Korban Persembahan
Setelah kemah suci berdiri, Allah memberi Musa arahan bagaimana cara mempersembahkan korban kepada Allah. Korban persembahan haruslah hewan ternak atau hasil panen yang terbaik, dan harus dibawa ke kemah suci untuk dipersembahkan melalui perantaraan para imam. Dalam kitab Imamat, Allah menetapkan lima jenis korban utama, yaitu:
1. Korban Bakaran (Olâh)
Berfungsi sebagai tanda penyerahan diri kepada Allah. Korban bakaran berupa hewan yang harus dibiarkan sampai terbakar habis di atas mezbah. Imam bertugas untuk menjaga api di mezbah tetap menyala dan tidak boleh padam.
2. Korban Sajian (Minchâh)
Merupakan bentuk syukur atas berkat Allah yang berupa hasil panen. Korban sajian berupa tepung, roti tak beragi, atau biji-bijian yang diolah dengan minyak dan kemenyan. Sebagian harus dibakar di mezbah dan sisanya menjadi bagian para imam.
3. Korban Keselamatan (Shelem)
Merupakan korban yang diberikan secara sukarela, sebagai rasa syukur, ataupun untuk menepati janji. Korban keselamatan berupa hewan dimana orang yang memberi persembahan dan imam akan memakan dagingnya bersama-sama, dan hanya bagian lemak yang dibakar untuk Tuhan.
4. Korban Penghapus Dosa (Chattâ’th)
Merupakan kewajiban bagi siapapun yang telah melakukan pelanggaran hukum Allah secara tidak sengaja supaya mereka mendapat pengampunan. Korban penghapus dosa berupa hewan, dimana imam harus melakukan ritual terhadap darah hewan itu, lalu setelah itu lemaknya dibakar di mezbah dan sebagian dagingnya menjadi bagian imam. Tetapi rakyat yang tidak mampu bisa juga memberikan korban penghapus dosa berupa tepung.
5. Korban Penebus Salah (Âshâm)
Merupakan kewajiban bagi siapapun yang melakukan pelanggaran yang menimbulkan kerugian materi, baik terhadap milik Tuhan maupun milik sesama manusia, supaya mendapat pengampunan. Korban penebus salah adalah hewan yang lemaknya dibakar dan sebagian dagingnya menjadi bagian imam. Orang yang bersalah juga harus membayar ganti rugi dengan ditambah seperlima.
Korban persembahan adalah cara bangsa Israel untuk dapat hidup bersekutu dengan Allah yang kudus. Korban persembahan bisa diberikan oleh rakyat biasa, imam, pemimpin, bahkan seluruh bangsa Israel secara bersama-sama.
Pentahbisan para Imam
Tuhan berkata pada Musa agar Harun dan anak-anaknya ditahbiskan sebagai imam.
Imam bertugas mewakili bangsa Israel ketika beribadah kepada Tuhan. Imam juga memberi berkat dan pengajaran pada bangsa Israel sebagai wakil Tuhan.
Sesuai perintah Tuhan, Musa mengumpulkan seluruh bangsa Israel di depan pintu Kemah Suci.
Musa membasuh Harun dan anak-anaknya dengan air sebagai tanda penyucian.
Lalu Musa memakaikan pakaian khusus imam besar kepada Harun. Musa juga mengurapi Kemah Suci dan segala isinya dengan minyak urapan. Musa juga menuangkan minyak urapan ke atas kepala Harun. Sedangkan kepada anak-anak Harun, Musa memakaikan baju panjang imam.
Kemudian Harun dan anak-anaknya mempersembahkan korban penghapus dosa, korban bakaran, dan korban pentahbisan. Darah dari korban pentahbisan itu diambil sedikit dan dioleskan Musa pada telinga kanan, ibu jari tangan kanan, dan ibu jari kaki kanan Harun dan anak-anaknya. Musa juga memercikkan campuran minyak urapan dan sedikit darah domba pada Harun dan anak-anaknya. Selama tujuh hari, Harun dan anak-anaknya tidak boleh meninggalkan Kemah Suci.
Pada hari kedelapan, Musa memanggil Harun dan anak-anaknya juga tua-tua bangsa Israel. Harun dan anak-anaknya harus mempersembahkan korban penghapus dosa dan korban bakaran bagi dirinya sendiri. Bangsa Israel juga harus mempersembahkan korban penghapus dosa, korban bakaran, korban keselamatan, dan korban sajian, dengan dipimpin oleh Harun dan anak-anaknya.
Sesudah Harun dan anak-anaknya mempersembahkan semua korban itu, Musa dan Harun masuk ke dalam Kemah Suci, lalu keluar dan memberkati bangsa Israel.
Tiba-tiba, kemuliaan Tuhan terlihat di depan bangsa Israel. Api Tuhan turun dari langit dan membakar habis korban di atas mezbah. Melihat hal itu, seluruh bangsa Israel bersorak-sorai dan sujud menyembah Tuhan.
Dosa Nadab dan Abihu
Nama anak-anak Harun yang sudah ditahbiskan menjadi imam adalah: Nadab, Abihu, Eleazar, dan Itamar.
Suatu hari, Nadab dan Abihu, masing-masing mengambil wadah pembakaran dupa dan mengisinya dengan bara api. Mereka lalu meletakkan dupa di atas bara itu dan mempersembahkannya di hadapan Tuhan. Namun, tindakan itu melanggar perintah Tuhan karena Tuhan tidak menyuruh hal itu dilakukan.
Maka keluarlah api menyambar dari hadapan Tuhan dan menghanguskan Nadab dan Abihu.
Melihat apa yang terjadi, Musa berkata kepada Harun, “Tuhan berfirman: kekudusan Tuhan harus dihormati.”
Harun hanya diam dan tidak mengatakan apa pun.
Maka Musa memerintahkan agar tubuh Nadab dan Abihu dibawa ke luar perkemahan. Tetapi Harun, Eleazar, dan Itamar tidak boleh menampakkan dukacita mereka seperti kebiasaan bangsa Israel, yaitu dengan mengoyakkan baju dan tidak menyisir rambut. Harun dan dua anaknya yang tersisa juga tidak boleh meninggalkan Kemah Suci. Karena urapan Tuhan sudah ada atas mereka.
Harun dan anak-anaknya melakukan tepat seperti yang diperintahkan Musa. Dengan demikian bangsa Israel mengetahui ketegasan hukum Tuhan, apalagi terhadap mereka yang tidak menghormati kemuliaan Tuhan.
Cara Hidup Bangsa yang Kudus
Melalui Musa dan Harun, Tuhan memberikan panduan agar bangsa Israel tahu cara hidup sebagai umat Tuhan yang kudus.
Tuhan mengatur apa saja yang boleh dan tidak boleh dimakan. Misalnya, bangsa Israel tidak boleh makan babi, udang, burung pemangsa, dan binatang-binatang haram lainnya. Aturan ini ada supaya bangsa Israel selalu ingat bahwa mereka berbeda dari bangsa lain
Bangsa Israel juga harus paham bahwa ada kondisi tertentu yang membuat seseorang menjadi najis. Najis adalah keadaan "tidak siap" untuk beribadah. Selama seseorang dalam kondisi najis, ada "jarak" yang harus dijaga, yaitu:
- Tidak boleh masuk ke tempat ibadah.
- Tidak boleh ikut dalam upacara persembahan korban.
- Harus membatasi berkumpul dengan orang banyak agar kenajisannya tidak menular ke orang lain atau barang-barang.
Beberapa hal yang bisa menyebabkan kondisi najis adalah:
- Menderita penyakit kulit seperti kusta atau penyakit pada alat reproduksi atau kelamin.
- Menyentuh atau mengubur orang meninggal.
- Wanita ketika melahirkan.
- Pria dan wanita ketika mengalami siklus alami tubuh dimana cairan keluar dari alat reproduksi atau kelamin mereka.
Ketika kondisi najis selesai, seseorang harus melewati proses pembersihan agar kembali menjadi tahir, yaitu siap beribadah lagi. Tuhan mengatur bermacam-macam cara pembersihan tergantung kondisi najisnya, di antaranya dengan mandi, mencuci baju, mencukur rambut, juga membawa korban persembahan kepada Tuhan. Untuk kondisi penyakit kusta, ia juga harus diperiksa dan dinyatakan tahir oleh imam.
Cara Hidup Bangsa yang Kudus (part 2)
Melalui Musa dan Harun, Tuhan mengajarkan bagaimana menjaga kekudusan dalam perilaku sehari-hari dan komitmen kepada Tuhan, supaya hidup bangsa Israel berbeda dari bangsa-bangsa lain yang belum mengenal Tuhan.
Bangsa Israel hanya boleh menyembah, mempersembahkan korban, atau melakukan ritual ibadah kepada Allah Israel, tidak boleh kepada berhala atau allah bangsa asing. Tempat mempersembahkan korban haruslah di Kemah Suci dan tidak boleh di tempat lain. Korban yang dipersembahkan juga tidak boleh binatang yang cacat.
Bangsa Israel juga dilarang memakan darah karena nyawa makhluk ada di dalam darahnya. Darah hanya dikhususkan untuk pendamaian dosa di atas mezbah.
Bangsa Israel juga harus menjaga kekudusan pernikahan suami dan istri, dan antara keluarga dekat tidak boleh saling menikah. Bangsa Israel juga harus menghormati ayah dan ibunya, juga orang-orang yang lebih tua.
Bangsa Israel juga harus mengasihi dan mau menolong apalagi kepada orang miskin. Bangsa Israel juga harus jujur, tidak boleh mencuri, dan bersikap adil kepada sesama manusia.
Bangsa Israel yang memiliki janji sukarela atau nazar kepada Tuhan juga harus menepatinya sesuai dengan harga yang ditetapkan. Begitu juga dengan persembahan persepuluhan harus dipersembahkan pada Tuhan dengan penuh tanggung jawab dan hormat.
Walaupun semua bangsa Israel harus hidup kudus, para imam memiliki aturan kekudusan yang lebih ketat karena mereka melayani langsung di hadirat Tuhan. Para imam tidak boleh menyentuh orang meninggal kecuali orang terdekat. Mereka juga tidak boleh menikah dengan janda. Imam yang bertugas mempersembahkan korban tidak boleh ada cacat pada tubuhnya, dan tidak boleh melayani dalam kondisi najis.
Hari Raya dan Tahun Khusus Bagi Tuhan
Tuhan mengatur waktu-waktu yang harus diingat dan dirayakan bangsa Israel.
Pertama ada hari Sabat, yaitu tiap hari ketujuh dalam satu minggu. Pada hari Sabat bangsa Israel mengingat bahwa Tuhan beristirahat pada hari ketujuh ketika menciptakan bumi, karena itu mereka juga berhenti dari segala pekerjaan dan mengadakan pertemuan ibadah yang kudus.
Lalu, dalam siklus tahunan, ada 7 hari raya yang diperingati bangsa Israel.
(1) Hari Raya Paskah dirayakan tiap tanggal 14 malam hari di bulan pertama. Pada hari Paskah, bangsa Israel mengingat malam ketika mereka selamat dari maut saat tulah ke-10 berlangsung di Mesir. Paskah diperingati dengan menyembelih dan makan daging domba Paskah.
Perayaan Paskah dilanjutkan dengan (2) Hari Raya Roti Tidak Beragi, yaitu tidak boleh makan roti beragi selama 7 hari dari tanggal 15 sampai 21 bulan pertama, untuk mengingat momen bangsa Israel keluar dari Mesir dengan terburu-buru.
Pada pertengahan bulan pertama, sesudah hari Sabat pada awal panen, ada (3) Hari Raya Hulu Hasil/ Buah Pertama untuk mengingat momen bangsa Israel masuk tanah Kanaan dan menikmati hasil tanah itu. Setiap tahun, seberkas hasil panen pertama harus diunjukkan imam kepada Tuhan sebelum boleh dimakan bangsa Israel.
Pada hari ke-50 atau 7 minggu setelah Hari Raya Hulu Hasil ada (4) Hari Raya Pentakosta yang menandai berakhirnya musim panen gandum. Bangsa Israel merayakannya dengan mengunjukkan dua roti yang baru bersama korban-korban lainnya dan mengadakan pertemuan jemaat yang kudus.
--
Pada bulan ketujuh tanggal 1 bangsa Israel mempersiapkan diri memasuki bulan yang paling suci dengan berhenti bekerja dan meniup serunai sepanjang hari pada (5) Hari Raya Meniup Serunai.
9 hari kemudian pada bulan ketujuh tanggal 10 ada (6) Hari Raya Pendamaian, hari paling kudus untuk penyucian dosa bangsa Israel. Ketika Hari Raya Pendamaian, bangsa Israel harus merendahkan diri dengan berpuasa dan tidak boleh bekerja. Imam Besar harus mempersembahkan korban bakaran dan korban penghapus dosa mewakili para imam dan bangsa Israel, lalu mengadakan pendamaian dengan memercikkan darah korban itu di dalam Ruang Mahakudus.
5 hari kemudian pada bulan ketujuh tanggal 15, selama tujuh hari bangsa Israel merayakan (7) Hari Raya Pondok Daun dengan tinggal di pondok-pondok untuk mengingat masa di mana mereka mengembara di padang gurun setelah keluar dari Mesir.
Tuhan juga mengatur tahun-tahun khusus yaitu: tiap tahun ketujuh menjadi Tahun Sabat, dimana tanah tidak boleh ditanami atau dituai. Apa yang tumbuh sendiri di tanah tersebut boleh dimakan oleh orang miskin dan hewan liar.
Lalu setiap tahun ke-50, setelah tujuh kali tahun Sabat, bangsa Israel harus memperingati Tahun Yobel atau tahun pembebasan, dengan cara meniup sangkakala, membebaskan budak-budak Israel, menghapuskan hutang, dan mengembalikan tanah pusaka yang pernah terjual kepada keluarga pemilik asalnya.
Janji Berkat dan Kutuk
Sebagai penutup utama dari hukum-hukum tersebut, Tuhan memberikan penegasan mengenai konsekuensi dari pilihan bangsa Israel.
* **Janji Berkat (ay. 1–13):** Jika bangsa Israel taat, Tuhan menjanjikan keamanan, kelimpahan hasil bumi, kemenangan atas musuh, dan janji bahwa Ia akan berjalan di tengah-tengah mereka.
* **Peringatan Kutuk (ay. 14–46):** Jika mereka sengaja memberontak dan melanggar perjanjian, mereka akan mengalami penderitaan dan pembuangan. Namun, jika mereka mau bertobat dan mengakui kesalahan, Tuhan berjanji tidak akan meninggalkan mereka karena Ia setia pada janji-Nya.
**Inti Pesan:** Seluruh aturan ini menunjukkan bahwa menjadi "kudus" berarti menyerahkan setiap bagian dari hidup kita—baik itu cara makan, cara bergaul, waktu kita, hingga janji-janji pribadi kita—untuk hidup sesuai dengan kehendak Tuhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar