Sabtu, 23 Agustus 2025

[18] Musa Diutus Oleh Allah (Keluaran 1-6)

Bangsa Israel Ditindas di Mesir

Bangsa Israel adalah keturunan dari Yakub. Keluarga Yakub pindah ke Mesir karena diajak oleh Yusuf, anak Yakub. Yusuf adalah penguasa Mesir yang sudah berjasa menyelamatkan Mesir dari bencana kelaparan. 

Bangsa Israel beranak cucu dan jumlah mereka bertambah banyak, sehingga mereka sangat kuat dan tersebar di seluruh Mesir.

Beberapa generasi setelah Yusuf dan anak-anak Yakub meninggal, seorang raja baru yang tidak tahu apa-apa tentang jasa-jasa Yusuf mulai berkuasa atas seluruh Mesir.

Raja itu merasa takut bangsa Israel yang bertambah banyak akan mengalahkan bangsa Mesir. Maka ia memerintahkan agar bangsa Israel ditindas dengan kerja paksa.

Para mandor dan kepala budak ditempatkan untuk mengawasi bangsa Israel membangun kota Pitom dan kota Rameses, yang akan dijadikan sebagai pusat penyimpanan hasil panen dan harta benda raja Mesir. 

Namun, semakin ditindas, jumlah bangsa Israel malah semakin bertambah dan semakin menyebar ke seluruh negeri itu. Hal itu membuat bangsa Mesir semakin takut kepada mereka. 

Orang Mesir membuat hidup orang Israel semakin menderita: mereka dipaksa membuat batu bata, bekerja di ladang, dan melakukan segala macam pekerjaan yang sangat berat.

Raja Mesir juga sudah berusaha agar bayi laki-laki bangsa Israel yang baru lahir tidak dibiarkan hidup oleh para bidan, tetapi tidak berhasil. Oleh sebab itu, raja Mesir mengeluarkan perintah yang sangat kejam kepada seluruh rakyatnya. Ia berkata, “Setiap anak laki-laki yang lahir dari orang Israel harus dibuang ke sungai Nil, tetapi bayi perempuan boleh dibiarkan hidup.”


Bayi Musa Diselamatkan

Raja Mesir ketakutan melihat bangsa Israel yang semakin berkembang di Mesir. Karena meskipun sudah disiksa, jumlah mereka terus bertambah banyak. 

Oleh sebab itu, raja Mesir mengeluarkan perintah yang sangat kejam kepada seluruh rakyatnya. Ia berkata, “Setiap anak laki-laki yang lahir dari orang Israel harus dibuang ke sungai Nil, tetapi bayi perempuan boleh dibiarkan hidup.”

Ada suami istri Israel dari suku Lewi bernama Amram dan Yokhebed.

Pada waktu raja Mesir sudah memberikan perintah tadi, Yokhebed melahirkan bayi laki-laki. Karena bayinya tampan, Yokhebed ibunya menyembunyikan bayi itu selama tiga bulan. 

Ketika bayinya semakin besar, ia tidak bisa disembunyikan lebih lama lagi. 

Yokhebed mengambil sebuah keranjang, lalu melapisinya dengan ter dan getah tanaman supaya bisa terapung. Kemudian dia membaringkan bayinya di dalam keranjang itu dan menyembunyikannya di antara alang-alang air yang tinggi di tepi sungai Nil. Miryam, kakak perempuan bayi itu, mengawasi adik bayinya dari kejauhan.

Lalu datanglah putri raja untuk mandi di sungai Nil, sementara para pelayan perempuannya berjalan-jalan di tepian sungai. 

Putri raja melihat keranjang tadi di antara alang-alang air yang tinggi. Dia menyuruh salah satu pelayannya untuk mengambil keranjang itu. Ketika Putri raja membukanya, dia melihat bayi itu sedang menangis. Putri raja merasa kasihan terhadapnya dan berkata, “Pastilah ini bayi orang Israel.”

Kakak bayi itu yang sudah mengawasi dari jauh langsung mendekati putri raja dan bertanya, “Bolehkah saya mencarikan perempuan Israel yang dapat membantu Putri menyusui dan mengasuh bayi ini?”

Jawab putri raja, “Baiklah.” Maka kakak bayi itu pergi dan memanggil Yokhebed, ibu mereka.

Putri raja berkata kepada ibu itu, “Tolong bawa bayi ini, rawat dan susui dia. Aku akan membayar kamu untuk itu.” Jadi sang ibu membawa bayinya, lalu merawat dan menyusui dia.

Ketika masa menyusui anak itu selesai, ibunya membawa dia kembali kepada putri raja. Lalu putri raja mengangkat anak itu menjadi anaknya sendiri dan menamai dia Musa, karena katanya, “Aku sudah mengangkatnya dari air.”


Musa Melarikan Diri ke Midian

Musa adalah seorang anak bangsa Israel yang sudah diangkat menjadi anak putri Raja Mesir.

Pada suatu hari, ketika Musa sudah dewasa, dia pergi keluar dan melihat bangsa Israel yang sedang dianiaya dengan kerja paksa.

Tiba-tiba Musa melihat seorang Mesir sedang memukuli seorang Israel, saudara sebangsanya.

Diam-diam, Musa menyerang orang Mesir itu sehingga meninggal, lalu Musa menyembunyikan hal itu.

Keesokan harinya, Musa keluar lagi dan ketika ia menegur seorang Israel, orang Israel itu balas menegur Musa karena tahu bahwa Musa pernah membuat seorang Mesir mati.

Musa menjadi takut karena ia tahu bahwa semua orang sudah tahu perbuatannya. Bahkan raja Mesir mengeluarkan perintah untuk menangkap Musa.

Oleh karena itu, Musa segera melarikan diri ke Midian.

Di Midian, ada seorang imam bernama Rehuel yang punya tujuh anak perempuan. Waktu Musa sedang duduk dekat sumur, ketujuh anak perempuan Rehuel datang menimba air untuk hewan ternak mereka. Tiba-tiba beberapa gembala datang dan mengusir anak-anak Rehuel, tetapi Musa menolong mereka.

Anak-anak perempuan Rehuel menceritakan tentang Musa pada Rehuel, lalu Rehuel mengajak Musa untuk tinggal bersama mereka. Lalu Musa menikah dengan Zipora, salah satu anak perempuan Rehuel. Musa dan Zipora memiliki anak yang diberi nama Gersom, karena Musa berkata, "Aku telah menjadi pendatang di negeri asing."

Musa dipanggil oleh Allah

Meskipun Mesir sudah digantikan raja yang baru, bangsa Israel masih tetap ditindas sebagai budak oleh bangsa Mesir. Menghadapi penderitaan yang berat, bangsa Israel pun berseru kepada Allah.

Allah memulai rencana-Nya menolong bangsa Israel dengan memanggil Musa. Hari itu, Musa sedang menggembalakan kambing domba milik mertuanya sampai ke gunung Sinai, yang juga disebut ‘gunung Allah’.

Tiba-tiba Musa melihat ada nyala api di tengah-tengah semak.

Musa merasa heran, “Mengapa ada api tapi semak itu tidak terbakar?”

Ketika Musa mendekati semak itu, Allah berkata, “Musa, Musa!” 

Musa menjawab, “Ya, ini aku!”

Allah berkata, “Jangan mendekat! Lepaskan alas kakimu, karena tanah yang kamu injak itu suci.

Akulah Allah yang disembah oleh ayahmu, dan yang disembah oleh nenek moyangmu Abraham, Ishak, dan Yakub.” 

Musa menyembunyikan wajahnya karena takut melihat Allah.

Kata Allah kepada Musa, “Aku sudah melihat kesengsaraan umat-Ku di Mesir. Karena itu, Aku akan memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir menuju ke tanah yang baik, yaitu tanah Kanaan.

Sekarang, Aku mengutus kamu menghadap raja Mesir untuk membawa bangsa Israel keluar dari Mesir.”

Tetapi jawab Musa kepada Allah, “Tuhan, Aku ini bukan siapa-siapa! Bagaimana mungkin aku bisa melakukan itu?”

Jawab Allah, “Jangan takut, Aku akan menyertaimu. Setelah kamu membawa umat-Ku keluar dari Mesir, kalian akan menyembah-Ku di gunung ini.”

Musa menjawab, “Kalau bangsa Israel bertanya: siapa nama Allah yang mengutus aku, aku harus menjawab apa?”

Kata Allah kepada Musa, “Aku adalah Aku. Katakan pada bangsa Israel bahwa TUHAN, Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub, Allah nenek moyang bangsa Israel, yang sudah mengutus kamu.”

Allah menyuruh Musa, “Pergilah kepada Firaun Raja Mesir dan mintalah izin agar bangsa Israel pergi ke padang gurun tiga hari perjalanan jauhnya untuk mempersembahkan korban pada Allah. Tetapi Raja Mesir tidak akan membiarkan kalian begitu saja. Aku akan memakai kuasa-Ku untuk melakukan perbuatan ajaib, sesudah itu dia akan membiarkan kalian pergi.”

Allah Meneguhkan Panggilan Musa

Di gunung Sinai, Allah menampakkan diri kepada Musa sebagai nyala api di semak. Allah memanggil Musa untuk membawa bangsa Israel keluar dari Mesir dan menuju tanah Kanaan.

Tetapi Musa masih ragu menerima panggilan Allah. Musa berkata, “Bagaimana kalau umat Israel tidak percaya kepadaku?”

Kata Allah kepada Musa, “Apa yang ada di tanganmu?” Jawab Musa, “Tongkat.”

Lalu Allah berkata, “Lemparkanlah tongkat itu ke tanah.” Maka Musa melemparkan tongkatnya ke tanah, dan seketika tongkat itu berubah menjadi seekor ular. Musa pun lari menjauh.

Allah berkata kepada Musa, “Ulurkanlah tanganmu dan peganglah ekornya.” Musa mengulurkan tangannya dan menangkap ekor ular itu, lalu ular itu berubah kembali menjadi tongkat.

Allah berkata lagi kepada Musa, “Masukkanlah tanganmu ke dalam jubahmu.” Maka Musa memasukkan tangannya ke dalam jubahnya, dan ketika dia mengeluarkan tangannya, tampaklah tangannya terkena penyakit kusta.

Lalu Allah berkata lagi, “Masukkan kembali tanganmu ke dalam jubahmu.” Maka Musa pun memasukkan lagi tangannya ke dalam jubahnya, dan ketika dia mengeluarkan tangannya, tampaklah tangannya sudah pulih seperti semula.

Allah berkata, “Lakukanlah itu di depan bangsa Israel maka mereka akan percaya. Apabila mereka tidak mempercayai dua mujizat itu juga, ambillah air dari sungai Nil dan tumpahkanlah ke tanah. Air itu akan berubah menjadi darah.”

Tetapi Musa berkata, “Ya Allah, sejak dulu sampai sekarang aku ini tidak pandai berbicara.”

Kemudian Allah berkata, “Bukankah Aku yang menciptakan mulut dan membuat manusia bisa bicara? Pergilah sekarang! Aku akan menyertaimu ketika kamu berbicara.”

Tetapi Musa menjawab, “Ya Allah, mohon utuslah orang lain saja.”

Maka Allah menjadi marah kepada Musa dan berkata, “Harun kakakmu, adalah orang yang pandai berbicara. Kamu akan menyampaikan apa yang harus dia katakan, dan dia akan berbicara untukmu. Aku akan menolong kalian berdua. Harun sedang dalam perjalanan untuk menemuimu. Bawalah tongkatmu ini untuk melakukan mujizat.”

Maka Musa berpamitan kepada mertuanya, Rehuel yang disebut juga Yitro, untuk kembali ke Mesir. Musa berangkat membawa istri dan anak-anaknya di atas keledai. Musa juga membawa tongkatnya sesuai perintah Allah.

Allah juga berkata kepada Harun untuk pergi menemui Musa. Harun pergi menemui Musa di gunung Allah, lalu dia memeluk adiknya itu. Musa memberitahu Harun tentang segala perintah Allah kepada mereka.

Sesampainya di Mesir, Musa dan Harun mengumpulkan semua tua-tua umat Israel. Harun menyampaikan segala perkataan TUHAN, dan Musa melakukan mujizat-mujizat. Para tua-tua bangsa Israel pun percaya, dan mereka bersyukur kepada Allah.

Musa dan Harun menghadap raja Mesir

Ketika Musa berumur 80 tahun dan Harun berumur 83 tahun, mereka menghadap Firaun, raja Mesir untuk berbicara kepadanya. 

Kata Musa dan Harun, “TUHAN Allah Israel memberi perintah, ‘Biarkanlah umat-Ku pergi, agar mereka dapat mengadakan perayaan bagi-Ku di padang gurun.’

Sesuai perintah Tuhan itu, izinkanlah kami pergi ke padang gurun, tiga hari perjalanan jauhnya, untuk mempersembahkan korban bagi Tuhan Allah kami.”

Tetapi raja Mesir menjawab, “Siapakah ‘Tuhan’ itu sehingga aku harus mematuhi perintahnya? Aku tidak mengenal Dia, dan aku juga tidak membiarkan orang Israel pergi!

Bangsa Israel adalah budak, jumlah mereka sudah sangat banyak. Kalian tidak boleh membawa mereka pergi dan membuat mereka berhenti bekerja!”

Setelah itu Raja Mesir sengaja membuat penderitaan bangsa Israel tambah berat. 

Ia berkata kepada para mandor yang mengawasi pembangunan, “Para mandor, mulai sekarang, kalian tidak boleh memberikan jerami untuk membuat batu bata lagi kepada budak-budak itu. 

Budak-budak harus mencari jerami sendiri, tetapi jumlah batu bata yang mereka buat tidak boleh berkurang!

Para budak itu pemalas! Jadi, paksalah mereka bekerja lebih keras lagi!”

Semua mandor itu taat pada raja Mesir dan berkata kepada umat Israel, “Raja sudah menetapkan bahwa jerami untuk pembuatan batu bata tidak akan disediakan. Pergilah mencari jerami sendiri, tetapi kalian harus tetap menghasilkan batu bata sebanyak sebelumnya, tidak boleh berkurang sedikit pun!”

Jadi, bangsa Israel terpaksa menyebar untuk mencari jerami juga ke seluruh negeri Mesir, sehingga pekerjaan mereka bertambah lambat. 

Melihat itu, para mandor Mesir malah menekan dan memukuli mandor-mandor Israel, yang merupakan perwakilan pekerja Israel yang diberi tanggung jawab untuk mengawasi pekerjaan bangsanya.

Melihat bangsanya tidak mungkin memenuhi tuntutan raja Mesir, para mandor Israel menghadap raja Mesir dan memohon keringanan. 

Namun raja menjawab para mandor Israel, “Kalian memang pemalas! Karena itu kalian minta izin pergi mempersembahkan korban pada Tuhan kalian supaya kalian tidak bekerja!

Pergi dan kembalilah bekerja! Jerami tetap tidak akan disediakan untuk kalian!”

Sesudah pertemuan dengan raja Mesir, mandor-mandor Israel itu menemui Musa dan Harun yang sedang menunggu mereka keluar.

Kata mereka, “Gara-gara kalian, kami semakin dibenci oleh raja dan para pejabatnya, dan kami akan mati!”

Maka Musa kembali menghadap TUHAN dan berkata, “Ya Allah, mengapa Engkau menambah masalah kepada umat-Mu? Untuk apa Engkau mengutus aku?

Sejak aku menghadap raja, dia malah semakin keras menindas umat-Mu, dan Engkau tidak melakukan apa pun untuk menolong mereka!”

Lalu TUHAN berkata kepada Musa, “Sekarang kamu akan melihat apa yang akan Aku lakukan terhadap raja Mesir. Aku akan memaksanya untuk membiarkan umat-Ku pergi, dengan tangan yang kuat.

Akulah TUHAN. Aku sudah berjanji kepada Abraham, Ishak, dan Yakub untuk melepaskan keturunan mereka dari Mesir dan memberikan kepada keturunan mereka negeri Kanaan.”

Musa menyampaikan semua pesan itu kepada bangsa Israel, tetapi mereka tidak mau percaya, karena tertekan oleh perbudakan yang kejam. 

Kemudian TUHAN berkata kepada Musa, “Pergilah menghadap raja Mesir dan katakan kepadanya bahwa dia harus membiarkan umat Israel pergi dari negerinya.”

Musa menjawab, “Umat Israel saja tidak mendengarkan aku, apalagi raja Mesir!”

Meski demikian, TUHAN tetap mengutus Musa dan Harun kepada bangsa Israel dan kepada raja Mesir dengan perintah untuk memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar