seluruh Mesir berubah menjadi nyamuk lalu menghinggapi semua orang dan binatang.
Para ahli sihir Mesir berusaha dengan seluruh kemampuan mereka untuk melakukan hal yang sama, tetapi mereka tidak dapat membuat nyamuk dari debu.
Para ahli sihir itu berkata kepada raja, “Ini pasti perbuatan Allahnya Musa dan Harun!”
Namun, seperti yang sudah TUHAN katakan sebelumnya, raja tetap bersikeras dan tidak mau membebaskan bangsa Israel.
Part 4
Tulah ke-4: Lalat
Maka Tuhan menyuruh lagi Musa menghadap Firaun, raja Mesir pagi-pagi ketika raja sedang turun ke sungai.
Karena raja Mesir tetap tidak mau membiarkan bangsa Israel pergi, Tuhan mengirimkan kerumunan lalat ke semua tempat di negeri Mesir. Semua rumah bahkan permukaan tanah di Mesir dipenuhi dengan lalat. Hanya satu tempat yang tidak ada lalat yaitu tanah Gosyen tempat tinggal bangsa Israel.
Maka raja Mesir memanggil Musa dan Harun lalu berkata, “Kalian boleh mempersembahkan korban bagi Allah kalian, tetapi di sini, di Mesir saja.”
Jawab Musa, “Tidak bisa, karena memberikan persembahan korban bagi Allah kami dipandang menjijikkan di mata orang Mesir. Apabila orang Mesir melihatnya, mereka pasti akan melempari kami dengan batu. Karena itu kami harus pergi ke padang gurun sejauh tiga hari perjalanan untuk melakukannya.”
Raja pun menjawab, “Kalau begitu kalian boleh pergi ke padang gurun, tetapi jangan pergi terlalu jauh.”
Lalu Musa berkata, “Baik. Sekarang aku akan berdoa kepada TUHAN agar besok kerumunan lalat ini menghilang.”
Tuhan mendengarkan doa Musa dan menghilangkan kerumunan lalat dari negeri Mesir.
Tulah ke-5: Penyakit Sampar pada Hewan Ternak
Setelah negeri Mesir bebas dari lalat, raja Mesir kembali mengeraskan hatinya dan tidak memperbolehkan bangsa Israel pergi.
Tuhan kembali menyuruh Musa untuk menyampaikan pada raja Mesir, bahwa karena ia tidak membiarkan bangsa Israel pergi, Tuhan akan mendatangkan penyakit sampar pada ternak orang Mesir.
Keesokan harinya, TUHAN menepati perkataan-Nya itu. Semua ternak milik orang Mesir mati, tetapi ternak orang Israel tidak ada yang mati.
Meskipun begitu, Raja Mesir tetap tidak membiarkan bangsa Israel pergi.
Tulah ke-6: Penyakit Barah
Lalu TUHAN berkata kepada Musa dan Harun, “Lemparkan abu ke udara di hadapan raja Mesir. Abu yang menyebar akan menyebabkan penyakit barah, yaitu bisul-bisul bernanah pada manusia dan hewan di seluruh Mesir.”
Musa dan Harun melakukan perintah Tuhan, maka semua orang dan binatang di Mesir menderita bisul-bisul bernanah di kulit mereka, bahkan ahli sihir Mesir tidak sanggup berdiri di hadapan Musa karena penyakit itu.
Meskipun begitu, raja Mesir tetap tidak mengizinkan bangsa Israel pergi dari negerinya.
Part 5
Tulah ke-7: Hujan Es
Musa kembali menghadap Firaun, Raja Mesir, sesuai perintah Tuhan. Musa berkata, “Karena engkau masih sombong dan tidak membiarkan umat Tuhan pergi, besok Tuhan akan menurunkan hujan es yang sangat dahsyat. Karena itu, orang dan hewan ternak kalian harus berlindung supaya tidak mati tertimpa hujan es dari langit!’”
Mendengar itu, ada orang Mesir yang takut pada perkataan Tuhan dan bersiap untuk berlindung, tapi ada juga yang tidak peduli.
Maka Tuhan menyuruh Musa mengarahkan tangannya ke langit, dan Tuhan menurunkan hujan es di seluruh tanah Mesir disertai petir yang menyambar-nyambar ke tanah. Hanya di Gosyen, tempat tinggal umat Israel, yang tidak terkena hujan es.
Lalu raja memanggil Musa dan Harun dan berkata, “Aku mengaku bersalah. Berdoalah supaya hujan es ini berhenti, dan bangsa kalian boleh pergi.”
Musa pergi dari tempat raja Mesir lalu ia mengangkat tangan kepada Tuhan, sehingga petir dan hujan es itu berhenti.
Tulah ke-8: Belalang
Melihat hujan es berhenti, raja Mesir kembali melarang umat Israel pergi.
Tuhan menyuruh Musa dan Harun lagi pada raja Mesir dan berkata bahwa Tuhan akan mendatangkan belalang ke seluruh negeri Mesir karena raja Mesir yang tidak mau tunduk pada perintah Tuhan.
Mendengar itu, para pejabat Mesir mulai membujuk raja untuk membiarkan bangsa Israel pergi agar negeri Mesir tidak semakin hancur.
Raja Mesir pun bertanya pada Musa dan Harun, “Siapa saja yang akan pergi?”
Jawab Musa, “Kami akan pergi membawa semua orang dan semua hewan ternak kami.”
Tetapi kata raja Mesir, “Tidak bisa! Hanya para laki-laki yang boleh pergi!”
Setelah itu Musa dan Harun diusir dari hadapan raja.
Karena raja Mesir menolak, maka Musa mengulurkan tongkatnya ke atas tanah Mesir. Datanglah angin timur bertiup dan membawa belalang yang sangat banyak.
Belalang-belalang menutupi seluruh permukaan tanah negeri Mesir, dan memakan habis semua tanaman dan buah-buahan pada pohon-pohon yang masih tersisa dari hujan es.
Melihat hal itu, raja Mesir segera memanggil Musa dan Harun dan meminta Musa menghilangkan belalang itu. Musa pergi dan berdoa sehingga angin barat bertiup membawa pergi semua belalang dari Mesir.
Tulah ke-9: Gelap Gulita
Tapi setelah itu, lagi-lagi Raja Mesir melarang umat Israel pergi dari Mesir.
Lalu Tuhan menyuruh Musa mengangkat tangannya ke langit.
Maka gelap gulita menyelimuti seluruh Mesir selama tiga hari.
Rakyat Mesir tidak dapat melihat satu sama lain dan tidak dapat pergi kemana-mana selama tiga hari. Tetapi di Gosyen, daerah umat Israel tinggal, tidak terjadi kegelapan seperti itu.
Raja Mesir memanggil Musa dan berkata, “Pergilah beribadah pada Tuhanmu. Perempuan-perempuan dan anak-anak kalian boleh ikut, tetapi semua hewan ternak kalian harus ditinggalkan di sini.”
Jawab Musa, “Engkau harus membiarkan kami membawa hewan ternak, karena hewan itu diperlukan sebagai korban bakaran kepada Tuhan.”
Raja pun menjadi marah dan berkata kepada Musa, “Pergi! Aku tidak mau bertemu denganmu lagi!”
Jawab Musa, “Baiklah! Memang kita tidak akan bertemu lagi!”
Part 6
Tulah ke-10: Kematian Anak Sulung
Tuhan kembali berbicara kepada Musa, “Masih ada satu tulah lagi yang akan Aku datangkan pada negeri Mesir. Sesudah itu, raja Mesir akan membiarkan kalian pergi.”
Kemudian Musa menghadap raja Mesir dan berkata, “Tengah malam nanti, Tuhan akan mengelilingi seluruh negeri Mesir. Maka setiap anak sulung, yaitu anak pertama di tiap keluarga, di negeri Mesir akan mati, baik manusia maupun hewan. Semua orang Mesir akan menangis dengan keras. Tetapi bangsa Israel akan tetap aman.
Maka kalian sendiri yang nanti memohon kepadaku, supaya aku membawa bangsa Israel pergi dari Mesir.” Setelah berkata begitu, dengan sangat marah Musa meninggalkan raja.
Tetapi raja Mesir tidak mempedulikan peringatan Musa, sesuai perkataan Tuhan sebelumnya.
Melalui Musa, Tuhan juga menyampaikan ketetapan tentang perayaan Paskah, yang harus disiapkan ketika bangsa Israel keluar dari Mesir:
Tiap keluarga orang Israel harus menyembelih anak kambing atau anak domba, lalu darahnya dioleskan pada kedua tiang pintu dan ambang atas pintu rumah mereka.
Lalu daging kambing atau domba itu harus dipanggang dan dimakan dengan roti tidak beragi dan sayur pahit, sebagai makanan perjamuan Paskah.
Pada malam itu, bangsa Israel harus sudah siap dengan pakaian untuk pergi jauh dan memakan jamuan Paskah itu dengan buru-buru.
Maka Tuhan akan berkeliling ke seluruh Mesir dan membuat semua anak sulung mati.
Tetapi rumah yang pintunya diolesi darah domba akan dilewati dan anak sulungnya akan selamat.
Bangsa Israel melakukan tepat seperti perintah Tuhan yang dikatakan Musa.
Maka benar saja, pada tengah malam Tuhan membuat semua anak sulung di Mesir mati, baik manusia maupun hewan ternak. Di setiap rumah ada suara tangisan yang keras karena kehilangan anak sulung. Tetapi di rumah orang Israel yang sudah ditandai dengan darah domba, tidak ada yang mati.
Malam itu juga, akhirnya raja Mesir mengizinkan bangsa Israel pergi. Ia memanggil Musa dan Harun lalu berkata, “Pergi! Bawalah semua orang dan hewan ternak bangsa Israel untuk menyembah Tuhan kalian, seperti yang kalian minta!”
Untuk memperingati hari kebebasan bangsa Israel dari Mesir, Tuhan Allah menetapkan bahwa bangsa Israel harus memperingati hari raya Paskah dengan mengulang perjamuan makan yang sama dan mengadakan acara ibadah setiap tahunnya, sampai pada anak cucu mereka.
Tuhan juga menetapkan: setiap anak sulung baik manusia maupun hewan, harus diserahkan kepada Tuhan. Hewan ternak harus dipersembahkan sebagai korban, tetapi manusia harus diganti dengan tebusan yang dipersembahkan pada Tuhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar