Jumat, 27 Juni 2025

[16] Yusuf Mengampuni Saudara-Saudaranya (Kejadian 42-45)

Kakak-kakak Yusuf Membeli Gandum ke Mesir

Setelah masa 7 tahun kelimpahan, tibalah masa 7 tahun kelaparan.

Ketika Yakub mendengar ada persediaan gandum di Mesir, dia menyuruh anak-anaknya membeli gandum di Mesir.

Tetapi Yakub tidak mengizinkan Benyamin, adik Yusuf, untuk ikut karena Yakub takut terjadi apa-apa pada Benyamin.

Maka kesepuluh anak Yakub berangkat bersama para pembeli gandum lainnya dari Kanaan ke Mesir.

Pada waktu itu, Yusuf adalah pejabat tertinggi di Mesir dan dialah yang berkuasa untuk menjual gandum kepada semua orang. Ketika Yusuf melihat kakak-kakaknya, Yusuf mengenali mereka. Tetapi kakak-kakak Yusuf tidak mengenali Yusuf karena penampilan Yusuf sudah berubah.

Kakak-kakak Yusuf datang dan bersujud untuk menghormati Yusuf. Tetapi Yusuf sengaja pura-pura tidak kenal pada mereka. 

Yusuf berkata, “Dari mana kalian?!” 

Kakak-kakak Yusuf menjawab, “Kami datang dari Kanaan hendak membeli gandum.”

Saat itu, Yusuf teringat pada mimpinya dulu tentang mereka. Lalu Yusuf berkata, “Kalian ini mata-mata musuh yang menyusup ke sini!”

Jawab kakak-kakak Yusuf, “Tidak, Tuan! Kami datang hanya untuk membeli bahan makanan!”

Karena Yusuf tetap menuduh mereka, kakak-kakak Yusuf menjelaskan asal usul mereka, “Kami ini kakak beradik dari satu ayah, semuanya ada dua belas laki-laki. Satu orang sudah tidak ada lagi, dan adik bungsu kami masih ada bersama ayah kami.”

Yusuf pun berkata, “Kalau perkataan kalian memang benar, kalian harus menjemput adik kalian yang bungsu dan membawanya ke sini."

Lalu Yusuf memasukkan kakak-kakaknya ke dalam penjara. Setelah tiga hari, Yusuf berkata kepada mereka, “Salah satu dari kalian tetap ditahan. Tetapi yang lainnya boleh pulang membawa gandum untuk keluarga kalian. Setelah itu, bawalah adik bungsu kalian kepadaku. Kalau cerita kalian benar, kalian tidak akan dihukum mati.” 

Kakak-kakak Yusuf pun setuju. Mereka berkata satu sama lain, “Sekarang Tuhan menghukum kita, kita mengalami semua ini karena kesalahan kita pada adik kita Yusuf.”

Kakak-kakak Yusuf tidak tahu bahwa Yusuf mengerti bahasa percakapan mereka. Mendengar semuanya itu, Yusuf memisahkan diri dan menangis. 

Yusuf memerintahkan agar satu orang yang ditahan di Mesir adalah Simeon. 

Karung-karung milik kakak-kakak Yusuf pun diisi gandum. Diam-diam Yusuf juga menyuruh pekerjanya agar memasukkan uang pembayaran gandum kembali ke dalam karung-karung mereka. Karung-karung itu dinaikkan ke atas punggung keledai-keledai yang dibawa kakak-kakak Yusuf, dan mereka pulang kembali ke Kanaan.

Setelah mereka sampai di rumah, kakak-kakak Yusuf menemukan semua uang pembayaran gandum ternyata sudah dikembalikan di dalam karung-karung mereka. Yakub dan kakak-kakak Yusuf pun menjadi takut dan gelisah.

Kakak-kakak Yusuf juga menceritakan kepada Yakub semua yang sudah terjadi. Mereka menjelaskan bahwa mereka dicurigai sebagai mata-mata musuh dan Simeon ditahan. Mereka harus membawa Benyamin ke Mesir agar Simeon dibebaskan.

Lalu berkatalah Yakub, “Apa kalian mau aku kehilangan semua anakku?! Yusuf sudah mati, Simeon tidak kembali, dan sekarang kalian akan mengambil Benyamin dariku!”

Ruben menjawab, “Aku akan bertanggung jawab penuh atas Benyamin. Kalau terjadi apa-apa pada Benyamin,  Ayah boleh menghukum kedua anak laki-lakiku!”

Tetapi saat itu Yakub tetap tidak mau mengizinkan Benyamin pergi.


Kakak-kakak Yusuf Kembali Lagi ke Mesir

Bencana kelaparan semakin parah di negeri Kanaan. Maka lama-lama persediaan makanan Yakub dan keluarganya habis juga. Yakub kembali menyuruh anak-anaknya pergi ke Mesir membeli bahan makanan.

Tetapi Yehuda berkata, “Kalau Ayah mengizinkan Benyamin ikut, kami akan segera berangkat untuk membeli gandum.”

Kata Yakub, “Mengapa kalian memberitahu penguasa Mesir itu bahwa kalian masih punya adik?”

Jawab mereka, “Orang itu menanyai kami mengenai siapa kami sebenarnya. Kami tidak menyangka kalau dia akan menyuruh kami membawa Benyamin!”

Yehuda pun berkata, “Izinkanlah Benyamin. Jika Benyamin tidak pulang dengan selamat, biar aku yang menanggung kesalahan seumur hidupku. Kalau kita tidak pergi, kita semua akan mati kelaparan.”

Akhirnya Yakub mengizinkan mereka, “Kalau begitu bawalah hadiah terbaik untuk penguasa Mesir itu. Bawalah juga uang dua kali lipat pengganti uang yang kemarin tertinggal di karung kalian. Semoga Allah membuat penguasa Mesir itu berbelas kasihan pada kalian.”

Maka mereka berangkat bersama Benyamin ke Mesir. Setibanya di sana, mereka datang menghadap Yusuf.

Ketika Yusuf melihat Benyamin mereka, dia segera menyuruh kepala pengurus rumahnya, “Bawalah orang-orang ini ke rumahku. Siang ini mereka akan makan bersamaku.”

Tetapi kakak-kakaknya ketakutan saat dibawa ke rumah Yusuf. Mereka mengira mereka berbuat salah dan meminta maaf atas uang pembayaran gandum yang sebelumnya tertinggal. 

Tetapi kepala pengurus rumah itu menenangkan saudara-saudara Yusuf, ia juga membebaskan Simeon dan melayani saudara-saudara Yusuf dengan baik. 

Ketika Yusuf pulang, kakak-kakak Yusuf menyerahkan hadiah yang mereka bawa lalu bersujud untuk menghormati Yusuf.

Ketika Yusuf melihat Benyamin, dia berkata, “Inikah adik yang pernah kalian ceritakan?”

Yusuf berkata pada Benyamin, “Semoga Allah memberkatimu.”

Tetapi Yusuf tidak dapat menahan perasaan sayang dan rindu kepada adiknya. Jadi dia cepat-cepat masuk ke kamarnya dan menangis.

Sesudah mencuci muka, Yusuf pun keluar dan menyuruh agar makan siang dihidangkan.

Para pelayan Yusuf sudah menyediakan meja makan untuk Yusuf, untuk orang-orang Mesir, juga meja untuk saudara-saudara Yusuf. Tempat duduk saudara-saudara Yusuf sudah diatur menurut urutan kelahiran, mulai dari yang tertua sampai yang termuda, sehingga saudara-saudara Yusuf heran bagaimana caranya orang Mesir tahu urutan kelahiran keluarga mereka.

Lalu makanan dari meja Yusuf disajikan kepada saudara-saudara Yusuf. Tetapi Benyamin mendapat lima kali lebih banyak. Yusuf dan saudara-saudaranya bersukaria bersama menikmati makan dan minum.


Yusuf Mengungkap Siapa Dirinya kepada Saudara-saudaranya

Sesudah makan, Yusuf menyuruh pengurus rumahnya untuk mengisi karung saudara-saudaranya dengan gandum, juga mengembalikan uang pembayaran ke dalam karung.

Khusus untuk karung milik Benyamin, Yusuf menyuruh dimasukkan juga cawan perak milik Yusuf. 

Keesokan harinya, waktu masih subuh, saudara-saudara Yusuf berangkat dengan keledai mereka.

Tetapi baru saja mereka keluar dari kota itu, Yusuf berkata kepada kepala pengurus rumahnya untuk mengejar saudara-saudaranya, dan menuduh mereka mencuri cawan peraknya.

Kepala pengurus rumah itu pun mengejar mereka, lalu berkata sesuai perintah Yusuf, “Tuan kami sudah sangat baik kepada kalian, tetapi kalian malah mencuri cawan peraknya!”

Tetapi jawab saudara-saudara Yusuf kepadanya, “Hamba-hambamu ini tidak mungkin melakukan hal jahat seperti itu! Bila Tuan menemukan benda itu di dalam salah satu karung kami, biarlah pemilik karung itu dihukum mati dan kami yang lain dijadikan budak Tuan.”

Kepala pengurus rumah Yusuf berkata, “Baiklah, tetapi pemilik karung yang berisi cawan itu saja yang harus dihukum dijadikan budak, sedangkan yang lainnya boleh pergi.”

Mereka segera menurunkan karung-karungnya dari keledai masing-masing dan membukanya. Ternyata cawan perak itu ditemukan di dalam karung milik Benyamin.

Maka saudara-saudara Yusuf kembali lagi menghadap Yusuf. Mereka sangat ketakutan.

Berkatalah Yusuf kepada mereka, “Apa-apaan perbuatanmu itu!”

Lalu Yehuda menjawab, “Tuan, biarlah kami semua menjadi budak Tuan.”

Jawab Yusuf, “Tidak! Orang yang di dalam karungnya ditemukan cawan perak milikku, hanya dia yang akan menjadi budakku.”

Karena tahu Benyamin akan dijadikan budak, Yehuda mendekat dan berkata kepada Yusuf, “Tuan, mohon izinkan saya berbicara. Kami memiliki ayah yang sudah tua. Dalam masa tuanya, dia mendapat dua anak. Yang satu sudah meninggal, dan sekarang tinggal yang bungsu. Itu sebabnya ayah kami sangat menyayangi adik bungsu kami. Sebelum ke sini, aku sudah berjanji kalau terjadi apa-apa pada adik kami, aku yang akan menanggung kesalahan itu. Karena itu, biar aku saja yang menggantikan adikku sebagai budak, dan izinkanlah adikku pulang.”

Yusuf tidak mampu lagi menahan perasaannya, maka disuruhnya semua pelayannya untuk keluar ruangan. 

Lalu Yusuf berkata pada saudara-saudaranya, “Ini aku, Yusuf! Benarkah bapa masih hidup?” 

Tetapi saudara-saudaranya hanya bisa diam karena terkejut dan takut.

Berkatalah Yusuf kepada saudara-saudaranya, “Aku Yusuf, saudara kalian, yang kalian jual kepada para pedagang yang waktu itu sedang menuju Mesir. Sesungguhnya Allah yang sudah mengatur agar aku sampai di sini, untuk dapat menyelamatkan banyak orang.”


Keluarga Yusuf Diundang ke Mesir

Sesudah Yusuf mengungkapkan siapa dirinya, Yusuf berkata lagi, “Bencana kelaparan sudah dua tahun dan masih akan berlangsung lima tahun lagi. Segeralah katakan pada ayah supaya membawa seluruh keluarga kita datang ke Mesir, untuk tinggal di daerah Gosyen. Aku akan mencukupi semua kebutuhan keluarga kita.”

Lalu Yusuf dan adiknya Benyamin saling berpelukan dan keduanya menangis. Yusuf juga mencium dan memeluk kakak-kakaknya sambil menangis. Sesudah itu, Yusuf bercakap-cakap dengan saudara-saudaranya.

Berita tentang kedatangan saudara-saudara Yusuf terdengar sampai ke istana. Raja Firaun dan semua pejabatnya turut senang. Bahkan raja sendiri menyuruh Yusuf untuk mengajak seluruh keluarga Yusuf pindah ke Mesir, dan akan diberikan tanah yang terbaik. 

Sesuai perintah raja, anak-anak Yakub pun pulang ke Kanaan. Yusuf membawakan beberapa kereta untuk menjemput ayahnya dan keluarganya, juga banyak hadiah dan bahan makanan untuk bekal perjalanan Yakub sampai Mesir. Yusuf juga memberikan pakaian kepada semua semua saudaranya. 

Setibanya di rumah mereka, saudara-saudara Yusuf bercerita pada Yakub, “Yusuf masih hidup! Dia sudah menjadi penguasa atas seluruh Mesir!” Mendengar berita itu, Yakub terkejut dan tidak langsung percaya.

Tetapi ketika saudara-saudara Yusuf menyampaikan pesan Yusuf dan melihat kereta-kereta yang dikirim Yusuf untuk menjemputnya, Yakub kembali bersemangat. Ia berkata, “Anakku Yusuf masih hidup! Aku ingin bertemu dengannya sebelum aku mati.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar