Sabtu, 09 Juli 2022

[7] Allah Menjanjikan Keturunan Kepada Abraham (Kejadian 15-18)

Janji Allah tentang keturunan Abram

Kemudian datanglah firman TUHAN kepada Abram dalam suatu penglihatan: "Janganlah takut, Abram, Akulah perisaimu; upahmu akan sangat besar."

Abram menjawab: "Ya Tuhan ALLAH, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku? Engkau tidak memberikan kepadaku anak sebagai penerus keturunan, sehingga semua yang aku miliki akan jadi kepunyaan seorang hambaku sebagai ahli warisku setelah aku tidak ada."

Tetapi firman TUHAN: "Hambamu itu tidak akan menjadi ahli warismu. Anak kandungmu sendiri, dialah yang akan menjadi ahli warismu."

Lalu TUHAN membawa Abram ke luar serta berfirman: "Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya. Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu."

Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN menerima Abram sebagai orang benar.

Lagi firman TUHAN kepada Abram: "Akulah TUHAN, yang membawa engkau keluar dari Ur-Kasdim untuk memberikan negeri ini kepadamu menjadi milikmu."

Kata Abram: "Ya Tuhan ALLAH, dari manakah aku tahu, bahwa aku akan memiliki negeri ini?"

Firman TUHAN kepadanya: "Ambillah bagi-Ku seekor lembu betina berumur tiga tahun, seekor kambing betina berumur tiga tahun, seekor domba jantan berumur tiga tahun, seekor burung tekukur dan seekor anak burung merpati."

Abram mengambil semua hewan korban itu bagi TUHAN, lalu ia memotong dan menyusunnya.

Seharian Abram juga menjaga daging hewan itu dari burung-burung buas yang mengincarnya.

Menjelang matahari terbenam, tertidurlah Abram dengan nyenyak. Lalu turunlah gelap gulita yang mengerikan meliputi Abram.

Firman TUHAN kepada Abram: "Ketahuilah bahwa keturunanmu akan menjadi orang asing dalam suatu negeri, yang bukan kepunyaan mereka, dan bahwa mereka akan diperbudak dan dianiaya, empat ratus tahun lamanya.  
Tetapi bangsa yang akan memperbudak mereka, akan Kuhukum, dan sesudah itu mereka akan keluar dengan membawa harta benda yang banyak. 
Tetapi engkau akan pergi kepada nenek moyangmu dengan sejahtera; engkau akan dikuburkan pada waktu telah putih rambutmu.
Tetapi keturunanmu yaitu generasi yang keempat akan kembali ke sini, sebab sebelum itu kejahatan orang Amori itu belum genap untuk menerima hukuman."

Ketika matahari telah terbenam, dan hari menjadi gelap, maka kelihatanlah perapian yang berasap beserta suluh yang berapi lewat di antara potongan-potongan daging itu.

Pada hari itulah TUHAN mengadakan perjanjian dengan Abram serta berfirman: "Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini." 

Abram memiliki anak dari Hagar

Sarai, isteri Abram, tidak memiliki anak. Sarai mempunyai seorang hamba perempuan, orang Mesir, Hagar namanya.

Sarai berkata kepada Abram suaminya: "Engkau tahu, TUHAN tidak memberi aku melahirkan anak. Karena itu baiklah hampiri hambaku Hagar; mungkin oleh dialah aku dapat memiliki seorang anak." 

Dan Abram menuruti perkataan Sarai, singkat cerita Hagar pun menjadi isteri Abram. 

Ketika Hagar mengandung, ia jadi memandang rendah terhadap Sarai, nyonyanya, karena ia merasa bisa memberi anak pada Abram sementara Sarai tidak bisa. 

Sarai kesal lalu menindas Hagar. Karena tidak tahan ditindas, Hagar pun kabur sampai ke suatu mata air di padang gurun. 

Lalu Malaikat TUHAN menjumpainya dan bertanya: "Hagar, hamba Sarai, dari manakah engkau dan mau pergi ke mana?" 

Jawab Hagar: "Aku lari meninggalkan Sarai, nyonyaku."

Lalu kata Malaikat TUHAN itu kepada Hagar: "Kembalilah kepada nyonyamu, biarlah engkau ditindas. Aku akan membuat sangat banyak keturunanmu. 
Engkau akan melahirkan seorang anak laki-laki dan akan menamainya Ismael. Ia akan menjadi laki-laki yang seperti keledai liar, yaitu pemberani menentang siapa saja."

Lalu Hagar pun pulang ke tempat Sarai. Beberapa saat kemudian, Hagar melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abram ketika Abram berusia delapan puluh enam tahun, dan Abram menamai anak itu Ismael.

Sunat, tanda perjanjian

Ketika Abram berumur sembilan puluh sembilan tahun, maka TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman: "Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela.
Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau, dan Aku akan membuat engkau sangat banyak."

Lalu sujudlah Abram, dan Allah berfirman kepadanya: 
"Dari pihak-Ku, inilah perjanjian-Ku dengan engkau: Engkau akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa. 
Karena itu namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham, karena engkau telah Kutetapkan menjadi bapa sejumlah besar bangsa. 

Aku akan membuat engkau beranak cucu sangat banyak; keturunanmu akan menjadi bangsa-bangsa dan raja-raja. 
Aku akan mengadakan perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu. 

Kepadamu dan kepada keturunanmu juga akan Kuberikan seluruh tanah Kanaan ini." 

Lagi firman Allah kepada Abraham: "Dari pihakmu, engkau juga harus memegang perjanjian-Ku, engkau dan keturunanmu. Setiap laki-laki di antara kamu harus disunat. Anak yang berumur delapan hari haruslah disunat, yakni setiap laki-laki di antara kamu, turun-temurun."

Selanjutnya Allah berfirman kepada Abraham: "Tentang isterimu Sarai, janganlah engkau memanggil dia lagi Sarai, tetapi Sara, itulah namanya mulai saat ini.
Aku akan memberkatinya, dan dari padanya juga Aku akan memberikan kepadamu seorang anak laki-laki. Sarai akan menjadi ibu bangsa-bangsa dan juga raja-raja."

Lalu tertunduklah Abraham dan tertawa serta berkata dalam hatinya: "Masih mungkinkah aku yang berumur seratus tahun dan Sara yang telah berumur sembilan puluh tahun itu memiliki seorang anak?"

Abraham pun berkata kepada Allah: "Ah, sekiranya Ismael saja yang diberkati dengan janji itu!"

Tetapi Allah berfirman: "Tidak, melainkan isterimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak. Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan Ishak menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya.

Tentang Ismael; ia juga akan Kuberkati.

Tetapi perjanjian-Ku akan Kuadakan dengan Ishak, yaitu anak yang akan dilahirkan Sara bagimu tahun yang akan datang."

Sesudah itu naiklah Allah meninggalkan Abraham.

Maka pada hari itu juga Abraham, Ismael, dan seisi rumah Abraham disunat, sesuai dengan tanda perjanjian yang difirmankan Tuhan. 

Allah mengulangi janji memberikan anak laki-laki pada Abraham

Kemudian TUHAN menampakkan diri kepada Abraham dekat pohon tarbantin di Mamre. Saat Abraham sedang duduk di pintu kemahnya waktu hari panas terik, ia melihat tiga orang misterius berdiri di depannya. Mereka adalah Tuhan yang menjelma menjadi wujud manusia dengan ditemani 2 malaikat-Nya. 

Abraham segera berlari menyongsong 3 orang itu, lalu sujud sampai ke tanah. Ia  berkata: "Tuanku, jika aku telah mendapat kasih tuanku, janganlah kiranya melewati hambamu ini. 

Biarlah diambil air sedikit, basuhlah kaki tuan dan duduklah beristirahat di bawah pohon ini; 

Biarlah kuambil sepotong roti, supaya tuan-tuan segar kembali; setelah itu, bolehlah tuan-tuan meneruskan perjalanan."

Jawab 3 orang itu: "Perbuatlah seperti yang kaukatakan itu."

Lalu Abraham segera pergi ke kemah menemui Sara dan memintanya menyiapkan roti bundar.

Abraham juga menyiapkan hidangan dari daging anak lembu, dadih, dan susu. 

3 orang itu makan dari hidangan yang disiapkan Abraham, dan Abraham berdiri di dekat situ. 

Kata mereka kepada Abraham: "Di manakah Sara, isterimu?" Jawab Abraham: "Di sana, di dalam kemah." 

Firman Tuhan: "Sesungguhnya Aku akan kembali tahun depan, dan pada waktu itu Sara akan mempunyai seorang anak laki-laki."

Sara mendengarkan perkataan itu pada pintu kemah yang di belakang orang-orang itu. 

Mendengar kata-kata Tuhan itu, Sara tertawa dalam hatinya, karena saat itu Abraham dan Sara telah tua, dan Sara telah mati haid, sehingga secara jasmani tidak mungkin lagi punya anak. 

Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Abraham: "Mengapakah Sara tertawa dan berkata: Sungguhkah aku akan melahirkan anak, sedangkan aku telah tua?

Adakah sesuatu yang mustahil untuk TUHAN?

Sesungguhnya tahun depan, Sara akan mempunyai seorang anak laki-laki."

Lalu Sara membantah, katanya: "Aku tidak tertawa," sebab ia takut; 

tetapi TUHAN yang tahu isi hati Sara berfirman: "Tidak, memang engkau tertawa!" 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar